Seorang pemuda berjalan pelan keluar dari kelasnya setelah selesai mengemasi barang-barangnya, merasa bahwa cacing-cacing di perutnya butuh makan ia mampir ke kantin sebentar untuk memeriksa ada apa di sana.
Ketika di jalan, cukup banyak yang mengenalnya dan menyapanya. Tentu saja, dia cukup terkenal sebagai aset Fakultas Arsitektur, mahasiswa tahun ketiga yang sewaktu Maba terlibat perkelahian dengan seorang senior dan lucunya senior itu sekarang menjadi teman dekatnya.
Sesampainya di kantin fakultas, ia memesan beberapa makanan. Kelas kali ini cukup menguras tenaganya dengan dosen yang terkenal cukup killer, itu sudah menjadi hal yang bisa kan?
"Gitu tuh yang katanya aset Fakultas Arsitektur, laper habis tebar pesona pak?"
Seseorang menghampirinya dan dengan seenak jidatnya menyeruput minuman yang ia pesan. Berdecak kesal sebelum mendorong kepala lawan bicaranya itu.
"Minuman gue goblok!"
"Minta dikit doang astaga," ujar pemuda itu.
"Mulut Lo banyak kuman, gue gak mau tertular rabies ya!"
"Astagfirullah Devan mulutnya emang nyelekit banget. Sekate-kate kalo ngomong, ini bibir langganan mahasiswi fakultas sebelah asal tau aja Lo!" kesalnya membuat Devan hanya memutar matanya.
"Gue mau makan ya anjir, jangan ngomong jorok bego!" kesal Devan membuat pemuda di depannya ini terkekeh.
"Lo mah gak ngerti, makanya sekali-kali main sama gue biar ngerti," ujarnya membuat Devan berdecak.
"Ogah!"
"Yee, idup Lo monoton amat. Masih nungguin pacar Lo yang ilang itu? Cuma nyicip dikit doang kali, gak bakal ketahuan juga, siapa tau Lo ketagihan terus bisa ngelupain mantan Lo itu kan? Siapa namanya? Ar-Air-Arily? Ya, Arily!"
Devan berdecak kesal lalu berdiri dari duduknya. "Lo udah gue peringatin ya jangan pernah sebut nama itu!"
Tanpa menghiraukan temannya itu, Devan segera meninggalkannya setelah membayar pesanan yang bahkan tidak sempat ia makan itu.
Moodnya hancur.
Tak urung juga menghela napasnya lelah, ia menatap di mana ia berdiri sekarang dan lagi-lagi helaan napas terdengar.
Bukan lagi Manuska, bukan lagi seragam putih abu atau bukan lagi almamater dongker yang selalu melekat di tubuhnya. Waktu sangat cepat berlalu hingga sekarang ia berada di tahun ketiga, tiga tahun juga ia kehilangan jejak kekasihnya itu. Entah disebut kekasih atau mantan kekasih, tapi Devan tidak akan melepaskan Arily, sampai kapanpun.
Devan berjalan ke arah parkiran dan mengambil motornya, ia akan pulang sekarang.
Hari itu, tepat ketika ia pulang dari pemakaman, ia tidak menemukan Arily di sana. Hanya menemukan Mita yang tengah mengemasi barang-barang Arily dan itu berhasil membuatnya kesetanan, ia bahkan sampai membentak Mita menanyakan tentang keberadaan kekasihnya itu, tapi Mita balik membentaknya.
Ia tahu, Mita pasti kecewa padanya karena telah membuat sahabat terbaiknya bersedih.
Ketika ia tetap tidak ingin menyerah, seorang wanita datang menghampirinya. Wanita asing yang wajahnya terlihat familiar, entah firasatnya tapi tebakannya seketika benar ketika berpikiran bahwa wanita itu adalah ibu dari Arily.
Wanita itu memintanya untuk tidak menemui anaknya kembali, menjauhinya dan melupakannya.
Hei, bagaimana Devan bisa melakukan semua itu? Di saat empat tahun hubungan terjalin dan bagaimana bisa Devan melupakannya dengan semudah itu? Di saat masa depan telah ia tata cerah, bagaimana Devan bisa menjauhinya?
Masih segar di ingatan Devan tatapan yang dilayangkan wanita itu kepadanya, meskipun baru bertemu tapi Devan dapat merasakan kekecewaan dari wanita itu terhadapnya.
Berharap bisa membawa pulang kekasihnya ke kediamannya, justru hanya kehampaan diiringi dengan tangis yang bisa di bawa Devan pulang. Butuh waktu bagi Devan untuk bangkit dari peristiwa yang bahkan tidak pernah ia bayangkan bisa terjadi itu, tapi ia sangat bersyukur orang tuanya juga para sahabat mendukungnya untuk maju.
Tapi itu tak serta merta membuat Devan menyerah dengan cintanya, buktinya, perasaan itu masih di bawa Devan bahkan hingga tiga tahun mereka tidak saling berkabar.
Motor Devan berhenti di halaman rumahnya, tidak ada orang di rumahnya sekarang. Ibunya tengah ada urusan di luar dan ayahnya seperti biasa masih disibukkan dengan pekerjaan, sedangkan kakaknya lumayan jarang berkunjung ke rumah sekarang. Tapi Devan tidak mempermasalahkannya, selagi saudaranya itu masih ingat pulang, ibu mereka akan bahagia.
Devan mengambil beberapa minuman dan camilan dari dalam lemari pendingin, memasuki kamarnya. Tampaknya ia akan menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan lagu yang tengah ia ciptakan. Ingat dengan SYNONIM? Generasi ketiga band itu akan segera debut, dan secara langsung mereka meminta agar Devan yang menulis lagu debut mereka.
Tentu Devan menerimanya dengan senang hati, ia juga meminta pendapat kepada Anva, Fayyadh, dan Kalan tentang hal ini. Sedangkan Robert, dia melanjutkan studinya ke Inggris, ke kampung halaman Sang Ibu. Cukup sulit menghubunginya sekarang.
Ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk, melihat nama Zaki tertera di sana ia segera mengangkatnya.
Oh tentang Zaki, pemuda itu benar-benar mewujudkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah di Australia, sepertinya ia tidak akan pendiam lagi setelah dikelilingi oleh bule-bule Australia.
Oh, dan yang lebih hebatnya. Kalian tahu di mana Gabriel melanjutkan studinya? Oxford! Oh astaga semua orang bahkan tahu bahwa Gabriel akan mendapatkan itu, dan yang lebih mencengangkan lagi Gabriel tidak akan berpisah bersama sahabatnya Robert.
Meskipun berbeda universitas, tapi Gabriel dan Robert satu negara sekarang dan kerap menghabiskan waktu bersama meskipun tidak sesering seperti masih di masa putih abu dulu.
"Gue gak mood banget hari ini, Ki."
[Masalah senior Lo itu lagi?]
"Gue gak tau dia sengaja karena masih punya dendam sama gue atau gak, dia selalu ngingetin gue sama Arily."
[Lo masih nyari dia kan?]
"Setelah informan gue ngilang bak ditelan bumi, gimana gue bisa dapetin informasi tentang Arily?!"
Devan benar-benar kesal, awalnya Mita bersedia memberikannya informasi tentang Arily kepadanya ketika melihat Devan yang kehilangan harapan, tapi gadis itu menghilang secara tiba-tiba seakan ditelan bumi. Entah kemana ia pergi, itu masih menjadi tanda tanya besar dalam diri Devan sampai sekarang.
[Ya seenggaknya Lo tau di mana lokasi Arily sekarang.]
"Gue takutnya dia bohong, Ki. Dia setia banget sama Arily, dan Lo sendiri ngeliat waktu itu gimana dia ngebentak gue karena buat Arily sakit hati?"
Terdengar helaan napas dari seberang sana.
[Usaha dulu bego, siapa tau dia gak bohong kan? Ya emang sih dia sahabatnya Arily, bahkan dari kecil, tapi bukan berarti dia gak bisa berkhianat. Lagian cuma bilang di mana lokasi pastinya Arily, dia pasti juga mau sahabatnya bahagia.]
Mendengar itu Devan terkekeh. "Lo keknya tau banget ya gimana Mita."
Zaki terdiam sejenak. [Lo udah dapet undangan pertunangannya Gabriel sama Meka belum?]
Devan berdecak. "Jangan ngalihin pembicaraan ya bangsat!"
★★★
Aku mutusin buat up cerita ini lagi, tapi tenang aja, versi novelnya beda kok, dan aku gak akan up 8 special chapter yang isinya keluarga kecil Devan itu. Aku rasa, sayang aja ceritanya gak up sampai ending, toh juga versi novelnya beda.
Up-nya sekali berapa hari kak? Seminggu sekali ya (◕દ◕)
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh! BAD!
Fiksi Remaja"Nih anak bikin masalah mulu, lama-lama gue rantai juga lo." "Rantainya di ranjang tapi." "Astagfirullah itu mulutnya ukhti!" "Sama kakak doang kok mulutnya begini." Bagaimana tidak naik darah jika mempunyai kekasih seajaib Arily? Tapi lebih ajai...
