Sudah beberapa hari ini Shaka mengikuti Dhara. Bahkan sampai ke Centennial pun diikuti. Dhara hanya bisa mengatupkan bibir dan tersenyum ramah tak ikhlas setiap kali harus melayani Shaka. Pria itu persisten sekali! Setiap hari ia memberikan kartu nama, juga uang tip jika datang ke Papa Resto. Namun, Dhara selalu membuang kartu namanya dan hanya menerima uangnya.
Siapa yang peduli? Beberapa lembar uang seratusan ribu tidak akan membuat Shaka bangkrut.
"Tumben amat Shaka Alastair itu datang ke sini lima hari berturut-turut?" komentar Diani pada Dhara.
Dhara mendengkus, menatap Diani yang menatapnya dengan senyum geli. Perempuan akhir empat puluhan yang mungkin sebaya dengan Wulan itu jelas sudah tahu alasannya. Senyumnya melebar melihat reaksi Dhara. Yah, ia memang sudah tahu.
"Nggak mau diterima lamarannya?" goda Diani sambil menahan tawa. "Kalau nikah sama dia, lo nggak perlu repot-repot jadi pelayan deh."
"Bos aja, ogah gue!" kata Dhara membalas. Diani tipikal perempuan gaul yang tidak mau bawahannya bicara formal padanya. "Kecuali dunia runtuh, baru gue nikah sama modelan itu."
"Amit-amit! Dunia runtuh mah, kiamat!" omel Diani membuat Dhara tertawa.
"Ya, pokoknya, gue nggak bakalan mau nikah sama dia! Orang, jack aja bilang dia homo kok," balas Dhara.
"Bukan. Gue juga punya radar homo apa nggak. Shaka Alastair tuh, nggak termasuk."
Dhara mengangkat bahu tak peduli, mengambil minuman yang diletakkan oleh bartender di depan mejanya. Ia beranjak, mengantarkan minumannya ke meja Jack yang sedang berkumpul dengan Steven, Reiner dan satu wajah baru yang sudah Dhara kenal, tapi jarang bersama mereka. Dhara melirik Jack yang sibuk bertukar kata-kata genit kepada pria itu.
"Dia nggak dapet Shaka, jadinya lari ke William," ujar Reiner memberitahu.
Dhara tersenyum. "He deserve better than that asshole."
Reiner tertawa pelan, menatap Dhara jenaka. "You're going marry him, anyway. Don't be like that."
Dhara mengedipkan matanya terkejut, melirik Reiner dengan wajah horor. "Apa?"
"Hey Darling!" sapa Jack ketika menyadari jika Dhara sedang mengantarkan minuman ke mejanya. "Or should I call you soon to be Mrs. Alastair?"
"Don't call me Alastair! That's insulting!" balas Dhara bergidik.
"Lah? Bukannya kalian mau nikah?" tanya Steven heran. "Dia bilang sendiri ke orang-orang di sini supaya bersikap baik ke lo."
What the fuck!
"Nggak, gue nggak akan nikah sama piece of shit."
Jack menyeringai, mengerling pada Dhara. "Oho, jadi Shaka bertepuk sebelah tangan ke pelayan Centennial? Big News!"
"Bertepuk sebelah tangan dari Hongkong! Orang dia aja baru tahu gue hidup beberapa hari lalu!" Dhara mengibaskan tangannya. "Nggak usah ditanggepin dia mau ngomong apa. Sinting kali dia, capek kerja."
Jack tertawa geli, beralih pada William dan mengenalkannya pada Dhara. "Oh, ini Dhara. Kamu pasti udah kenal dia kan?"
William mengangguk dan menatap Dhara sambil tersenyum sopan. "Dia pelayan paling muda di sini kan. Pasti aku kenal."
Dhara membalas senyum sopan William. "Betul. Gue balik kerja lagi ya. Selamat menikmati."
Ia beranjak meninggalkan meja Jack dan kawan-kawannya sambil mendumal dalam hati. Dhara mengambil pesanan yang di meja bartender. Pas sekali! Ia akan mengantarnya ke meja Shaka. Dhara melangkah menuju Shaka yang sudah menunggunya sambil tersenyum dengan mata berapi-api. Pria itu benar-benar menguji kesabarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rented Wife
General FictionShaka Alastair bersedia membayar Dhara untuk menjadi istrinya. Bayarannya tinggi, dengan kontrak yang jelas dan Dhara juga tak perlu melayani Shaka karena laki-laki itu terduga hompimpa alaihum gambreng alias penyuka sesama jenis. Masalahnya, Shaka...
