Oh! BAD! -37

6.8K 475 1
                                        

Arily baru saja sampai di Padang beberapa jam yang lalu, ia benar-benar lelah akibat perjalanannya dari Painan. Selain itu, ia juga merasa kebingungan sekarang entah kenapa.

Pertemuannya dengan Devan secara tidak sengaja di tempat yang tidak pernah terpikir itu benar-benar menggoyangkan hatinya. Hati yang telah ia kunci rapat dan tidak ingin orang lain masuk ke dalam sana itu benar-benar tengah terguncang.

Arily memang telah memprediksi bahwa ia akan bertemu dengan Devan pada akhirnya cepat atau lambat. Tapi Painan, di pantai yang sangat terkenal itu benar-benar di luar pemikirannya.

Sekarang Arily benar-benar percaya dengan takdir, sebenarnya ia tidak mempunyai jadwal untuk membantu temannya dalam acara amal, tapi karena ia ingin jalan-jalan dan refreshing, ia akhirnya ikut dalam perjalan mereka menuju ke Pantai Carocok Painan.

Sangat tidak diduga bahwa ia akan bertemu dengan Devan di sana, ia tidak tahu pasti kenapa pria itu bisa ada di Sumatera Barat, tapi dari yang dikatakan Mita, Gabriel dan Meka akan melangsungkan pertunangannya di Sumatera Barat dan hal itu bisa jadi alasan yang membuat Devan berada di tanah Minang ini sekarang.

Dan ya. Benar, di sinilah Arily berada sekarang. Sudah tiga tahun ia menetap di Padang, Ibunya membawa Arily ke sini karena memang sang ibu membuka usaha di sini. Arily hanya tinggal berdua bersama sang ibu, kehidupan mereka terbilang sangat baik karena usaha Ibunya yang sangat terkenal.

Awalnya ketika Arily kira wanita itu membawanya ke Padang karena ikut suami barunya, ternyata Arily salah. Ibu kandungnya tidak pernah menikah lagi, wanita itu masih mencintai mendiang ayahnya.

Dan di sini Arily juga mendapat jawaban atas pertanyaannya selama ini tentang keberadaan wanita itu.

Hubungan Ibu dan ayahnya sama sekali tidak disetujui oleh orang tua keduanya, karena permusuhan di masa lalu yang telah mendarah daging. Mereka berdua dipisahkan dan baik Ibu maupun ayahnya sama sekali tidak tahu di mana keberadaan masing-masing. Arily yang waktu itu baru saja lahir terpaksa harus hidup tanpa sosok Ibu.

Mereka berdua telah berusaha mencari, tapi akhirnya mereka berdua menyerah dengan keadaan. Barulah ketika peristiwa kematian ayahnya yang disiarkan di televisi, Ibu Arily menemukan keberadaan mereka. Meskipun pertemuan Arily dengan ibunya diiringi dengan isak tangis kehilangan sang ayah.

Orang bilang tidak ada yang bisa mengalahkan ikatan darah, begitu juga dengan Arily. Arily mendapatkan sosok ibu yang selama ini tidak pernah dikenalnya, meskipun hidup berdua, mereka sangat bahagia.

Ibu Arily juga yang membantu Arily keluar dari masa lalu, kejadian yang bahkan tidak ingin diingat oleh Arily lagi. Karena kemalangan berkali-kali menimpanya di hari yang sama.

Lewat peristiwa ini Arily menyadari satu hal, ia terlalu egois selama ini dan tidak pernah memperhatikan kekasihnya yang selalu sabar dengan sifat kekanak-kanakannya. Pantas saja di hari itu Devan benar-benar meledak, dan tanpa menyadari telah melukai hati mereka berdua.

★★★

Selesai membersihkan tubuhnya, Arily turun ke bawah berniat untuk makan malam. Ibunya memasak sekarang karena kebetulan wanita itu tidak bekerja malam ini.

Arily duduk di kursinya dengan tenang, sesekali melihat ponselnya yang terhubung pada Mita. Ia tengah berkirim pesan dengan gadis itu tentang kejadian yang ia alami sewaktu di Carocok Painan.

Mengenai Mita, gadis itu tidak menghilang. Mita mendapatkan beasiswa di Singapura, awalnya gadis itu ingin menolak karena ingin bersama Arily yang waktu itu masih berusaha keluar dari penyesalan masa lalu. Tapi Arily meyakinkan sahabatnya itu bahwa kesempatan emas seperti ini tidak akan datang dua kali, dan akhirnya Mita menyetujui untuk melanjutkan sekolahnya di Singapura.

"Hari ini Mama buat ayam balado kesukaan kamu." Ibu Arily menyajikan makanan pedas itu di atas meja.

Makanan berwarna merah tersebut benar-benar menggugah selera Arily. Akhirnya setelah sekian lama tidak makan ini, Arily kembali memakan resep andalan ibunya itu.

"Thanks Ma," ujarnya.

Keduanya makan dengan khidmat, sesekali melontarkan candaan lucu. Arily tersenyum, kehidupannya memang sangat berubah setelah ia dipertemukan dengan sang ibu, dan Arily benar-benar bersyukur atas itu. Di saat ia sendiri tidak mempunyai siapapun, Tuhan mengirimkan orang yang selama ini ia rindukan separuh hidupnya.

Arily jadi teringat akan kejadian ia bertemu dengan Devan itu, ingin bercerita kepada sang ibu sebenarnya.

"Ma."

Wanita itu menoleh ke arah Arily lalu tersenyum. "Ya, kenapa?"

"Hmm, tadi ... waktu di Carocok, Arily ketemu sama ... Kak Devan," ujar Arily dengan sangat hati-hati.

Wanita itu terdiam sejenak, ia baru saja mendengar sang anak bertemu dengan mantan kekasih yang telah melukai hati putrinya itu. Tapi, melihat bagaimana raut wajah yang ditampilkan Arily, wanita itu tahu Arily tengah kebingungan. Ia tahu Arily masih sangat mencintai Devan dan selalu berharap pemuda itu datang kepadanya, dan hari itu tiba. Hari yang ditunggu-tunggu Arily tiba.

"Kamu masih cinta sama dia 'kan?" tanya wanita itu pelan.

Sekarang gantian Arily yang terdiam, sejujurnya ia ingin mengatakan tidak tapi hatinya berteriak iya. Perasaan Arily terhadap Devan sama sekali tidak berubah, empat tahun bukan waktu yang sebentar dalam menjalin hubungan. Arily tidak akan pernah melupakan perhatian yang pemuda itu berikan kepadanya. Devan benar-benar tulus dalam mencintainya dan bagaimana Arily bisa semudah itu melupakan ketulusan pemuda tersebut?

Melihat sang putri yang diam, Ibu Arily menepuk pundaknya. "Sayang, Mama tahu kamu bingung. Tapi Mama lebih tahu apa yang dikatakan oleh hati kamu. Jangan buat kamu menyesal untuk kedua kalinya, kamu ngerti maksud Mama kan?"

Arily mengangguk.

"Kalau dia emang benar-benar serius sama kamu, Mama menunggu itikat baiknya untuk membicarakan masa dulu sama Mama. Mama butuh penjelasan dari dia kenapa nyakitin anak Mama ini," ujar wanita itu.

★★★

Devan telah sampai di hotel tempat ia akan menginap untuk beberapa hari ke depan. Devan tidak tahu bagaimana akhir dari kisahnya ini nanti, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berjuang untuk cintanya.

Ia tidak akan melepaskan Arily lagi, benar-benar tidak akan ia lepaskan. Devan akan membuktikan kepada semua orang yang selama ini meragukan cintanya dengan Arily, bahwa ia benar-benar tulus dan serius dengan gadis itu.

Devan telah merancang masa depan, semuanya telah ia pikirkan matang-matang. Hanya tinggal sedikit lagi untuk mewujudkannya, semuanya akan berakhir dengan baik sebentar lagi. Karena kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

Arily memberikannya kesempatan, sekarang tinggal Ibu dari gadis itu yang Devan yakinkan akan keseriusannya.

"Van, besok gue anterin Lo ke rumahnya Arily."

Devan menoleh ke belakang di mana Zaki berdiri di sana. Ia tersenyum kemudian mengangguk.

Baiklah Devanand Narendra, mari berjuang untuk akhir yang bahagia!

Oh! BAD!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang