sepuluh

24.3K 2K 31
                                    

Dhara.

Shaka sering melihat perempuan itu sebelumnya. Ia bekerja di Centenial sebagai pelayan bar, ramah, jelas profesiona dan yang terpenting, Dhara adalah pelayan paling sopan yang tak pernah menggoda Shaka dengan kerlingan atau seringaian mesumnya. Shaka sering menerima hal itu, tetapi mendapatkan perlakuan normal darinya membuat Shaka memiliki rasa respek di hatinya untuk Dhara.

Sampai ia melihat rival bisnisnya, musuh yang paling menyebalkan, Anindita Permana. Perempuan dari Permana Grup dengan seribu satu rumor seperti dirinya, tetapi satu yang terbukti, bahwa ia adalah lesbian. Perempuan itu selalu menatapnya remeh, mengernyit ketika bertemu dengannya atau memamerkan tender yang ia menangkan dari Alter Mining. Shaka tidak pernah tahu mengapa Anindita seperti itu, tetapi ia tidak suka diganggu. Seperti hari itu, Anindita memamerkan pencapaiannya dengan angkuh, membuat Shaka terpaksa menutup mulutnya karena tak punya balasan untuknya.

Namun, Shaka melihatnya berlari kepada pelayan Centennial yang memiliki respek Shaka. Ia tahu, ia tak seharusnya mencari masalah, tetapi Shaka memutuskan untuk bertanya pada Dhara seberapa banyak Anindita membayarnya untuk menyenangkan perempuan itu dalam tanda kutip. Balasan Dhara juga tidak Shaka duga saat itu. Ia masih tersenyum, senyum profesional tetapi dengan mata yang siap mencekik Shaka. Dhara bukan salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki preferensi seksual yang berbeda dari umumnya.

Dhara jelas-jelas tidak mengetahui tentang perasaan Anindita. Begitu Shaka mengamatinya, Shaka menemukan jika Dhara menganggap Anindita layaknya seorang sahabat, mungkin saudara. Ia juga tampak terlalu cuek jika ia memang memiliki rasa spesial untuk Anindita. Perempuan itu lebih mementingkan pekerjaannya daripada orang lain. Hal itu membuat Shaka merasa terhibur.

Mengetahui jika Anindita Permana bertepuk sebelah tangan pada seorang pelayan Centennial membuatnya ingin melukai egonya. Ia akan membuat Anindita menangis karena ia merebut perempuan yang ia cintai. Shaka melamar Dhara. Bukan jenis lamaran impian seperti dalam cerita. Shaka jelas bukan pria romantis. Ia hanya ingin memanfaatkan Dhara. Namun, perempuan itu lebih keras kepala dari yang ia duga sampai Shaka mengeluarkan kartu terakhirnya, memberitahu soal penyakit Wulan, orang yang paling berharga dalam hidup Dhara.

Kartu terakhir Shaka berhasil. Dhara menghubunginya dengan nomor tak dikenal. Ia menghubunginya dari rumah sakit, menerima tawaran Shaka dan menyetujui yang Shaka mau. Shaka hanya berniat menjadikan Dhara tamengnya, memanfaatkannya supaya tidak ada lagi yang mengganggunya, mau itu laki-laki atau perempuan. Satu hal yang membuat Shaka terkejut. Saat Dhara berkata jika ia tak mau berhubungan badan dengannya. Seolah Shaka memiliki rencana untuk melakukan itu. Tentu saja tidak.

Shaka tidak pernah merencanakannya. Namun, memiliki perempuan tinggal di rumahnya cukup membuat seluruh indera Shaka menjadi sensitif. Eksistensi Dhara yang walau hanya beberapa hari membuat Shaka merasa sedikit terganggu. Sebagai pria normal, melihat Dhara dalam gaun tidur tipis berbaring santai di ranjangnya membuat Shaka menelan ludah.

Ia sering melihat perempuan bahkan laki-laki telanjang untuk menggodanya. Ya, seperti Anindita, Shaka juga dituding menyukai sesama lelaki. Shaka tidak mau repot-repot menyangkalnya, berpikir jika perempuan akan berhenti mengganggunya, tetapi Shaka malah diganggu kedua jenisnya.

Melihat Dhara malam itu membuat Shaka ... tidak bisa bicara. Ia laki-laki normal. Wajar jika ia tak bisa melepaskan matanya dari Dhara walau ia tak punya perasaan sedikit pun padanya. Rambut panjangnya yang terurai berantakan, tubuhnya yang samar-samar tercetak dibalik gaun tidurnya dan tatapan kesalnya pada Shaka malam itu. Shaka tidak bisa melupakannya. Dhara sangat menawan. Shaka tidak bisa melabeli kata cantik pada Dhara. Cantik bukan kata yang tepat untuk menggambarkannya dan Dhara tidak cantik.

Saat Dhara mengenakan gaun merah marun yang ia pilihkan, Shaka tahu Dhara akan kelihatan menakjubkan. Dan, benar saja, perempuan itu tampak sempurna ketika ia berdiri di depan Shaka dengan wajah ogah-ogahan, menunggu Shaka segera membawanya pergi ke pesta, segera menyelesaikan tugasnya dan ingin segera pulang. Dhara tidak menunggu pujiannya, ia menunggu Shaka membiarkannya istirahat. Namun, Shaka tidak bisa secepat itu membiarkannya. Ia ingin melihat Dhara dalam balutan gaun itu.

Gaun itu menambah kesan kuat dalam diri Dhara. Ia bukan seseorang yang nampak lemah lembut, lebih mirip seorang petarung. Seorang pejuang. Sorot matanya selalu nampak tegas, memberi kesan bahwa ia tak akan pernah goyah kepada apapun. Namun, Shaka sudah pernah melihat Dhara goyah saat ia mengetahui penyakit Wulan. Seolah dunianya runtuh di bawah kakinya, dan hal itu tidak cocok untuk Dhara.

Dhara penuh kejutan. Setiap ucapan dan umpatan yang ia sampaikan pada Shaka mampu membuatnya geram, tetapi juga terhibur. Dhara dan mulut kasarnya yang pintar. Mulut yang kasar. Ciuman Dhara hampir memabukkan Shaka, andai ia tidak menggigit bibirnya kuat hingga berdarah.

Shaka menyentuh bekas gigitan Dhara. Lukanya mengering, tapi masih berbekas. Shaka berbaring telentang di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya sembari diam-diam mendengarkan Dhara dari kamar sebelah. Ia tidak mendengar suara apapun. Jelas, Dhara masih tertidur. Ia baru saja membaringkan Dhara di ranjangnya dan beranjak keluar. Ia tidur seperti kayu terapung, tidak bangun sama sekali walau menerima guncangan apapun.

Sisa kehangatan tubuh Dhara masih berbekas di kulitnya. Shaka tidak pernah memeluk atau menyentuh perempuan lain seumur hidupnya. Tidak juga ibunya. Orang tuanya meninggal sejak ia masih kecil. Shaka dibesarkan oleh kakeknya yang juga tutup usia sepuluh tahun lalu. Hanya tersisa dirinya seorang, meneruskan perusahaan keluarga dan hidup bersama dengan pegawai mansion lamanya yang tak pernah ia ganti dengan siapapun.

Ia benci jika orang lain menyentuhnya, kecuali para pegawai yang sudah lama ia kenal dan memperlakukannya dengan baik. Shaka menganggap mereka keluarga dan mengasihi mereka semua walau tidak pernah menunjukkannya. Kakeknya mendidiknya cukup keras untuk tidak menunjukkan perasaannya kepada siapapun. Menunjukkan perasaan bisa saja membuat kelemahannya nampak. Shaka selalu memasang topeng seumur hidupnya. Namun, Dhara berhasil menggelitik otot-otot wajahnya untuk tertawa dan marah dari hati.

Seolah ia punya kemampuan khusus. Seolah efek spesial yang dimiliki seorang Dhara adalah mengeluarkan ekspresi tulus dari hati seseorang. Shaka menghela napas. Ia baru beberapa minggu mengenal Dhara lebih dari sekedar nama, dan baru beberapa hari membiarkan Dhara tinggal di mansionnya, tetapi Shaka tahu hidupnya tidak akan setenang kemarin. Mungkin Dhara akan membuatnya meninju dinding geram, atau mendorong tubuhnya dan mencium bibirnya liar seperti di acara kemarin.

Shaka menarik napas panjang dan memejamkan mata, bertanya-tanya apakah ia mulai kehilangan stabilitas emosionalnya atau Dhara saja yang menyebalkan. Perempuan itu akan menjadi istrinya dalam tiga minggu ke depan dan Shaka diam-diam menantikan apa yang akan terjadi di masa depan. Seolah, masa depannya akan panjang bersama dengan Dhara.

Rented WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang