dua

27.3K 2.2K 36
                                    

Wulan terbahak mendengar cerita Dhara soal Shaka semalam. Ia memegangi perutnya sambil menggeleng. Dhara masih nampak masam usai menceritakan kejadian absurd yang ia alami semalam. Tentu saja absurd jika seorang konglomerat tampan, dengan selera fashion yang bagus , wangi, tapi tidak punya sopan santun tiba-tiba mengajaknya menikah. Pria itu saja baru mengingatnya hari ini! Selama ia datang ke Centennial, ia tak pernah peduli pada keberadaan Dhara atau orang lainnya. Baginya, semua orang kecuali dirinya adalah sejenis mikroba yang tidak akan ia sentuh.

"Tante nggak pernah diajak nikah sama konglomerat selama 48 tahun hidup loh!" gelaknya melengking.

Dhara mendengkus. "Dih, aku juga nggak mau kali Tante! Kelakuannya aja nggak bagus sama sekali! Tampang sama kantong doang yang oke!"

Wulan masih tertawa, menatap Dhara yang mengunyah nasi goreng yang ia buat dengan wajah jengkel. Perempuan itu sudah mengenakan seragam pelayan coffee shopnya. Dhara sehari bekerja tiga pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Dari pukul tujuh pagi sampai dua belas siang menjadi pelayan coffee shop, pukul satu siang hingga lima sore menjadi pelayan restoran dan malamnya bekerja di bar. Sementara, Wulan hanya menjadi pelayan bar di malam hari.

Dhara tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak karena ia hanya menempuh pendidikan sampai jenjang SMA. Ia memilih untuk tidak kuliah karena masalah biaya. Walaupun Dhara sebenarnya menerima beasiswa penuh. Namun, ia harus pergi ke luar kota jika mau kuliah. Ia tak bisa meninggalkan Wulan. Selain itu, hidup di luar kota juga sama saja. Ia harus bayar biaya kos dan makan. Di sini saja mereka kadang-kadang menunggak bayar sewa kontrakan.

"Kamu nggak mau terima?" tanya Wulan sambil tersenyum, menatap Dhara yang tertawa mengejek. "Tante makin tua, Ra. Kalau tiba-tiba Tante meninggal, kamu nggak punya temen lagi."

"Tante kan nggak setua itu," balas Dhara sambil mengunyah. "Lagian, dia kalau mau nikah sama aku, orang tuanya setuju? Aku bibit, bebet, bobotnya aja ngaco loh!"

"Yang ngaco cuma bibitmu. Bebet sama bobot ya nggak bakal kalah saing sama orang. Kamunya aja pinter kok, murid teladan semasa sekolah." Wulan menatap Dhara dengan senyum tipis dan mata sendu. "Andai kamu lahir dari keluarga berada seperti Anin, kamu pasti sama kayak dia. Mungkin lebih."

"Ha, emang paling enak dibawa mengkhayal hidup ini," gumam Dhara. "Kalau mengkhayal bikin kaya, aku udah ngalahin Permana Grup kayaknya."

Wulan tertawa. Dhara menyelesaikan sarapannya, mencuci piring dan berpamitan pada Wulan sebelum berangkat kerja. Ia menaiki sepeda tuanya menuju coffee shop. Masih pukul enam ketika Dhara tiba. Ia segera membuka rolling door, menyiapkan dapur, mengepel dan mengelap meja. Pelayan di coffee shop hanya satu di pagi hari, satu di siang hari dan satu di malam hari. Shiftnya juga bergantian sehingga masing-masing dari mereka harus bekerja ekstra keras. Namun, bayaran untuk shift pagi selalu lebih tinggi karena pekerjaannya lebih banyak.

Barista dan kasir coffee shop datang dua puluh menit setelah Dhara tiba, membantu Dhara berberes sambil mengobrol basa-basai dengannya. Coffee shop dibuka pukul tujuh tepat. Dhara seperti biasanya sudah siap di depan pintu, menyapa pelanggan dan melayani mereka dengan senyum ramah. Namun, senyum ramahnya hampir memudar ketika melihat pria tinggi dengan mengenakan setelan jas cokelat tua melangkah masuk dan berhenti di depannya. Shaka Alastair.

"Selamat pagi, selamat datang di Lattefe. Bisa saya bantu pesanannya?" Dhara menatap wajah Shaka, menahan diri supaya tidak mengumpatinya.

"Menu apa yang bisa kamu rekomendasikan ke saya?" tanya Shaka dengan tatapan datar.

"Baik, Pak. Untuk menu yang saya rekomendasikan adalah latte atau espresso. Minuman basic, tapi selalu jadi favorit pelanggan kami." Dhara sama sekali tidak kehilangan senyum ramahnya.

Rented WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang