Khu Pek Sim

263 5 0
                                        

Kereta kuda yang berlari kencang, hampir menabrak Khu Pek Sim yang sedang menyeberang jalan. Segera ia menghindar sambil tertawa pahit ketika melihat kusir kereta itu malah memaki dan melotot padanya, seolah-olah kesalahan terletak pada dirinya.

Ia bersama Buyoung Hong baru saja tiba di kota Tiang-an. Yang diluar perhitungannya, kecuali peristiwa yang menewaskan Buyoung Ki, boleh dibilang perjalanannya selama ini lancar, bebas dari segala keributan. Mereka singgah disebuah tempat makan, memesan beberapa macam camilan dan dua buah guci arak.

"Apakah kita telah tiba ditempat tujuan?" tanya Buyoung Hong mendadak.

"Kenapa kau menduga kita telah tiba ditempat tujuan?"

"Sebab kau ingin cepat-cepat sampai ditempat tujuan. Jika kita hanya melalui kota ini, paling banter kita hanya memesan makanan untuk dibawa, tidak makan disini"

Khu Pek Sim menghela napas panjang, akhirnya mengakui: "Yaa, kita telah sampai"

Mendadak dengan wajah serius, Buyoung Hong berkata: "Apakah kau mengantar benda itu padanya?"

"Siapa yang kau maksud?"

Buyoung Hong menjawab sepatah demi sepatah: "Seorang yang bermarga Kho"

"Kenapa kau beranggapan demikian?"

"Karena dia adalah tokoh persilatan di kota Tiang-an yang paling berpengaruh. Hanya dia yang menguasai empatpuluh sembilan jago rimba persilatan yang beroperasi diantara dua tepi sungai besar hingga wilayah Kwan tong"

Khu Pek Sim menimbang sejenak, kemudian katanya: "Yaa, benda itu harus kuserahkan kepadanya"

Melihat Khu Pek Sim seperti telah terbuka padanya, Buyoung Hong tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. "Sebetulnya siapa yang menyerahkan benda itu kepadamu?"

Khu Pek Sim tidak menjawab, hanya meneguk araknya perlahan.

"Dua dari tiga persyaratanmu sudah kupenuhi. Begitu ada kesempatan, aku tentu menepati janjiku mengajarkan sebuah ilmu kepada cucumu..."

"Seorang gadis!" potong Khu Pek Sim tiba tiba.

Giliran Buyoung Hong berdiam diri, ia juga meneguk araknya.

"Beberapa minggu lalu, sepucuk surat diatas sebuah peti mendadak muncul dimeja kerjaku. Tentu saja menarik perhatianku" cerita Khu Pek Sim perlahan.

"Apa yang menarik dari isi surat itu?"

"Isi surat itu biasa saja, hanya isi peti itu yang diluar dugaanku"

"Apa isinya?"

"Seribu tahil emas dibayar kontan hanya untuk membaca isi surat itu. Dan lima ribu tahil emas akan diberikan untukku jika aku melakukan perintah surat itu"

"Apa yang harus kau lakukan?" tanya Buyoung Hong tertarik.

"Bertemu dengan gadis itu disebuah tempat"

"Dimana?"

"Aku tidak dapat menyebutnya. Karena hal itu menyangkut nama baikku"

Buyoung Hong kembali terdiam. Nama baik merupakan hal yang sangat peka bagi kalangan persilatan. Ia enggan mendesak. Setelah termenung sejenak, ia bertanya lagi: "Apa yang bakal terjadi, jika kau tidak melakukan perintah surat itu?"

"Seribu tahil emas itu tetap milikku. Perintah itu tidak bersifat paksaan, aku bebas menentukan pilihan"

Buyoung Hong menghela napas. Timbul juga rasa kagumnya kepada otak perencana yang misterius itu. Dengan seribu tahil emas, orang itu memancing perhatian Khu Pek Sim. Tentu saja cara ini jauh lebih efektif dibanding dengan cara paksaan. Walau surat itu menyatakan bebas menentukan pilihan, tapi sebenarnya isi surat itu sudah memperhitungkan, Khu Pek Sim pasti akan melakukan perintah itu. Bukan dikarenakan uangnya melainkan disebabkan rasa ingin tahunya. Nampak sekali orang misterius itu, paham sekali sifat-sifat manusia. Terutama sifat yang mirip mirip keledai. Dipaksa enggan, jika dibiarkan malah bergerak sendiri.

Selain kuatir, timbul juga rasa cemas dihati Buyoung Hong atas kehebatan lawan. "Siapa nama gadis itu?" tanya Buyoung Hong memecah kesunyian.

"Aku tidak tahu namanya. Aku tidak bertanya padanya, dan ia juga tidak menerangkan" Buyoung Hong mengerutkan keningnya. Jawaban seperti ini tidak bisa dianggap sebuah jawaban. "Apakah gadis itu mempunyai sebuah ciri?"

"Gadis itu boleh dibilang cantik sekali"

Buyoung Hong menghela napas, "Memang sedikit gadis yang bisa dibilang cantik. Tapi jumlahnya bisa mencapai ribuan banyaknya" katanya sambil tersenyum pahit.

Khu Pek Sim termenung sebentar. Katanya kemudian: "Ketika gadis itu menyerahkan kotak yang berisi benda itu. Sempat kuperhatikan, di punggung tangan kirinya terdapat tiga tahi lalat yang berbentuk segi tiga"

"Aku tidak akan bertanya padamu tempat dimana kau bertemu dengannya. Tapi sedikitnya aku perlu tahu, apakah kau bertemu gadis itu disekitar kota Lok Yang?"

Khu Pek Sim berpikir sejenak sebelum menjawab: "Tidak disekitar melainkan dikota Lok Yang"

"Kau setuju mengantar benda itu, apakah disebabkan oleh lima ribu tahil emas?"

Khu Pek Sim menatap Buyoung Hong dengan tatapan aneh, katanya: "Lima ribu tahil emas dibayar hanya jika aku bertemu dengan gadis itu. Untuk pengawalan benda itu, aku menerima sebuah gin-bio bernilai dua laksa tahil emas"

Buyoung Hong bersiul, "Jumlah uang yang tidak sedikit!"

"Benar! Aku memang berniat untuk pensiun setelah selesai menghantar benda itu. Hanya satu hal yang diluar dugaanku"

"Apa yang diluar dugaanmu?" tanya Buyoung Hong cepat.

"Kepalaku menjadi pusing. Dunia seperti berputar, dirimu kulihat seperti menjadi dua orang" Bingung juga Buyoung Hong mendengar ucapan Khu Pek Sim yang tidak karuan.

"Aku tidak paham perkataanmu. Kenapa kau berbicara seperti seorang yang terkena gejala racun Ngo Tok Kauw?"

"Sebab sekarang kepalaku memang pening, dirimu sekarang malah kulihat menjadi empat orang" kata Khu Pek Sim dengan suara melemah. Pandangan mata Khu Pek Sim menjadi gelap, ia seperti mendengar teriakkan Buyoung Hong yang seperti memanggil namanya.

*****

Goresan Disehelai DaunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang