Oh! BAD! -33

6.6K 481 8
                                        

Berkali-kali Devan menatap ponselnya, berkali-kali juga ia menatap sekeliling di mana ia berada sekarang. Ia menghela napas kesal kala melihat pesannya tak kunjung dibalas, kalau tahu begini ia tidak akan cepat-cepat ke tempat ini, harusnya ia tahu teman-temannya tidak mengenal kata 'tepat waktu'.

Bunyi lonceng di pintu masuk membuat Devan mengalihkan pandangannya, ia berdecak kelas kala melihat pemuda itu berjalan santai ke arahnya.

"Udah lama nunggu?" tanyanya seraya duduk di samping Devan.

Yang dilakukan Devan hanya menghela napasnya kesal, ia menampilkan senyuman paksaannya. "Nggak kok, gue baru aja nyampe."

Hanya 'O' yang dikeluarkan oleh lawan bicaranya membuat Devan menggeram kesal, memilih menendang kaki pemuda itu yang membuatnya meringis kesakitan.

"Astaga Van, maaf. Macet tadi," ujarnya.

Devan hanya berdecak. "Dara mana?"

Pemuda itu, Bayu, mengangkat kedua bahunya. "Gak tau, gak sama gue. Dia kan sekarang sibuk sama pacar mungilnya itu."

Devan tidak menanggapi ucapan Bayu, ia kembali fokus pada ponselnya mengabari Dara dan juga Rendi. Mereka telah berjanji untuk bertemu di Cafe hari ini, membahas mengenai pertunangan dari teman lama mereka, Gabriel dan Meka. Ya, Gabriel berencana untuk memberikan setidaknya kepastian akan hubungannya dengan Meka karena Gabriel benar-benar cemas, kekasihnya itu sering sekali dijodohkan oleh teman-teman kuliahannya dengan orang lain.

"Kayaknya Si Pendek ngaret deh bawa motornya, makanya Si Dara telat nih. Lagian Dara ada-ada aja, segala macam kurcaci kayak gitu dipacarin, malah kayak tante-tante pedo," ujar Bayu dengan segala mulut manisnya.

Devan hanya menatap aneh Bayu. "Bagus Lo ngomong gitu?"

Kembali menoleh ke arah pintu masuk ketika bunyi lonceng kembali terdengar, dan akhirnya tiga orang yang telah ditunggu-tunggu sedari tadi datang dengan senyuman tanpa dosa mereka.

"Dara keren udah bawa anak aja ke sini," ujar Bayu yang membuat Dara menatapnya kesal.

"Jangan didengerin Dicky, anggap aja angin lalu," ujar Devan.

"Lho, udah ganti nama? Bukannya nama Lo Si Pendek ya?" Sepertinya candaan Bayu kali ini benar-benar garing karena tidak ada yang tertawa akan ucapannya itu.

"Lo ada masalah apa sih sama gue, Bay?" sulut Si Pendek.

Bayu hanya menggeleng seraya tertawa, mempersilahkan ketiganya untuk duduk.

"Mau pesen apa? Biar gue pesenin, sebagai permintaan maaf karena datang telat, tadi istri gue ngidamnya aneh banget, jadi lama," ujar Rendi.

Rendi memang telah menikah, masih pengantin baru. Rendi dan tunangannya memutuskan untuk menikah muda, agar mengurangi rasa curiga dan tidak percaya satu sama lain. Paling tidak, Rendi telah memberikan kepastian akan hubungannya.

"Samain aja, gue lagi gak lapar sekarang, fokus sama rencana kita aja," ujar Devan yang diangguki oleh Rendi.

Rendi segera mengurus pesanan, dan setelah selesai dengan urusannya, Rendi kembali ke meja.

"Jadi gimana menurut kalian tentang hadiah yang bakal kita kasih sebagai hadiah pertunangannya El sama Meka?" tanya Devan memulai pembicaraan.

"Mama-nya El minta kita buat ikut mempersiapkan acara ini kan?" tanya Dara yang diangguki semuanya.

"Gue dapet info dari El kalo acaranya bakal diadain di kampung halamannya orang tua Meka, di Sumatera Barat," ujar Rendi.

"Nah itu dia, Sumbar jauh banget. Kalo di Jakarta mungkin semuanya bisa, tapi kalau di Sumbar bakal banyak yang gak bisa deh kayaknya. Yang di luar negeri pasti sulit buat mereka," ujar Devan.

Oh! BAD!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang