Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, "Ilmu yang sedang kulatih bernama Bu Kek Kang Sinkang, ilmu ke tujuhpuluh tiga yang diciptakan Tatmo Couwsu." Pek Bin Siansu terkesima, dari kecil ia tinggal di Shaolin. Dia yakin betul Tatmo Caouwsu, pendiri...
Dua minggu telah lewat dengan cepatnya. Luka Tan Leng Ko sudah sembuh. Tubuhnya yang penuh otot gempal, ditambah dengan usianya yang mendekati tiga puluh tahun, sangat membantu kecepatan sembuhnya. Umumnya manusia dikala bayi atau menjelang tua, sering sakit sakitan. Dikala umur seseorang mencapai bilangan sepuluh dikali dua hingga empat, jarang sekali sakit, maklum daya tahan tubuh sedang bekerja paling aktif.
Luka Tan Leng Ko cepat sembuh berkat obat luka dari tabib Liok Yang Piaukiok yang manjur. Juga dibantu dengan ramuan obat yang diminumnya setiap hari. Tapi Tan Leng Ko berpendapat, obat yang membuat lukanya lekas sembuh, adalah bubur ayam Hong naynay yang paling digemarinya.
Masakan yang cocok dengan perut, tentu membuat hati seseorang menjadi riang. Konon katanya, kondisi hati seseorang sangat menentukan kesehatannya. Hong naynay, berbadan gemuk, dan berusia diatas lima puluh tahun. Ia memimpin satu daerah kekuasaan, dapur umum Lok Yang Piaukok. Begitu ia masuk dapur, yang merasa pintar masak, dengan sendirinya akan menyingkir keluar, kehilangan kepercayaan diri. Kepandaian Hong naynay mengolah masakan, membuat banyak kurir tunduk padanya...berbareng takut.
Soalnya, Hong naynay galaknya bukan main. Sedikit berbuat salah padanya, dijamin sendok kayu besar akan melayang. Sedikit sekali, penghuni Lok Yang Piaukok, yang belum pernah benjol kepalanya.
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam. Kembali ia merasa nasibnya mujur. Selama ia sakit, ternyata pihak Bwe Hoa Pang tidak melakukan penyerangan, bahkan tidak terdengar kabarnya. Mereka telah melepaskan kesempatan yang baik. Sambil menggeliatkan badan, Tan Leng Ko merasa, ia sudah siap melakukan tugas. Yang pertama ia lakukan, berdiri dari tempat tidur, dan membuka jendela kamarnya. Angin malam meniup, membuat segar wajahnya. Tanpa terasa ia melamun. Cukup sering Khu Han Beng menjenguk dirinya, sayang selama ini Tan Leng Ko belum mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang banyak berkecamuk dibenaknya. Hubungan mereka menjadi akrab, walau Khu Han Beng juga seperti menghindari dirinya. Ia selalu datang ketika kamarnya ramai dikunjungi orang. Dan tidak pernah muncul ketika ia sedang sendirian.
Dari kurir yang menjaga pintu kamarnya, Tan Leng Ko mendapat tahu peristiwa yang terjadi setelah ia jatuh pingsan. Dengan menunding sebilah golok kayu, Khu Han Beng telah mengusir pengacau Bwe Hoa Pang. Jelas itu bukan sejenis ilmu silat. Mana ada ilmu silat yang tanpa bergerak dapat menjatuhkan lawan?
Ketika mereka berlatih, walau cepat menangkap, jelas gerakkan Khu Han Beng sangat kaku. Kekakuan yang tidak dibuat buat. Kekakuan yang timbul karena tidak pernah berlatih gerakkan silat. Jika bukan silat, apa ilmu sihir? Pusing kepala Tan Leng Ko memikirkan hal ini. Akhirnya ia memutuskan, paling baik bertanya langsung pada yang bersangkutan. Diraih goloknya, kemudian ia melangkah keluar.
*****
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamar Khu Han Beng terletak dibagian belakang rumah yang paling besar. Tujuh tahun ia telah bekerja disini, boleh dibilang baru pertama kali, ia berdiri didepan kamar Khu Han Beng. Ketukan pintunya dijawab oleh Lo Tong yang berdiri dengan badan bergoyang, jelas dalam keadaan mabuk. Walau dalam keadaan mabuk, Lo Tong tidak lupa dengan tugasnya. Tubuhnya berdiri menutupi pintu yang terbuka, dengan tangannya sibuk menyapu.