Work ini adalah lanjutan kisah Jaehyun As. Mungkin cerita sebelumnya lebih menceritakan perihal Jika Jaehyun menjadi, tapi work kali ini lebih mengangkat ke topik permasalahannya. Ada kemungkinan juga beberapa Chapter yang belum terselesaikan di par...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jum'at ini gue balik ke Jakarta berniat merajuk ke Papa yang dengan seenaknya menerima lamaran pria lain tanpa sepengetahuan dan persetujuan gue.
"Bang Taeyong kenapa diem aja sih? Kenapa nggak bilang ke aku kalau bakal ada perjodohan kayak gini?"
"Bukan Abang yang mutusin, Dek. Papa yang mutusin. Lagi pula papa dan Kakek kenal dekat dengan Papanya calon suami kamu."
"Please Bang, bantuin aku jelasin ke Papa. Y/N baru banget jadi Maba masa udah harus nikah sih?"
"Siapa yang bilang kamu nikah sekarang?" Gue menatap Papa yang baru aja tiba setelah pulang dari kantor.
"Sejak kapan kamu pulang?" tanya Papa lalu mendudukkan dirinya tepat di samping Bang Taeyong.
"Memangnya Y/N harus kasih pengumuman terlebih dahulu kalau mau pulang ke sini?" sarkas gue.
"Dek?" tegur Bang Taeyong.
Gue kesal sama Papa ya, ini hidup gue dan gue nggak mau diatur. Meskipun gue sempat salah memilih pelabuhan bukan berarti untuk sekarang gue harus mengikuti kemauan Papa kan? Maksud gue, gue masih bisa memilih dan mencari calon suami dan itu masih banyak waktu menurut gue bukan sekarang dan terkesan terburu-buru.
"Pah, Y/N udah punya pacar. Gimana nanti sama pacar Y/N?"
"Jangan bohong kamu, Papa tau kamu nggak punya pacar."
"Papa bisa tanya sama Joana ataupun Amanda. Y/N pacaran sama anak kampus," ucap gue asal.
"Pah, Y/N nggak kenal sama dia."
"Dia dulu guru kamu kan? Kata dia kalian dekat kok."
"Intinya aku nggak mau tunangan atau nikah sama orang yang nggak aku kenal."
"Y/N, Papa percaya dia orang baik. Kakak kamu juga nggak masalah kalau kamu nikah lebih dulu."
Bukan itu Papa, aku nggak cinta dan sayang sama dia. Andai Papa tahu. Aku masih sayang sama mantan aku.
"Papa nggak mau tahu, kamu tetap harus tunangan sama dia Minggu depan," ucap Papa memaksa.
"Y/N nggak mau Pah. Tolong jangan paksa aku. Aku bisa bawa pacar aku kalau Papa nggak percaya. Kali ini aku serius."
"Oke. Bawa pacar kamu besok. Kalau sampai besok yang kamu sebut pacar itu nggak datang. Kamu harus tunangan dengan pria pilihan Papa."