"Dari mana kamu dapat uang buat pengobatan Tante?" tanya Wulan, mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya.
Dhara mengupaskan buah apel yang dibelikan oleh Esa untuk Wulan. Esa juga sempat masuk ke dalam kamar Wulan untuk menyapanya sebentar, sebelum keluar lagi untuk menerima telepon. Tentu saja Wulan langsung heran melihat sosok yang tak pernah ia temui sebelumnya tiba-tiba berkunjung. Dhara melirik Wulan sejenak, tidak menjawab.
"Dhara," panggil Wulan menatap Dhara yang masih diam.
Dhara menatapnya dan tersenyum. "Nggak usah khawatir soal itu. Yang penting, Tante fokus pengobatan aja."
Wulan menggeleng dengan kening berkerut. "Nggak bisa. Kamu jelas-jelas nggak mungkin punya uang sebanyak itu buat bayar terapi. Kasih tahu dari mana uangnya."
Dhara menarik napas panjang. "Shaka Alastair."
Menyebut nama pria itu, Dhara jadi teringat jika semalam pria itu tidak bicara padanya lagi sampai pagi setelah mencium bibirnya. Dhara mendengkus ketika teringat ciuman pria itu. Jelas, pria itu player. Ciumannya saja bisa sampai sepanas itu, padahal mereka di depan banyak orang. Mengingatnya membuat Dhara bergidik.
"Shaka Alastair?" Wulan mengulang ucapan Dhara dengan penuh penekanan.
Dhara mengulas senyum, memasang wajah tak peduli sambil menyuapi apel ke mulut Wulan. "Bentar lagi, Tante bakal punya mantu? keponakan tambahan?" Mata Dhara berkilat penuh humor ketika memikirkan sebutan yang tepat untuk Shaka. "Yah, pokoknya kami bakal nikah."
"Nikah?" Tatapan Wulan menajam. "Kapan?"
"Tiga minggu lagi?" Dhara mengangkat bahu. "Nggak pesta besar-besaran, kok. Tante bisa datang dan lihat pemberkatannya."
Wulan memejamkan matanya dan memijat keningnya. "Dhara ..."
"Apa? Nggak apa-apa kok. Aku nggak nikah sama Shaka karena biayain pengobatan Tante," kata Dhara cepat. "Dia banyak duit, terus aku bebas jajan semaunya. Kalau nikah sama dia, harusnya kehidupanku terjamin dong? Kan Tante sendiri yang mau hidupku terjamin?"
"Tante mau kamu bahagia, Dhara! Bukan nikah sama konglomerat yang kamu aja nggak kenal!"
"Dia Shaka Alastair. Tante kenal dia kok."
"Mau dia Alastair, Permana, Widyosudiro, Tante nggak peduli! Kamu mau menikah tanpa cinta?"
Dhara mengangkat alisnya, tertawa tanpa suara ketika mendengar pertanyaan Wulan. "Cinta?"
Dhara menggeleng sambil mengulum senyum. Ia selalu mengkhawatirkan uang, mengkhawatirkan apakah uangnya cukup untuk biaya sewa kontrakan, membeli makan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Cinta? Bagaimana Dhara bisa memikirkan soal cinta kalau kepalanya setiap hari sibuk memikirkan uang? Cinta bahkan tidak masuk daftar prioritas Dhara. Selain menangis, Cinta juga merupakan sebuah kemewahan bagi orang miskin sepertinya.
"Satu-satunya yang bikin Tante dan aku hidup selama ini adalah uang! Screw love! It doesn't even worth it."
Wulan membuka mulutnya, ingin membalas ucapan Dhara ketika Esa mengetuk pintu kamar dan masuk ke dalam. "Nona, Anda harus ke butik untuk mencoba gaun. Pak Shaka udah menunggu."
Dhara melirik jam dinding. Baru pukul empat sore. Bukankah acaranya pukul tujuh? Namun, Dhara tak berkomentar, meletakkan piring berisi apel yang sudah ia kupas dan membereskan sampah-sampah dan memasukkannya ke dalam kantung plastik. Dhara meletakkannya ke alam tong sampah. Perawat akan mengambil sampah di kamar Wulan sebelum makan malam.
"Aku duluan ya Tante," kata Dhara sambil beranjak bangkit. "Makan apelnya, makan yang banyak. Aku mau Tante cepet sembuh. Nggak usah mikirin aku, aku seneng-seneng aja kok."

KAMU SEDANG MEMBACA
Rented Wife
General FictionShaka Alastair bersedia membayar Dhara untuk menjadi istrinya. Bayarannya tinggi, dengan kontrak yang jelas dan Dhara juga tak perlu melayani Shaka karena laki-laki itu terduga hompimpa alaihum gambreng alias penyuka sesama jenis. Masalahnya, Shaka...