"Jadi anak itu tadi ke rumahmu?"
Iman mengangguk. Ia duduk santai pada kursi rotan di pekarangan belakang seraya menempelkan ponsel pada telinga.
"Ariella sudah pulang, Om," ujar Iman. "Kurasa dia menyewa apartemen atau menginap di rumah mami dan papi selama di sini."
"Ah, begitu," gumam Bram. "Dia memang sulit diatur. Semula, Om dan tante mengira jika kedatangan kami ke Korea akan meleburkan jarak yang terbentang. Ternyata Om salah. Ariella justru tidak nyaman."
"Sudahlah, Om. Jangan salahkan diri sendiri. Menurutku, watak Ariella memang keras kepala dan mau menang sendiri."
"Ya ..." helaan napas Bram terdengar dari balik speaker. "Ah, ya. Bagaimana kabarmu, Man? Kudengar kamu baru saja pulang dari bulan madu singkat di Bali."
"Kabarku baik, Om. Bulan madunya juga menyenangkan," sahut Iman.
"Kamu bahagia?"
"Bahagia." Iman tercekat. Berbohong merupakan rutinitas barunya sekarang. Dialah yang memilih kehidupan terkutuk macam ini.
"Syukurlah," deham Bram. "Om sangat tidak sabar bertemu dengan istrimu. Dia pasti sangat pandai dan hebat karena berhasil meluluhkan hati kedua orang tuamu."
"Aku memang tidak salah pilih, Om," kilah Iman.
"Man?" Melati mengintip dari balik pintu kaca.
Iman pun menengok. "Eh, Mel?"
"Ya sudah, sepertinya ada seseorang yang membutuhkanmu di sana, ya?" goda Bram.
"Baiklah. Kututup dulu, ya, Om. Salam buat tante Ayu."
Iman lantas mematikan sambungan teleponnya dengan Bram. Ia lalu mengkode Melati agar duduk di sisinya.
"Kenapa?" tanya Iman.
"Teleponan sama siapa?" Melati merebahkan bokong di samping Iman.
"Omku," jawab Iman. "Mengabari kalau Ariella ada di Indonesia. Aku tak mau mereka cemas karena tingkah Ariella yang seenaknya."
"Oh ..." gumam Melati.
"Kupikir, mereka akan segera kembali dari Korea secepatnya. Kamu harus mempersiapkan diri saat nanti mereka pulang. Om dan tanteku ini merupakan sosok idaman yang kukagumi," terang Iman.
Melati mengangguk. "Tenang saja."
Melati nyalang memandangi langit yang dihiasi taburan bintang berkilauan. Cahaya yang temaram pada taman memperjelas kilap langit yang gelap gulita. Sementara itu, sinar lampu dari dalam rumah justru merembes keluar melalui jendela. Sangat kontras dengan suasana di halaman yang remang.
Sesekali Melati mencuri pandang pada Iman. Entah mengapa, lelaki itu terlihat lebih muram akhir-akhir ini.
"Apa kamu kesal karena aku menolak melanjutkan kegiatan kita?" selidik Melati.
Iman terkekeh. "Kegiatan yang dikacaukan oleh kedatangan Ariella?"
"Ya." Melati membenarkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUGARBABY
RomansaA dark romance story about marriage contract. (21+) bijaklah memilih bacaan yang sesuai dengan umur ♡ Iman yang masih ingin bersenang-senang selepas bercerai, memaksa seorang Sugarbaby cantik dan seksi untuk menjadi istrinya. Akan tetapi, seiring wa...
