Di sinilah Devan berdiri sekarang, di depan sebuah rumah bercat putih yang diketahui adalah rumah dari Arily.
Setelah mengantarkan Devan ke sini tadi, Zaki izin untuk berkeliling di sekitar sini, tentu saja pemuda itu tidak akan menganggu sahabatnya dalam membicarakan itikat baiknya dengan Ibu dari Arily itu.
Dengan rasa gugup Devan menekan bel pintu itu. Ia tidak pernah menghadapi wanita yang merupakan ibu kandung dari Arily itu sebelumnya, Devan hanya pernah berbicara dengannya beberapa kata dan kesan pertama mereka sama sekali tidak baik. Devan hanya takut wanita dendam dengannya dan tidak mengizinkan Devan untuk memperjuangkan anaknya.
Pintu dibuka, seorang wanita cantik yang membukanya. Devan masih mengingat betul wajah ini di ingatannya, ternyata wanita itu tidak banyak berubah.
Devan tersenyum. "Assalamualaikum, Tante."
Meskipun terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari tamu yang tak disangka-sangka, wanita itu tetap menjawab salam yang dilontarkan oleh Devan.
Ya meskipun hanya sekali bertemu dengan pemuda ini, masih segar di ingatan wanita itu laki-laki yang menyakiti putrinya itu.
Ibu Arily tersenyum. "Saya gak nyangka kamu gercep juga, kayaknya kita bakalan bicara banyak, saya akan membatalkan acara saya, silahkan masuk."
Ibu Arily mempersilahkan Devan masuk, mengarahkannya ke ruang tamu.
"Arily keluar sebentar ada urusan sama temannya, kamu mau ketemu saya Arily kan?" tanya wanita itu yang membuat Devan tersenyum kikuk.
"Gapapa kok Tante, lagi pula saya juga ingin membicarakan sesuatu sama Tante," ujar Devan yang membuat wanita itu tersenyum puas mendengar jawaban dari Devan.
"Kamu gentle, saya suka. Tapi yang saya sayangkan pertemuan awal kita yang tidak baik," ujar ibu Arily.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya. "Jadi, apa yang kamu kamu bicarakan sama saya?"
Devan berdehem sebelum memulai pembicaraannya, ia benar-benar sangat gugup sekarang.
"Tante, perkenalkan saya Devan. Saya ke sini bertujuan untuk memperbaiki semua yang telah terjadi di masa lalu.
Saya minta maaf karena kesan pertama kita yang tidak baik, saya benar-benar menyesal. Semua yang terjadi di hari itu benar-benar tidak pernah saya sangka akan terjadi, saya kalut dan tidak bisa mengontrol emosi saya sendiri.
Ketika teman saya mengabarkan kepada saya tentang kabar duka itu, saya benar-benar tidak memikirkan apapun dan langsung pergi ke rumah Arily dengan pikiran yang kalut. Saya khawatir, saya cemas, kekasih saya sendiri dan dia butuh saya.
Saya benar-benar menangis setelah melihatnya pingsan di hadapan mata saya karena rasa yang ditanggungnya, saya ... saya ..." Devan menghapus air matanya yang meleleh, ia tidak bisa jika harus menceritakan cerita itu lagi. Sangat menyakitkan untuknya jika harus mengingat hal itu.
Wajah wanita itu menyendu. "Kalau kamu gak sanggup—"
"Gak Tante, saya ke sini ingin meluruskan semua hal yang terjadi, saya berniat baik untuk memperbaiki semuanya dan ingin memulai kembali dari awal." Devan berusaha memberikan senyumannya.
"Karena pada saat itu keadaan Arily tidak memungkinkan untuk mengikuti pemakaman, saya yang menggantikannya di pemakaman bersama dengan salah satu teman Arily yang lain. Ketika semuanya telah selesai, dan ketika saya pulang ke rumah duka, saya kalap karena tidak menemukan Arily di manapun.
A-apa Tante tau bagaimana rasanya? Apa Tante tau gimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga Tante? Saya ... saya ... sewaktu Tante memarahi saya, menyuruh saya untuk melupakan Arily, orang yang telah saya kencani selama empat tahun lamanya, ditambah tatapan kecewa yang benar-benar menusuk saya, hati saya benar-benar runtuh Tante." Sekarang Devan tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir dari manik hitamnya.
"Bagaimana? Bagaimana bisa Tante menyuruh saya untuk melupakan orang yang saya cintai? Yang saya lindungi dengan tulus. Itu pertama kalinya saya menyakitinya dan saya benar-benar sakit. Tante, saya akui saya salah, saya benar-benar minta maaf atas perilaku saya Tante.
Tolong kasih saya satu kesempatan lagi, saya ingin memperbaiki semuanya Tante. Saya ingin meraih masa depan itu lagi tante, saya ingin bersama Arily."
Devan menggenggam tangan Ibu Arily, memohon kepada wanita itu.
Ibu Arily tersenyum, ia berusaha menghidup udara agar tangisnya tidak pecah. Melihat bagaimana ketulusan yang ia lihat di kedua mata pemuda di depannya ini benar-benar membuatnya menangis haru, merasa ada seseorang yang sangat meratukan putrinya, yang benar-benar mencintai putrinya dengan sangat tulus.
Wanita itu menatap ke arah pintu, di mana Arily telah berdiri di sana sejak tadi, mendengarkan semua ucapan yang keluar dari bibir Devan hingga membuatnya meneteskan air mata.
Ibu Arily mengangguk, membiarkan Arily mendekat ke arah Devan.
"Kak." Arily bahkan tidak bisa menahan suaranya yang bergetar.
Mendengar suara itu, Devan segera berbalik, menatap Arily yang juga tengah berlinang air mata di sana. Sedetik kemudian pemuda itu segera berlari memeluk gadis yang sangat ia cintai itu.
"Jangan nangis, please, jangan nangis," gumam Devan pada Arily, tapi itu berhasil membuat tangis Arily tidak terbendung.
Arily mengeratkan pelukannya pada Devan.
"Kak, aku cinta banget sama Kakak," tangis Arily.
"Aku gak pernah gak mencintai kamu, sayang," lirih Devan.
Devan melonggarkan pelukannya, menghapus linangan kristal bening yang mengalir di pipi kesayangannya itu. Ia menggenggam jemari gadis itu dengan erat bersungguh-sungguh.
"Ri, Arily Andana, ayo mulai semuanya dari awal."
Arily tersenyum, memberikan isyarat kepada Devan agar meminta izin kepada ibunya.
Devan berbalik, dengan tangan yang bertaut erat dengan Arily, ia kembali duduk meminta izin kepada wanita itu.
"Tante, saya gak tahu harus mulai dari mana. Tapi izinkan saya untuk memulai semua yang telah salah, saya ingin memperbaiki semua hal dan menggantikannya dengan bahagia. Saya bersungguh-sungguh mencintai Arily, Tante," ujar Devan, terlihat jelas kesungguhan di matanya.
Wanita itu tersenyum. "Kamu ngelamar anak Tante?"
"Saya akan bawa kedua orang tua juga Kakak saya ke sini Tante, saya ingin melamar Arily, saya ingin memberikan kepastian untuk hubungan saya dengan Arily," jawab Devan bersungguh-sungguh.
Wanita itu tersenyum. "Terimakasih Devan, terimakasih telah mencintai Arily dengan tulus."
★★★
Ada yang nanyain cerita Mas Pacar, kisahnya Gabriel Meka itu lho. Jadi sebenarnya guys, Oh! BAD! ini adalah side story dari Mas Pacar awalnya, cerita utamanya ya Mas Pacar, Gabriel sama Meka. Tapi, gak tau aku malas aja ngelanjutinnya.
Tadi aku baru aja baca-baca cerita dari Mas Pacar dan keknya aku lumayan berminat buat ngelanjutin ceritanya. Lagian pasti ada beberapa hal di Oh! BAD! yang gak dijelasin dan penjelasannya ada di Mas Pacar. Kayak kasus Aldi, kisah Si Pendek sama Dara, dll.
Aku coba liat-liat lagi aja tuh cerita dulu, aku gak janji bakalan ngelanjutin tapi aku usahain. Ingat ya, aku gak janji.
Oh ya sekedar informasi, cerita Mas Pacar dijadiin naskah teater. Sebenarnya aku udah lama pengen cerita ini sama kalian, tapi ya gak ada waktu yang tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh! BAD!
Fiksi Remaja"Nih anak bikin masalah mulu, lama-lama gue rantai juga lo." "Rantainya di ranjang tapi." "Astagfirullah itu mulutnya ukhti!" "Sama kakak doang kok mulutnya begini." Bagaimana tidak naik darah jika mempunyai kekasih seajaib Arily? Tapi lebih ajai...
