PAGI HARI CAKRAWALA CERAH

301 4 0
                                        

Langit terlihat terang membiru bersih dari awan, angin lembut bertiup. Di pagi hari yang cerah, udara yang biasanya dingin, tidak biasanya malah terasa sejuk menyegarkan. Anehnya, perasaan hati Tan Leng Ko justru sedang gundah. Ia sedang menunggu di luar pintu gerbang, menunggu Giok Si berganti pakaian. Entah kenapa, perempuan acap kali memerlukan tempo yang cukup lama untuk mengganti pakaian. Mungkin sama lamanya dengan lelaki ketika menggunakan kamar mandi terutama di pagi hari. Entah apa ada kegiatan lain yang mereka lakukan. Atau apa masing-masing mempunyai kesibukan pribadi yang bersifat sebaiknya orang lain tidak perlu tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan?

Tan Leng-ko sedang menunggu sambil merenung. Berapa hari belakangan ini, boleh dibilang nasibnya lagi tidak mujur. Bukan saja seorang berkedok hitam berusaha membunuhnya, malah hampir berhasil mengajak mati bersama jika ia meneruskan niatnya membunuh Giok Si.

Ia tidak tahu siapa dan mengapa orang berkedok itu hendak membunuhnya. Yang ia tahu orang berkedok hitam itu jelas bukan Pek Kian Si. Ronce di sarung pedang Pek Kian Si sudah dicuri Giok Hui Yan, kalau toh sudah diganti, Tan Leng Ko tidak yakin diganti dengan warna hitam. Lagipula jurus pedang Pek Kian Si berbeda dengan serangan orang berkedok hitam itu. Jurus orang berkedok itu lebih ganas, telengas dan hawa pedangnya sudah mencapai dua jengkal tangan.

Ia sengaja menyebut nama Pek Kian Si untuk mengalihkan perhatian orang berkedok hitam itu, seperti ketika ia menyebut goa di bukit belakang. Ditinjau dari nada gembira orang itu, nampaknya orang berkedok itu akan berusaha mencari Hek Pek Coa disana. Orang itu tentu akan terkena batunya jika bertemu dengan locianpwee sakti itu. Tapi dengan kepergian Khu Han Beng, Tan Leng Ko tidak begitu yakin beliau masih gentayangan di sana.

Siapa sebenarnya orang berkedok hitam itu? Dan kenapa ia mengenal dan mencari Hek Pek Coa? Kenapa ia dapat memastikan ia pernah mempelajari Hek Im Pek Yang Sinkang? Tiba-tiba dahi Tan Leng Ko berkerut. Hanya dua cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Pertama, orang berkedok hitam itu berhubungan dengan locianpwee sakti itu. Tan Leng-ko menggeleng, "Kemungkinan yang tidak terlalu mungkin" gumamnya.

Jika kelompok pencuri sakti itu hendak membunuhnya, cukup dengan satu jurus tentu akan berhasil dan tidak perlu mengenakan kedok segala. Tiba-tiba darah Tan Leng-ko berdesir. Hanya tersisa satu penjelasan yang masuk akal, tidak kecil kemungkinan orang itu mempunyai hubungan dengan Ngo Tok Kauw!

Hanya locianpwee sakti dan tentunya orang Ngo Tok Kauw yang dapat mengenali ilmu Hek Im Pek Yang Sinkang. Bahkan Giok Hui Yan dapat mengenali Hek Pek Coa, jelas tidak mengenal ilmu tersebut.

Yang Tan Leng Ko tidak habis pikir, bukankah Ngo Tok Kauw sudah habis terbantai oleh Mi Tiong Bun? Jika ternyata masih bersisa, lalu untuk apa berusaha membunuh dirinya yang tidak mempunyai perhitungan budi dan dendam dengan mereka? apa karena kebetulan ia mengenal dan berhubungan cukup dekat dengan putri ketua Mi Tiong Bun?

Diam-diam Tan Leng Ko mengeluh dalam hati. Tugasnya di Lok Yang Piaukiok adalah mengajar para kurir, bukan mengisi teka teki yang saling menyilang. Pusing kepala Tan Leng Ko memikirkan hal ini, yang juga membuatnya puyeng kepalanya, Lo Tong yang sedang ditunggu-tunggunya ternyata tidak pulang! Sebenarnya hal ini memang masih dalam perhitungannya, yang diluar dugaannya adalah perilaku Giok Si yang memberatkan hatinya.

Untuk pertama kalinya dia merasakan tundingan, dan getokkan Hongnaynay lebih menyenangkan. Dia lebih menyukai omelan Hongnaynay ketimbang sikap Giok Si yang membuntuti kemana dia melangkah. Setelah ia menyelamatkan Giok Si dari si kedok hitam dan setelah menunjukkan sikap bersedia mati bersama, sikap Giok Si terhadap dirinya berubah seperti sikap seorang istri yang menghamba dan siap meladeni. Sikap ini yang membuatnya tidak tahan!

Malah dengan manja ia meminta Tan Leng Ko untuk menemani dirinya mencari locianpwee sakti yang pernah menolongnya di goa bukit belakang sana. Ketika ditanya untuk apa, Giok Si menjawab sudah berkali-kali ia menjadi korban penganiayaan, ia ingin meminta kepada locianpwee sakti itu agar mengajarinya kepandaian membela diri.

Goresan Disehelai DaunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang