"Annyeong!"
Seorang wanita berkulit seputih susu berdiri di depan pintu kamar. Penampilannya sangat berbeda karena memiliki rambut mencolok berwarna ash purple. Sunggingan lebar pada bibirnya membuat mata monolid-nya menyipit manis.
"Sejak kapan kamu balik ke Indo?" semprot Iman.
Wanita itu mengamati Iman dan Melati secara bergantian. Ia lantas menyeringai jail.
"Rambut kalian sama-sama basah," ledeknya. "Abis ngent0t, ya?"
Melati seketika membeliak.
Ucapan sepupu Iman itu tak semulus wajahnya yang bak porselin.
"Heh!" sentak Iman. "Sopan dikit, ya"
"Ah, seperti sama siapa saja sok sopan segala!" dengkusnya. "Dari dulu aku begini, ini, Sudirman!"
"Sudirman?!" Iman tidak terima.
"Eh, ngomong-ngomong—" Ia menengok ke arah Melati. "Kamu Melati, bukan? Istri barunya Sudirman? Kenalin, aku Ariella."
"H-halo," balas Melati canggung.
"Cantik sekali, kamu," puji Ariella. "Kok mau-maunya, sih, sama kecoak macam Sudirman?"
Iman makin melotot. "Kecoak katamu?!"
Melati dan Ariella kompak cekikikan.
"Tuh, Man, istrimu saja tidak sensi. Kamu memang sensitif dan tidak bisa diajak bercanda!" kelakar Ariella.
Iman menarik stool di depan kitchen counter table. Ia lalu duduk di sana. "Tujuanmu ke sini apa, huh? Mengganggu saja."
"Aku lapar, mau minta makan." Ariella mengambil tempat di sisi Iman.
"Dasar gembel!" ejek Iman. "Ah!" Ia lantas teringat sesuatu. "Berarti om dan tante juga sudah pulang?"
Ariella menggeleng. "Belum, dua ABG tua itu masih di Korea, dan aku muak dengan segala tingkah mereka," sungutnya. "Mama berulang kali berkunjung ke apartemenku; menceramahiku soal kehidupan, dan rencana perjodohan. Makanya, aku mending kabur ke sini. Negara di mana mereka tidak ada."
Iman mendecak frustrasi.
"Lalu, kalau mereka kembali ke Surabaya, kamu bakalan minggat lagi ke Korea?"
Ariella meringis seraya mengangguk.
"Dasar orang aneh," gumam Iman. "Orang tuamu itu orang tua idaman, romantis dan punya pemikiran terbuka. Tidak seperti mami dan papi yang konvensional dan kaku."
Ariella tersungging. "Silakan saja kalau ingin bertukar orang tua," kekehnya. "Aku lebih suka punya orang tua yang konvensional dan kaku seperti om Bimo dan tante Farah. Ketimbang orangtuaku; yang satu gemar pacaran sana-sini dengan gadis muda, sementara yang satunya hobi pencitraan sebagai istri serta ibu sempurna."
Iman berdeham. "Ariella," tegurnya.
Ariella tersadar kalau dia tak sedang berdua saja dengan sepupunya. Ia sontak menoleh pada Melati sambil melempar tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGARBABY
RomansaA dark romance story about marriage contract. (21+) bijaklah memilih bacaan yang sesuai dengan umur ♡ Iman yang masih ingin bersenang-senang selepas bercerai, memaksa seorang Sugarbaby cantik dan seksi untuk menjadi istrinya. Akan tetapi, seiring wa...
