Pesawat yang melandas di bandara Juanda mempertegas Melati bahwa bulan madu kilatnya bersama Iman telah berakhir. Kenyataan bahwa statusnya telah berubah menjadi seorang istri membuat perasaan Melati berkecamuk. Tidak hanya membohongi keluarga Iman serta keluarganya, Melati juga telah bermain-main terhadap sumpahnya di hadapan Tuhan.
"Mel," tegur Iman.
Langkah Melati pun melambat. Ia dan Iman berjalan bersama menuju pintu keluar terminal kedatangan. "Kenapa?" tanyanya.
"Aku akan cari waktu untuk kembali mengajakmu ke Bali," ujar Iman.
Melati terkesiap. "Maksudnya?"
"Liburan kita memang terlalu singkat. Selain itu, aku kurang memberikan kesan yang baik untukmu. Aku ingin menebusnya."
Sudut bibir Melati menggaris lengkung. "Beneran?" Ia memastikan.
"Seharusnya aku mengajakmu berkeliling. Pergi ke tempat-tempat indah yang ada di Bali. Maafkan aku, ya?" Iman mengiba.
Jantung Melati berdebar hebat ketika matanya dan Iman bertumbukan. Sejenak, Melati terlena akan segala ucapan yang Iman lontarkan. Iman berjanji akan membawanya ke Bali lagi, kali ini lebih lama. Melati seketika merona.
Namun, senyum yang semula mengukir, mendadak lenyap begitu saja. Melati ingat, Iman memang tipikal lelaki yang gemar berkata-kata manis pada setiap wanita. Obrolan Iman kala menelepon Sara membekas jelas di benak Melati. Belum lagi kemesraan keduanya ketika Sara memutuskan kembali untuk membawakan kunci handcuff yang sengaja ia sembunyikan.
"Nggak usah," sahut Melati. "Kamu nggak perlu ngajakin aku ke Bali segala."
"Lho, kok gitu, Mel?" Iman mengernyit.
"Mending kamu buruan cari wanita yang bisa memuaskanmu, sementara, biarkan aku jalan-jalan sendiri ke mana pun yang aku mau. Begitu, kan, lebih enak," ujar Melati.
"Ca-cari wanita yang bisa memuaskanku?" Iman makin bingung. "Bukannya kita, maksudku ... kamu?"
"Apa?" Melati melirik Iman dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.
Iman berdeham. "Waktu di Bali — bukankah, kita hendak melakukannya? Maksudku, bercinta. Kupikir kita ..."
"Kayaknya aku terbawa suasana," kekeh Melati. "Beruntung kita nggak sempat melakukannya! Kalau tidak, pasti aku bakalan menyesal seumur hidup."
Menyesal seumur hidup? Iman menyorot Melati sendu. Itukah yang Melati pikirkan tentang dirinya?
"Ha ha," tawa Iman getir. "Jadi gitu? Ya iya juga, sih. Hubungan kita ini memang masih lama. Sebisa mungkin harus profesional."
"Iya." Melati melengos.
Iman dan Melati tak lagi bicara satu patah kata pun. Keduanya membisu dan tenggelam dalam konsepsi masing-masing.
Berkecamuk.
***
Melati mengamati hunian bergaya modern yang ia akan tempati selama satu tahun ke depan. Aksen hitam dan abu-abu memberikan kesan maskulin dan kuat. Seakan-akan sebuah penanda bahwa pemilik rumah ini merupakan lelaki berkepribadian tangguh.
Tak ada satu pun asisten rumah tangga yang menyambut mereka. Kosong bak kuburan.
"Yuk, masuk." Iman melenggang bebas.
Melati mengekori gamang.
Mereka tiba di dalam ruangan luas berjendela lebar; mengizinkan sinar matahari menyeruak menerangi tiap sudut, mengisi celah-celah tersempit sekali pun. Cat dinding didominasi oleh warna putih serta hitam. Sedangkan furniture rata-rata bermaterial besi dan kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGARBABY
RomansA dark romance story about marriage contract. (21+) bijaklah memilih bacaan yang sesuai dengan umur ♡ Iman yang masih ingin bersenang-senang selepas bercerai, memaksa seorang Sugarbaby cantik dan seksi untuk menjadi istrinya. Akan tetapi, seiring wa...
