MALAM HARI CAKRAWALA SURAM

749 22 16
                                        

Langit gelap diselimuti oleh awan, tidak nampak sinar bulan atau cahaya bintang yang biasanya bertaburan. Di pinggiran sebuah tebing batu yang menjulang tinggi, Biksu Mo Tian yang tertidur dalam posisi bersila, perlahan membuka matanya. Ia terbangun bukan disebabkan dinginnya angin malam yang berhembus kencang, melainkan ia terjaga dikarenakan mendengar suara isakkan tertahan. Dengan tatapan penuh kasih ia menatap Khu Han Beng yang berbaring tidur di sebelah api unggun.

Kebetulan wajah bocah itu menghadap ke arahnya, wajah yang biasanya mencerminkan keteguhan hati entah kenapa saat ini mengandung kesedihan hati. Biksu Mo Tian dapat melihat linangan air yang menetes dari mata bocah itu. Menyaksikan Khu Han Beng menangis di dalam tidurnya, rasa haru memenuhi rongga hati Biksu Mo Tian. Dalam beberapa hari mereka menempuh perjalanan, lebih dari satu kali Biksu Mo Tian mendengar Khu Han Beng mengigau dalam tidurnya. Kadang bocah ini menyebut kakeknya, acap kali ia menyebut ayah ibunya di dalam mimpi. Pernah ia mencoba bertanya apa gerangan yang diimpikan oleh Khu Han Beng tapi bocah itu hanya diam saja, enggan menjawab. Walau bergaul belum cukup lama, Biksu Mo Tian cukup mengetahui bocah ini tidak gemar berbicara, tetapi ketika berbicara juga tidak mirip bicara seorang bocah! Teringat oleh Biksu Mo Tian ketika bermalam di pinggir sungai tempo hari, bocah itu seperti terpekur menatap bulan yang saat itu berbentuk sabit sambil menyantap bekal makanan.

"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Biksu Mo Tian memecah keheningan.

Khu Han Beng menatap susioknya sejenak, kemudian menjawab: "Aku sedang memikirkan satu hal yang kuanggap agak janggal"

"Hal apa?"

"Kadang bulan berbentuk purnama dan kadang berbentuk sabit seperti sekarang, aku heran apa yang menyebabnya berubah sedemikian rupa"

Diam-diam Biksu Mo Tian terhenyak heran. Dia yang jauh lebih tua, lebih sering melihat perubahan itu malah tidak pernah berpikir mengenai hal itu.

"Omitohud! Pinceng tidak tahu apa penyebabnya tapi pinceng pikir, itulah kekuasaan Thian yang Maha Besar" jawab Biksu Mo Tian sedapatnya.

Khu Han Beng mengangguk tak acuh, mendadak matanya seperti mengeluarkan kilatan cahaya aneh. Ujarnya perlahan: "Mungkin bentuk bulan itu tidak berubah, hanya terlihat berbentuk sabit karena ditutupi oleh bayangan bumi itu sendiri yang berbentuk bulat"

"Darimana kau tahu bumi berbentuk bulat?" seru Biksu Mo Tian heran. Agak ragu Khu Han Beng menjawab: "Aku tidak tahu, hanya pernah kubaca sebuah kitab kuno yang menyatakan bumi seperti bagian telur yang kuning berbentuk bulat" "Omitohud! Permukaan bumi nan luas sekali, rasanya janggal sekali jika penulis kitab itu mengetahui bentuk bulat bumi seperti kuning telur"

"Yaa, isi kitab itu memang agak aneh. Malah ada halaman lain yang menyebutkan cara membuat alat untuk mendeteksi gempa"

"Apakah kitab itu ditulis oleh Zhang Heng?" tanya Biksu Mo Tian tertarik.

Khu Han Beng mengangguk, "Apakah ia sangat terkenal?" katanya berbalik tanya.

Tak terasa Biksu Mo Tian menarik napas dalam-dalam, katanya: "Dia adalah penasehat utama kaisar di jaman dinasti Han. Walau sekarang tidak banyak orang yang mengenal namanya, tapi tidak sedikit orang yang telah ia selamatkan dari bencana gempa melalui alat buatannya"

Selesai berkata, Biksu Mo Tian menatap Khu Han Beng dengan tatapan kagum. Ia benar-benar tidak menyangka bocah ini pernah membaca karya tulis Zhang Heng!

"Darimana kau peroleh kitab langka itu?"

"Kubeli dari sebuah toko buku" jawab Khu Han Beng singkat.

Igauan Khu Han Beng yang menggumam tidak jelas, menyadarkan Biksu Mo Tian dari renungannya. Tak terasa ia menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan bulan yang telah menampakkan diri dan menerangi jagat raya dengan cahayanya yang lembut. Ia tahu dari posisi bulan yang miring, hari sudah menjelang subuh. Biksu Mo Tian merapatkan jubahnya, malam yang cerah di musim gugur, entah kenapa biasanya jauh lebih dingin dibanding malam yang berawan. Setelah menghela napas, kembali ia melirik ke wajah Khu Han Beng yang masih tertidur.

Goresan Disehelai DaunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang