Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, "Ilmu yang sedang kulatih bernama Bu Kek Kang Sinkang, ilmu ke tujuhpuluh tiga yang diciptakan Tatmo Couwsu." Pek Bin Siansu terkesima, dari kecil ia tinggal di Shaolin. Dia yakin betul Tatmo Caouwsu, pendiri...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ditinjau dari susunan meja kecil berlaci dibawah lampu kertas yang menempel di dinding disebelah sebuah cermin tembaga, Giok Hui Yan yang baru saja membuka kelopak mata, maklum ia berada di sebuah kamar penginapan. Dahinya berkerut, ketika hidungnya mencium semacam bau aneh. Giok Hui Yan yang kurang berpengalaman, tidak mengetahui bahwa bau khas semacam itu biasanya tersuar dari tubuh lelaki jantan.
Wajahnya merah padam ketika menyadari, ia tertidur dengan kepala menyandarkan dirinya diatas dada Tan Leng Ko yang bidang. Dengan tangkas, ia meloncat turun dari tempat tidur. Bergegas ia memeriksa dirinya, hatinya yang kuatir berubah lega melihat ia masih berpakaian lengkap, bukan saja ia merasa dirinya tidak kurang apa, bahkan terasa lebih segar dari sebelumnya. Ia mengerti, entah bagaimana caranya, Tan Leng Ko telah berhasil menyembuhkan lukanya yang parah. Tapi bukan berarti, ia boleh seenaknya membawa dirinya tidur berduaan disebuah kamar penginapan. Timbul hawa kemarahan dihati Giok Hui Yan, tangannya dengan cepat menampar ke pipi Tan Leng Ko.
"Plaaakkk....!"
Tamparan yang keras itu membuat pipi Tan Leng Ko bengkak, darah mengalir dari ujung bibirnya. Anehnya, ia seperti tidak merasakan, Tan Leng Ko tetap tertidur dengan tenang. Semacam pikiran melintas di benak Giok Hui Yan yang keheranan. Cepat ia memeriksa tubuh Tan Leng Ko yang ternyata telah tertotok di tiga puluh enam urat nadinya.
"Rupanya locianpwee itu yang membawa kami kesini" gumam Giok Hui Yan. Segera ia berusaha menyadarkan Tan Leng Ko. Segala cara ia mencoba, setelah sibuk memikirkan sesuatu sekian lama, ternyata ia tidak berhasil juga membuka totokkan itu.
Giok Hui Yan menghela napas, ia maklum keadaan Tan Leng Ko mirip dengan nasib Ou Leng Poo dan anak buahnya yang lain. Tidak ada jalan lain, kecuali membiarkan totokkan itu terbuka dengan sendirinya. Ia memandang wajah Tan Leng Ko sejenak, senyuman manis menghias bibir Giok Hui Yan, ketika melihat pipi Tan Leng Ko yang membengkak. Tiba tiba sinar matanya berbinar terang, mulutnya cengar cengir. Tangan kanannya meraih ke saku baju dalamnya dan mengeluarkan sebilah pisau pendek yang berkilauan hijau saking tajamnya.
Sambil menyeringai seperti seekor rase siluman, tangan kirinya menjambak rambut Tan Leng Ko sedangkan tangan kanannya sibuk menggerakkan pisau disekitar kepala Tan Leng Ko. Giok Hui Yan tertawa cekikikan, mengagumi hasil karyanya. Setelah puas, ia menyimpan pisaunya dan kemudian menghampiri cermin tembaga itu. Nampak pantulan wajahnya yang cantik segar tidak sepucat seperti biasanya. Giok Hui Yan termangu memandang dirinya, rambutnya yang panjang terlihat kusut berantakan. Tangannya menarik laci bagian atas meja itu. Ia tidak menemukan sisir yang dicarinya, malah menemukan sebuah buku ajaran Buddha.
Giok Hui Yan tidak dapat menahan ketawanya, matanya melirik ke kepala Tan Leng Ko. Ia menutup kembali laci itu, kemudian merapikan rambutnya dengan jari tangannya. Ketika Ia menarik napas dalam dalam, hampir saja ia terbatuk. Bau apek ruangan ini sangat menusuk hidungnya. Nampaknya, tidak setiap hari kamar ini dibersihkan. Segera ia membuka jendela kamar penginapan, sinar matahari pagi menerobos masuk disertai tiupan sepoi angin dingin. Hanya sekilas ia memandang, Giok Hui Yan segera mengenali jalanan luar.