Resepsi pernikahan Dhara dan Shaka diadakan secara tertutup, hanya mengundang beberapa kolega bisnis terdekat, tanpa mengizinkan pers mengambil foto mereka. Wulan meneteskan air matanya ketika melihat Dhara dan Shaka berciuman di depan altar setelah mengucapkan janji pernikahan mereka. Ia datang dengan kursi roda dan perawat yang mendorongnya.
Wulan sempat memeluk Shaka, membisikkan sesuatu ke telinganya dan tersenyum ketika Shaka membalasnya. Lalu, ia beralih pada Dhara, memeluknya dengan penuh rasa haru. Di sisa umurnya, ia bisa melihat sosok yang ia besarkan mengenakan gaun pengantin mewah, dirias cantik dan berjalan menuju pangerannya dengan penuh senyuman.
"Tante ngomong apa sama Shaka?" tanya Dhara membuat Wulan mengusap air matanya dan tersenyum jenaka. Dhara punya perasaan tak baik soal jawaban Wulan.
"Tips dan trik malam pertama yang benar dalam satu kalimat," kata Wulan membuat Dhara berdecak.
"Tante ih!"
Wulan tertawa, berlalu melewati Dhara bersama perawatnya. Lalu Dhara dan Shaka didatangi satu per satu koleganya, mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Mata Dhara menangkap sosok Anindita yang datang dengan wajah berkerut penuh kemarahan. Ia menghela napas dan mengalihkan tatapannya dari Anindita. Dhara berjengit ketika merasakan tangan Shaka melingkar di tubuhnya dan pria itu mencium keningnya.
Dhara menatapnya yang tersenyum puas, menatap menang kepada Anindita yang berjalan pergi dengan wajah masam. Dasar picik!
"Kayak bocah," komentar Dhara membuat Shaka meliriknya.
"Siapa?"
"Om lah!" bisik Dhara pelan.
Ia tersenyum menyambut kolega bisnis Shaka yang mengucapkan selamat. Sementara, Shaka menatapnya dengan mata berkilat. Mungkin marah. Dhara tidak begitu peduli. Resepsi pernikahan berjalan dengan lancar. Wulan kembali ke rumah sakit untuk pengobatannya. Dhara pulang ke mansion Shaka untuk istirahat. Ketika tiba di mansion Shaka, Dhara berjalan menuju kamarnya duduk di ranjangnya sambil menggumam tak jelas. Ia lelah sekali.
Pintu kamarnya terbuka. Shaka berdiri di ambang pintu.
Dhara menatap Shaka. Ia mengenakan tuxedo putih gading dengan hiasan bunga di saku. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi. Shaka tampak sedikit berantakan, mungkin lelah. Dhara melepaskan pegangannya dari ujung gaun pengantinnya, gaun pengantin klasik berlengan panjang, tetapi menonjolkan belahan dada Dhara dan melekat pas di tubuh Dhara.
"Apa?" tanya Dhara dengan alis terangkat.
Shaka menutup pintu, mendekati Dhara seraya melepaskan tuxedonya. Dhara melangkah mundur dengan kening berkerut. Sementara Shaka membuang tuxedonya sembarangan dan mencium bibir Dhara, liar, panas dan menuntut. Dhara membulatkan matanya, memukul dada Shaka sambil menjerit. Bukankah mereka tidak akan berhubungan badan?
Namun, Shaka mengabaikannya dan menyentuh tangannya. Ia mendorong tubuh Dhara ke atas ranjang dan menciumi lehernya, sengaja meninggalkan bekas di leher Dhara. Niatnya mau menolak, tapi Dhara malah terbuai. Mau menolak kenyataan seperti apapun, Dhara tahu ia menikmati ciuman Shaka. Ia terkesiap pelan ketika lidah Shaka menjilati leher dan dadanya, memberikan bekas gigit dan isap di titik-titik tertentu. Perlahan, Shaka menaikkan gaun pengantin yang masih Dhara kenakan, menyentuh inti tubuhnya yang basah dan terangsang.
Shaka menggeram pelan, melepaskan celana dalam yang Dhara kenakan dengan sekali tarikan dan menggunakan jari tengah dan jari manisnya untuk mengusap klitorisnya. Napas Dhara memberat ketika Shaka menyentuhnya. Ia harusnya memukul pria itu, bukan mengerang dan meremas bahunya sambil menikmati semua sentuhannya. Pekikan Dhara terdengar nyaring ketika dua jari Shaka menelusup, bergerilya menghantam g-spotnya dan membuat desahan Dhara tak tertahankan.
Bibir Shaka masih sibuk menciumi bibir, leher atau dada Dhara bergantian. Ia belum memutuskan untuk menyerang payudaranya. Dhara meremas kemeja Shaka ketika puncaknya mendekat. Seluruh tubuhnya terasa begitu sensitif. Shaka mempercepat tempo jarinya, menatap Dhara yang menggelinjang, gemetar dan akhirnya menegang ketika cairannya membasahi jari-jarinya.
Wajah Dhara memerah, dengan bibir sedikit terbuka dan mata sayu yang berkabut penuh kepuasan. Shaka tahu Dhara yang pernah merasa seperti ini. Ia ikut terengah, menekan hasratnya yang meraung minta dibebaskan. Dhara memang kelihatan menawan dengan gaun pengantinnya, tetapi ia jauh kelihatan lebih indah seperti ini, dengan wajah berkabut penuh gairah dan kepuasan dan gaun pengantin yang berantakan. Shaka ingin melakukan lebih, tetapi teringat pada pasal kontrak mereka.
Secara teknis, ia sudah melanggar pasal kontak fisik itu begitu pintu kamar Dhara tertutup. Tidak ada siapapun di sini, tetapi ia akan menggunakan alasan jika pegawai di dalam rumahnya akan keheranan jika mereka tak menghabiskan malam bersama. Celananya terasa sesak. Shaka menggeram pelan, menatap wajah Dhara yang membuatnya terpesona. Sial. Ia harus menyentuh dirinya sendiri.
"Malam pertama kita," desisnya berat pada Dhara yang masih terengah.
Dhara mengedipkan matanya satu kali, menatap Shaka dengan mata berapi-api dan segera duduk untuk menurunkan gaunnya yang tersingkap. Tangannya bergetar ketika ia mencoba menurunkan gaunnya yang tersingkap hingga ke pinggang. Inti tubuhnya terasa lembab, tidak, sangat basah hingga terasa licin. Dhara hampir mengerang ketika kulit-kulitnya di bawah sana saling bergesekan.
"Orang sinting," maki Dhara dengan tubuh bergetar.
Oh, ia masih menikmati puncaknya.
Shaka menatap Dhara yang tidak bisa berdiri. Shaka tersenyum tipis, puas menyadari jika itu adalah fingering terbaik yang bisa Dhara terima seumur hidupnya. Buktinya, perempuan itu masih gemetar karena puncaknya masih belum habis. Ada rasa puas dan bangga di dada Shaka, mengetahui jika tidak ada laki-laki manapun yang bisa membuat Dhara seperti ini. Dan tidak akan ada yang bisa menyentuh Dhara selain dirinya.
"Keluar sebelum saya tendang!" ancam Dhara garang dengan wajah memerah.
Shaka tak mengatakan apapun, mengambil tuxedonya yang ia buang dan melangkah menuju pintu keluar. Ia sangat tergoda, benar-benar tergoda untuk berbalik dan kembali membaringkan Dhara dan melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya. Dhara masih bisa terpuaskan jika Shaka melebarkan kakinya, menyatukan tubuh mereka dan menghentak kasar ke dalam tubuhnya. Perempuan itu mungkin menjerit-jerit puas jika ia melakukannya, tetapi Shaka tidak mau mengambil risiko dan melanggar kontrak mereka lebih jauh lagi.
Ia menatap Dhara yang masih memerah. Dhara kelihatan luar biasa, indah, mempesona. Shaka memasang senyum miringnya. "Selamat malam, istriku."
Pintu tertutup. Dhara melemparkan bantalnya geram ke arah pintu. Sedikit cairan keluar dari inti tubuhnya, membuat klitorisnya yang masih sensitif sedikit bergesekkan dengan pahanya. Dhara menggeram. Ia masih menginginkan lebih, tetapi tidak bersama dengan Shaka. Napasnya memburu, kepalanya panas dan hatinya meraung meminta Dhara supaya berlari ke kamar Shaka untuk menyerangnya.
Tidak akan!
Dhara berteriak kesal, menendang kakinya ke udara, tetapi meringis karena gerakannya membuat titik-titik sensitif di tubuhnya kembali terangsang. Dhara juga manusia biasa. Memiliki nafsu birahi adalah hal yang lumrah bagi seluruh makhluk hidup. Dhara pernah menyentuh dirinya sendiri, tetapi sangat jarang dilakukan, Hanya jika ia dalam masa hormonal tinggi dan jika ia tidak terlalu kelelahan. Namun, akhir-akhir ini Dhara tak punya banyak hal untuk dilakukan dan ia dalam masa hormonal tinggi itu.
Dhara mengumpat, berjalan menuju pintu dan menguncinya. Ia mengambil bantal yang ia buang, melemparkannya ke ranjang dan meraih celana dalamnya yang tergeletak di lantai. Shaka memang bajingan, tetapi Dhara menginginkan sentuhannya lagi. Ia tidak hanya mau sentuhan. Ia ingin lidahnya juga bermain-main di seluruh tubuhnya. Pria itu bisa mengguncang tubuhnya, tetapi Dhara tidak akan membiarkannya. Ego dan gengsinya masih membuat pikiran Dhara tetap waras.
Sial. Dhara harus menyentuh dirinya lagi malam ini! Semua gara-gara Shaka!

KAMU SEDANG MEMBACA
Rented Wife
General FictionShaka Alastair bersedia membayar Dhara untuk menjadi istrinya. Bayarannya tinggi, dengan kontrak yang jelas dan Dhara juga tak perlu melayani Shaka karena laki-laki itu terduga hompimpa alaihum gambreng alias penyuka sesama jenis. Masalahnya, Shaka...