Menebus Janji

692 95 8
                                        

Silahkan kalian baca dulu, dua part sebelumnya karena ini merupakan satu bagian dari cerita. Terima kasih. Jangan lupa feedback-nya ya!

Nara, gadis kecil itu hanya berdiam diri sedari tadi dengan ponsel yang melekat di tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nara, gadis kecil itu hanya berdiam diri sedari tadi dengan ponsel yang melekat di tangannya. Aku menoleh ke arah Mas Jaehyun, berbicara tanpa suara untuk meminta bantuan karena sejak sarapan tadi Nara hanya menjawab singkat setiap pertanyaanku.

"Kakak, ayo bersiap. Ayah ingin menebus janji Ayah yang kemarin."

"Iya, Ayah?"

"Toko Korea kesukaan kamu," jelas Ayahnya lagi.

Nara terlihat berpikir, aku dan Mas Jaehyun saling bertatapan berharap cemas semoga Mas Jaehyun bisa membuat mood Nara kembali seperti sebelumnya. Bahuku merosot saat melihat Nara hanya menggelengkan kepala singkat pertanda tidak setuju.

"Ah itu, bisa nanti saja, Yah?" tanyanya.

Mataku mengintimidasi Mas Jaehyun agar dia berusaha mencari cara yang lain. "Ayolah, Mas," batinku.

"Sembari temani Ayah ke Ikea, beli lampu meja belajar kamu yang baru." Beberapa hari yang lalu Nara memberitahuku bahwa desk lamp miliknya rusak membuat dia merasa kesulitan untuk belajar di malam hari.

Anak itu memang rajin sekali belajar terkadang aku pun di buat heran. Meski dirinya suka dengan hal-hal yang berbau Korea tapi dia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang pelajar, maka dari itu Mas Jaehyun selalu memberikan reward padanya.

Reward di sini bukan untuk memanjakannya melainkan untuk menghargai semua usaha keras Nara dalam belajar terutama saat Kakak mendapatkan nilai yang bagus.

Sebagai orang tua, aku dan Mas Jaehyun tidak pernah mewajibkan Nara untuk mendapatkan juara kelas, yang terpenting bagi kami adalah dia menikmati dan senang dengan apa yang dia lakukan tanpa paksaan dari siapa pun.

"Baiklah Ayah, Kakak bersiap ya," katanya dengan wajah tanpa ekspresi.

Saat Nara sudah menjauh dari Mas Jaehyun, aku berjalan menghampiri suamiku yang sedang tersenyum ke arahku.

"Mas, kamu lihat bagaimana ekspresinya tadi?" tanyaku, "datar. Aku merasa khawatir," ucapku lirih.

"Tak apa, jangan khawatir. Aku akan berbicara dengannya nanti. Apa kalian mau ikut?"

"Tidak, aku di rumah dengan Jean saja," tolakku. Biarkan mereka memiliki waktu berdua. Aku berharap Mas Jaehyun bisa memberikan pengertian kepada Nara.

Sebelum Mas Jaehyun berjalan ke arah kamar, aku menahan lengannya. "Mas, jangan paksa dia untuk cerita selama dia belum siap, eum? Yang terpenting kita ada untuk Nara saat ini. Aku benar-benar sedih melihatnya seperti itu, dia anak yang ceria tapi sekarang aku melihat ada yang berbeda dalam dirinya. Mungkin usianya memang masih belia tapi dia sangat sensitif dengan keadaan sekitarnya."

JAEHYUN IMAGINES (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang