Seminggu setelah Devan meminta restu dari Ibunda Arily, dan seminggu juga setelah Devan kembali ke Jakarta, sekarang Devan menginjakkan kembali kakinya di tanah Minang ini.
Sekarang Devan tak sendiri, ia bersama kedua orang tuanya juga Kakak dan Kakak ipar beserta keponakannya. Devan benar-benar mewujudkan niat baiknya untuk melamar Arily, memang terkesan tergesa-gesa, apalagi setelah mereka berbaikan, tetapi hal yang selalu Devan pegang teguh sampai sekarang adalah jangan menunda niat baik.
Niat baik Devan ini juga telah diketahui oleh semua teman-temannya, mereka tentu senang mendengar kabar bahagia itu dan berdoa yang terbaik untuk keduanya. Teman-teman Devan tentu tahu bagaimana kisah cinta Devan dan Arily yang dimulai ketika Devan berada di kelas delapan itu.
Bahkan Zaki menangis, ia bahagia karena Devan akhirnya menemukan kebahagiaan yang diimpikannya. Apalagi Zaki adalah salah satu orang yang menjadi saksi jalannya hubungan antara Devan dan Arily. Tentu seorang sahabat akan sangat bahagia apabila sahabatnya menikah.
Dan mengenai ibu Devan, wanita itu sangat bahagia bisa menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya ini, meskipun ia juga sedih karena rasa hampa itu kembali ia rasakan. Biasanya ketika ia pulang dari perantauan, ia akan bersemangat karena bertemu dengan kedua orang tua dan menyicipi masakan ibunya lagi.
Tapi kali ini, ketika ia pulang, benar-benar seakan tidak ada tujuan dan asing. Tapi wanita itu sangat bahagia untuk anak bungsunya yang akan segera melepas masa lajangnya.
Rombongan itu dari bandara segera ke hotel tempat mereka menginap, mereka akan ke rumah Arily ketika malam. Sekarang mereka akan beristirahat terlebih dahulu, tetapi Devan benar-benar tidak bisa tenang sedari tadi, pemuda itu benar-benar gugup.
Ia tengah berada di kolam renang hotel sekarang, menenangkan dirinya agar tidak terlalu gugup.
Seseorang menepuk bahunya dari belakang, ia tersenyum ketika melihat sang Kakak yang berdiri di belakangnya.
Rayyan mengambil duduk di sebelah Devan. "Gugup ya?"
"Gila aja Lo Kak gak gugup, gue takut banget," ujar Devan.
Rayyan terkekeh. "Masih mending itu, Lo akan ngerasain gugup yang lebih dari pada ini saat nikah nanti."
"Kak jangan nakutin deh." Peringat Devan.
"Idih, siapa yang nakutin? Ini gue udah pernah ngerasainnya Van, saking gugupnya ampe gak tidur gue Van, Lo bayangin aja," ujar Rayyan.
Devan hanya menghela napasnya, bukannya mengurangi rasa gugupnya, Rayyan malah menambah rasa gugup Devan.
"Oh ya Van, jarak Lo kan jauh sama Arily. Arily kuliah di Padang sedangkan Lo di Jakarta, gimana pengantin baru bisa hubungan jarak jauh?" tanya Rayyan.
Devan berdecak mendengar pertanyaan dari sang Kakak. "Kita belum nikah Kak, tenang aja. Ntar Arily pindah aja ke Jakarta, beres."
"Gila nih anak, pindah kuliah kek pindah SMA aja Lo," ujar Rayyan.
"Udah deh Kak, jangan mikirin itu mulu. Gue mau ngelamar anak orang nih, jangan bikin gue tambah gugup mikirin hal lain," kesal Devan.
Rayyan terkekeh. "Udah deh, gak usah banyak pikiran. Mending sekarang Lo tidur, segarin pikiran Lo. Semuanya akan baik-baik aja, percaya sama Kakak Lo ini, gue udah lewatin masa-masa itu sebelumnya. Noh anak gue udah mau dua."
"Eh btw, Lo nanti mau berapa anak sih?"
Devan memejamkan matanya, beristighfar karena merasa kesal dengan pertanyaan Kakaknya ini.
"Lo ya Kak, gue bilang jangan bahas yang lain dulu, Lo malah bahas anak, pen gue tendang Lo serius."
★★★
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh! BAD!
Fiksi Remaja"Nih anak bikin masalah mulu, lama-lama gue rantai juga lo." "Rantainya di ranjang tapi." "Astagfirullah itu mulutnya ukhti!" "Sama kakak doang kok mulutnya begini." Bagaimana tidak naik darah jika mempunyai kekasih seajaib Arily? Tapi lebih ajai...
