Hargai karya Author dengan pencet tanda vote.
I hope you like it<3
HAPPY READING~
****
Hari demi hari terus berlalu hingga hari pernikahan Chika dan Aran pun telah tiba. Para kerabat dan sabahat ikut berdatangan menyaksikan janji suci mereka.
Chika menatap pantulan wajahnya yang sudah setengah dipolesi makeup ala pengantin dengan kebaya putih yang sudah melekat di tubuh idealnya. Chika duduk tegap menghadap cermin meja rias dengan seorang MUA di sebelahnya yang sibuk mendandani gadis itu.
Gadis itu menghela nafas panjang, mengapa hari ini sangat menegangkan ketimbang memberi lihat skripsi pada dosen penguji?
"Gausah tegang dek walaupun mbak dulu juga tegang, tapi bawa santai aja." ucap MUA diiringi tawa kecil.
Chika tersenyum kikuk, "Hehe. Iya mbak."
Suara knop pintu berbuka menandakan ada seseorang masuk ke dalam ruangan. Chika tersenyum manis mendapati sang ibunda yang datang.
"Anak bunda cantik banget deh!" seru Sisca, menatap Chika dari pantulan cermin.
"Bunda juga cantik banget, Chika pangling liatnya."
"Hehe, bisa aja anak bunda." Sisca tersenyum.
Wanita berusia 39 tahun itu terlihat sangat cantik. Polesan makeup lengkap menyentuh wajahnya yang belum terlalu keriput itu. Dan juga kebaya berwarna putih bercampur silver melekat di tubuh Sisca.
"Kamu pasti gugup ya?" Sisca terkekeh melihat wajah tegang anak semata wayangnya.
"Iya bund, kenapa ya?"
"Padahal bukan Chika yang ucapin ijab khobul nya." kekeh Chika.
"Gapapa itu wajar, semua pengantin pasti seperti ini. Termasuk bunda dulu."
"Iya bund." lalu setelahnya keadaan hening, Chika, Sisca dan seorang MUA hanya fokus pada kegiatannya.
****
Sementara di sisi lain, lebih tepatnya di lantai paling dasar mansion Gracio. Aran dengan tuxedo berrwarna abu-abu dan putih ala pengantin yang dipakainya, terlihat gugup mengetahui acara akad nikah akan dimulai beberapa menit lagi.
Terlihat mulut seorang dosen muda itu berkomat-kamit tanpa suara menghapalkan teks ijab khabul yang sudah dihapalkan juga semenjak tadi malan.
Ini yang pertama kalinya untuk Aran, membuat jantungnya berdegup kencang seperti layaknya lampu disko.
"Saudara Arano apakah anda sudah siap?" tanya seorang penghulu yang baru saja menduduki kursi disusul dengan Gevano, ayah Chika di sebelahnya.
Aran menghela nafas sejenak dan mengangguk, "Sudah." tegasnya.
Pengulu mengangguk mantap. Lalu Gevano langsung menjabat tangan Aran dan mengucapkan kalimat-kalimat menikahkan. Setelah itu, giliran Aran yang mengulangi ucapan calon mertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Dosen Aran (OG)
Genç KurguHanya kisah seorang dosen yang berumah tangga dengan mahasiswanya sendiri. . . . . "Diam atau saya cium?" "Dosen sialan!" . . . . ? FOLLOW SEBELUM MEMBACA! ? DILARANG KERAS MENJIPLAK KARYA MURNI PEMIKIRAN @storyrevita
