Sembilan belas

33.1K 1.8K 21
                                    

Masa kehamilan menjadi masa yang cukup membuat emosi Dhara naik turun. Hormon, morning sickness, nyidam yang aneh-aneh, semua Dhara alami. Tentu saja Shaka dengan sabar memenuhi semua yang Dhara inginkan, menemaninya dan merawatnya selama ia mengalami morning sickness. Namun, keadaan membaik setelah memasuki minggi terakhir kehamilan.

Dhara melahirkan secara normal pada sembilan April, tepat pada pukul sepuluh lewat lima belas menit. Seperti yang sudah mereka ketahui, bayi pertama mereka berjenis kelamin perempuan, diberi nama Ivy Alastair. Shaka tak bisa menyembunyikan air matanya ketika ia menggendong Ivy di depan Dhara, mengucap syukur kepada Tuhan berulang kali karena memiliki Dhara dan Ivy.

Wulan sempat menggendong Ivy sampai ia berusia sembilan bulan, sebelum akhirnya tutup usia karena mengalami penurunan kesehatan. Kematian Wulan membuat Dhara terpukul. Namun, Wulan sempat membisikkan satu hal pada Dhara sebelum ia pergi untuk selama-lamanya, bahwa kematiannya bukan salah Dhara dan Dhara harus hidup bahagia dengan Shaka.

"Kenapa nggak minta tolong Septa?" tanya Shaka ketika Dhara membereskan barang-barang peninggalan Wulan di rumahnya.

Dhara mengusap air matanya, menatap Shaka dengan mata memerah dan tersenyum. "Septa kan masih harus belajar sama Bi Retno. Lupa ya, Bi Retno mau pensiun?"

Shaka mendekati Dhara yang sedang melipat pakaian-pakaian Wulan. Rencananya, Dhara akan menyumbangkan pakaian-pakaiannya yang masih layak kepada yang membutuhkan. Shaka ikut duduk di lantai bersama Dhara yang sedang melipat pakaian Wulan, membantunya tanpa diminta.

"Di hari pernikahan kita, Tante Wulan ngasih tahu sesuatu ke aku," kata Shaka membuat Dhara menghentikan pergerakannya dan menatap Shaka lekat.

"Apa?" tanyanya lirih.

"Arti namamu. Tante Wulan bilang padaku arti namamu dan kenapa ia menamaimu begitu," jawab Shaka sambil tersenyum tipis.

"Supaya aku menjadi bumi, menjadi dunia untuk seseorang," balas Dhara dengan air mata menggenang. Ia menatap Shaka yang tersenyum.

Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap air mata yang menetes di pipi Dhara dan memeluknya hangat. "Kamu adalah duniaku, Dhara. Bumiku. Tante Wulan memilih nama yang tepat untukmu."

Dhara tersenyum di antara air matanya, merasakan kesedihan, kehilangan, tapi juga kehangatan dan merasa dicintai dalam waktu yang sama. Dulu, Dhara begitu takut ditinggal oleh Wulan karena ia tak punya siapa-siapa lagi. Ia sendirian. Namun, sekarang berbeda. Dhara punya Shaka. Dhara punya Ivy, putri mereka yang pintar dan menggemaskan. Ia memeluk Shaka erat.

"Kamu boleh bersedih, Dhara, tapi jangan berlarut-larut," bisik Shaka lembut seraya mengelus rambut Dhara sayang. "Tante Wulan mungkin meninggalkanmu, tetapi kamu masih punya aku dan Ivy."

Dhara mengangguk dalam pelukan Shaka, tertawa pelan meski air mata mengalir deras di wajahnya. Ada sebuah kelegaan ketika ia menyadari jika ia memiliki Shaka dan Ivy. "Kamu benar. Aku memilikimu dan Ivy."

Ia melepaskan pelukannya dari Shaka, melanjutkan pekerjaannya dan selesai membereskan barang-barang Wulan sebelum sore. Dhara membiarkan Esa yang menyumbangkan pakaian layak Wulan. Ia hanya menyimpan sebuah foto Wulan yang menggendong dirinya sebagai kenang-kenangan. Dhara tidak memiliki foto Wulan yang lain sehingga foto itu akan menjadi kenangan berharga baginya.

Dhara melanjutkan kehidupannya. Ivy bertambah usia dan ia tumbuh menjadi anak yang aktif, penuh rasa ingin tahu, ceria dan juga hangat. Dhara kadang sampai kewalahan menemani Ivy bermain saking aktifnya putri kecil mereka.

"Papa!" Ivy berlari kepada Shaka ketika ia pulang kerja.

Shaka berjongkok, menyambut Ivy dengan tangan terbuka lebar dan mengangkatnya ke udara sebelum menggendongnya. "Anak Papa ngapain aja hari ini?"

Ivy terkikik ketika Shaka mencium pipi tembamnya berulang kali. Dhara menatap keduanya dengan senyum lebar. Ivy segera menginjak usia empat tahun, yang berarti Shaka juga akan segera berusia empat puluh tahun. Shaka masih seperti saat Dhara bertemu dengannya. Tampan dan mempesona. Yang berubah adalah, Dhara tidak lagi menyematkan sebutan asshole dalam setiap namanya.

"Ivy tadi ketemu sama Tante Anin! Terus Tante Anin beliin Ivy es krim," ceritanya lucu.

Shaka tersenyum, melirik Dhara dengan tatapan bertanya. Matanya berkilat, cemburu. Dhara tertawa, menggeleng sambil berkata, "dia ngenalin pacar barunya."

Anindita sudah menemukan tambatan hatinya. Bukan Dhara, tetapi seorang perempuan cantik yang bekerja untuknya, Elisa. Dhara masih merasa aneh melihat Anindita dengan orang yang ia cintai, tetapi ia tetap tersenyum bahagia untuknya. Mereka masih bersahabat. Anindita juga menyayangi Ivy seperti ia menyayangi Dhara saat ini. Hanya saja, ia dan Shaka masih tetap berperang, saling membenci satu sama lain walau tak ditunjukkan seperti dulu.

Shaka tak membalas, tetapi masih menatap Dhara dengan mata berkilat cemburu. Ekspresinya seolah bicara bahwa ia akan mengurus soal hal itu di kamar mereka nanti. Dhara hanya menghela napas, menggeleng pelan.

"Makan dulu. Ivy bilang ke Papa biar mandi dulu," kata Dhara yang langsung dituruti oleh Ivy.

"Papa mandi dulu, abis itu makan sama Ivy ya?"

Shaka tersenyum lebar, mencium pipi Ivy lagi sambil membawanya mendekat pada Dhara. Ia mendudukkan Ivy di kursi meja makan, menarik Dhara mendekat dan mengecup pipinya posesif. "Aku tetep nggak suka sama temenmu itu."

Dhara tertawa. "Mandi sana," suruhnya sambil memasang wajah meledek.

Shaka memasang wajah masam, tetapi menurut. Ia menyempatkan diri untuk diam-diam meremas bokong Dhara saat Ivy tak melihat lalu berlalu ke kamar mandi. Dhara hanya berdecak pelan, tidak bisa mengomel karena ada Ivy. Shaka masih sama posesifnya. Padahal, Dhara jelas-jelas tidak akan tergoda oleh siapapun, tetapi Shaka tetap saja pencemburu.

Bagaimana mau tergoda orang lain jika suaminya adalah Shaka Alastair?

Usai makan malam, Shaka dan Ivy bermain-main bersama, hampir mengabaikan Dhara sepenuhnya. Dhara tidak mempermasalahkan hal itu. Ia menggunakan waktunya untuk beristirahat, kadang membaca buku. Ketika Ivy mengantuk, Dhara dan Shaka membawanya ke kamarnya sendiri dan meninabobokannya hingga terlelap.

Ivy tidur sendiri sejak tahun lalu. Awalnya, Dhara tidak mau membiarkannya tidur sendiri, tetapi setelah membaca buku dan berkonsultasi dengan psikolog anak, Dhara akhirnya membiarkan Ivy tidur sendirian. Tidak mudah awalnya, tetapi mereka berhasil melewatinya.

Dhara menguap kecil, berbaring di ranjangnya ketika Shaka mengunci pintu, melangkah mendekat padanya sambil melepaskan piyamanya. Ia mencium bibir Dhara lembut seraya mengelus tubuhnya sensual.

"Jadi, Nenek Sihir itu ngapain, Dhara?" bisik Shaka seraya menyentuh tubuh Dhara.

Dhara hanya tertawa, mengerang pelan seraya mengelus pipi Shaka. "Rahasia?"

Shaka menggeram kesal, membuat Dhara tertawa. Dhara sering menggodanya setiap ia cemburu dan hal itu sering membuat Dhara melihat bintang lebih banyak dari yang biasa terjadi. Tidak masalah. Dhara menyukainya. Shaka sering cemburu, tetapi ia tahu hati Dhara hanya untuknya.

Malam itu, seperti yang sudah-sudah, Shaka kembali membuat Dhara menjeritkan namanya, memberitahukan pada Dhara bahwa ia hanya bisa mencintai Shaka apa pun yang akan terjadi. Dhara adalah milik Shaka, dan Shaka adalah milik Dhara. Tidak akan ada yang bisa merubah hal itu, kecuali Tuhan.

Rented WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang