The Devil pt. 3 🔞 (END)

1K 75 4
                                        

Apa kalian pikir aku bisa kabur darinya? Nyatanya tidak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Apa kalian pikir aku bisa kabur darinya? Nyatanya tidak. Laki-laki yang berstatus sebagai suamiku ini tidak membiarkan aku pergi dari hidupnya.

Setelah apa yang dikatakan rekannya yang ingin membantuku keluar dari rumah itu membuat Jaehyun semakin murka. Tanpa berpikir ia membawaku pergi dari rumah tanpa ada persiapan sama sekali.

Di sepanjang perjalanan aku tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Berani untuk menatapnya pun tidak karena aku baru mengetahui sisi gelapnya yang menakutkan yang baru kutahu.

Aku tahu Jung Jaehyun merupakan pria yang tidak suka dibantah. Mata gelapnya, rahang tegasnya dan cara bicaranya mampu membuat diri ini tak berkutik. Dia begitu berkuasa terhadap hidupku.

Entah apa yang akan terjadi nanti kepada hidupku ini, yang jelas aku terlanjur pasrah. Mati di tangannya sekali pun tak mengapa. Rasanya aku sudah lelah kalau harus bertengkar dengannya dan mencari cara agar bisa lepas dari jeratannya. Bagaimana pun aku berusaha hasilnya akan tetap sama.

Kudengarkan dirinya yang sedang menghubungi seseorang, entah siapa yang sedang dia hubungi pada saat ini. Dia hanya meminta orang tersebut untuk datang ke rumah dan menyiapkan segala kebutuhan kami termasuk paspor dan visa.

Dia ingin membawaku pergi jauh?

Ke mana dia akan membawaku pergi? Itu yang aku pikirkan. Setelah ini akan semakin sulit untuk aku meminta bantuan. Jaehyun akan memperlakukanku lebih dari sebelumnya.

Tanganku tergerak ke arah sisi. Berniat untuk membuka pintu mobil dan berlari sekencang mungkin. Rasanya hanya ini yang bisa aku lakukan, kabur dari dirinya secepat mungkin.

Pergerakanku tak luput dari pandangannya, sayang sekali aku harus kembali tertangkap basah. Dengan cekatan dia menarikku kembali agar duduk. Bahkan dengan berani dia memintaku untuk duduk di pangkuannya sembari menyetir.

Jantungku seakan melompat pada tempatnya. Tidak dapat dipungkiri, aku mulai jatuh hati pada suamiku sendiri. Apakah aku bertindak bodoh? Bagaimana bisa aku mencintai dia yang seringkali menyakiti hatiku?

Aku mengeratkan tubuhku pada tubuhnya. Membiarkan diriku tertidur dalam dekapan hangatnya karena fisik dan hatiku yang semakin lelah.






Aku tidak tahu seberapa kaya Jaehyun sampai bisa membawaku kemari. Hawaii, semakin berpikir keras apa alasan dia membawaku ke tempat ini? Sedikit aneh karena kami memang belum pernah berbulan madu.

Apakah ini memang yang dia inginkan? Rasanya tidak mungkin. Aku kembali bertanya-tanya di dalam hati. Mencari tahu dan menerka-nerka apa yang membuat dirinya melakukan keputusan ini.

"Jangan banyak berpikir," ujarnya memecah lamunan. Mataku menoleh ke arah lain. Rasa kesal itu masih ada. Aku merasa kesal karena dia yang selalu berbuat sesuka hati. Tidak pernah dirinya meminta saran dariku yang seharusnya hal seperti itu memang pantas dia lakukan karena dia memiliki pasangan.

Jangan berharap lebih pada pria bernama Jung Jaehyun. Itu yang harus aku tegaskan. Sepertinya aku harus menegaskan diri agar semakin tidak terjatuh pada pesonanya. Jujur, pesona yang dia miliki terlalu kuat, ada magnet tersendiri dalam dirinya yang membuat semua wanita menyukai Jaehyun.

Kualihkan pandangan pada pantai yang terlihat cantik di malam hari. Aku rasa, dia memang sengaja memilih tempat yang dekat dengan pantai. Entah ada motif apa dibalik ini semua.

Jaehyun bergerak menyentuh rahangku, ibu jarinya mengusap pipi kiriku dengan lembut. "Selama di sini saya membiarkanmu untuk mengistirahatkan tubuh. Setelah kita kembali kau akan tetap bekerja."

"Bisakah aku berhenti?"

"Lalu bagaimana kamu membayar semua hutang-hutang yang ditinggalkan Ayahmu?"

"Aku akan bekerja, Mas. Beri aku waktu dan kesempatan."

Jaehyun menggeleng kuat, sedangkan aku meremat rambutku frustasi. Bagaimana caranya agar dia berubah?

"Saya memberikanmu segalanya. Semua yang kamu minta pasti akan saya turuti. Lalu kamu? Bukankah tugas seorang istri menuruti semua keinginan suami?"

"Keinginan yang mana?"

"Apa menjual diri, mengangkang di depan kolegamu, memberikan kepuasan kepada mereka? Itu yang kamu maksud? Kurasa, kamu sedang sakit."

"Berani sekali kamu?"

"Mas, kalau memang kamu merasa ada yang nggak sesuai sama diri kamu. Kita bisa sama-sama cari tahu. Aku janji selalu ada di samping kamu. Tapi tolong, jangan minta aku buat melakukan itu lagi. Seharusnya kamu yang berhak atas tubuhku, bukan orang lain." Semoga dirinya mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku sudah muak jika harus melakukannya lagi dan lagi apalagi aku sama sekali tidak mengenali mereka.

"Jangan banyak membantah dan jangan sok tahu."

Dia pergi meninggalkanku seorang diri. Menutup pintu kamar dengan kasar. Dentuman yang dihasilkan begitu memekakkan telinga.

Tak peduli dengan apa yang dia lakukan. Aku memilih mencari udara segar. Hanya itu yang kubutuhkan. Melepas penat dan melupakan pertengkaran yang telah terjadi barusan.

Kupandangi ombak dalam diam. Mengagumi pemandangan langit yang begitu indah. Memandangi hasil karya Tuhan yang begitu sempurna. Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur karena bisa merasakan dan menatap indahnya malam ini. Mungkin orang lain sangat ingin hidup di saat mereka sedang berjuang dan bertahan sedangkan aku, kalau saja bukan seseorang menarik tubuhku mungkin aku sudah tidak bernyawa lagi.

"Kamu mau mati?"

"Mati lebih baik daripada harus menjalani hidup bersama monster kayak kamu."

Percobaan bunuh diri yang pertama gagal. Dia kembali menarik tanganku untuk memasuki rumah yang dirinya sewa. Aku tidak pernah tahu sampai kapan dia bertahan di tempat ini.

"Ini yang kamu minta kan?"

Dengan tatapan mengintimidasi dia mendorong tubuhku ke atas ranjang. Tak peduli dengan bagaimana rasa sakitnya dan rasa sedih yang menyayat hati. Lebih-lebih dia menulikan telinganya dari suara tangisan dan jeritan yang aku keluarkan.

Kalian tahu apa yang sedang ia lakukan? Bukan ini yang aku minta. Aku tidak pernah meminta dia untuk melakukan itu seperti orang yang sedang kesetanan.

Aku takut,

Aku takut,

Aku takut,

Serasa ada iblis yang sudah merasuki dirinya. Dengan teganya dia mencekik leherku tanpa ampun. Membuat diriku kesulitan untuk bernapas. Jika memang ini akhir dari hidupku. Aku akan mencoba ikhlas.

Terima kasih untuk pria bernama Jung Jaehyun. Aku tidak akan melupakan bagaimana caramu memperlakukanku.















Just imagine ya. Bijaklah dalam membaca setiap bacaan.

JAEHYUN IMAGINES (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang