Devan menarik kopernya ke luar dari kawasan bandara, ia menatap sekitar. Ini pertama kalinya bagi Devan menginjakkan kakinya di tanah Minang, meskipun darah Minang sendiri mengalir dalam tubuhnya.
Ya, bukan menjadi rahasia lagi kalau ibu Devan berasal dari Sumatera Barat. Nama Ibu Devan sendiri telah terkenal hingga seantero sekolah dengan nama khasnya, Upiak. Sebenarnya itu bukan nama asli, hanya saja sebuah panggilan yang menunjukkan darah yang mengalir di dirinya.
"Rumah Mama Lo di mana Van?" tanya Zaki tiba-tiba.
Devan berdehem lalu mengangkat bahunya. "Kata Mama di Pesisir Selatan, tapi gue gak tau di mana. Taunya cuma Padang doang gue mah."
"Beneran Pesisir Selatan?" Andri tiba-tiba saja bertanya pada Devan yang diangguki oleh pemuda itu.
Andri terkekeh, entah apa yang lucu baginya. "Tau gak, kita mau ke Pesisir Selatan lho sekarang," ujarnya membuat Devan membulatkan matanya.
Andri berdehem. "Tepatnya di Painan, Ibu Kota Pesisir Selatan. Kampung halaman gue."
"Plot twist-nya nanti ternyata Devan anaknya bapak Bang Andri." Bayu tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Eh Bay, mulut Lo benar-benar minta dicabein ya," kesal Andri.
Kakak dari Meka itu mengarahkan mereka pada sebuah mobil yang telah menunggu mereka. Memasukkan barang-barang di bagasi, dan satu persatu dari mereka memasuki mobil.
"Pak, sehat?" Sapa Andri pada sang sopir.
Pria bertubuh gempal itu tersenyum lalu mengangguk. "Alhamdulillah sehat."
Ketika mobil akan dijalankan, seorang perempuan berteriak memanggil mereka dari belakang, perempuan itu berlari mengejar mobil tersebut dengan napas yang telah tinggal separuh.
"TUNGGUIN WOI! ASTAGA TEMEN BANGSAT! JANGAN TINGGALIN GUE GOBLOK!" teriaknya dan itu benar-benar menarik atensi semua orang yang ada di sana, menatatap perempuan itu dengan tatapan tak suka.
"Astaga gue bener-bener lupa dia ikut sama kita," ujar Rendi, ia membukakan pintu untuk perempuan itu.
"Aduh sempit banget Sammy, Lo tambah lebar sekarang anjir," keluh Rendi, ia terjepit tentu saja.
Ya, perempuan itu adalah Sammy.
"Jangan bahas berat badan di sini ya Ren, masih lebar tuh tempat Lo." Sammy menatap kesal pada para temannya. "Kok Lo semua tega-teganya ninggalin gue sih? Cuma ke toilet bentar, udah ditinggal aja."
Dara berdecak. "Ya lagian Lo Sam, lelet banget tau gak. Udah datang lelet, pergi lelet, kita bener-bener gak inget kalo Lo ikut tau gak."
"Iya, lupain aja. Gue emang gak penting." Sammy berdecak.
"Ngambek, iya deh Sam. Maaf, soalnya kita bener-bener gak inget," ujar Devan.
Terdengar decakan dari arah depan. "Udah selesai drama-nya? Kita mau berangkat nih," ujar Andri.
★★★
Rombongan Andri telah sampai di kediaman Meka. Mereka semua disambut oleh Meka, orang tuanya juga tetangga di sana, setelah perjalanan yang jauh akhirnya mereka diantarkan ke tempat istirahat.
"Rumah Meka di sini gede banget ya, kenapa di Jakarta rumahnya kek kandang ayam," bisik Bayu pada Rendi.
Tiba-tiba saja kepalanya dipukul dari belakang. "Gue denger ya bangsat!" Ternyata pelakunya adalah Meka.
Rendi tertawa melihat temannya tersiksa. "Jangan didengerin ya Ka, nih anak emang aneh efek kelamaan ngejomblo."
Meka mengangguk. "Gue ngerti kok Bang, Bang Andri juga gitu."
Meka mengantarkan ketujuhnya di kamar mereka. Dara satu kamar dengan Sammy. Sedangkan Devan, Zaki, dan Rendi berada di kamar lainnya. Lalu Bayu dan Si Pendek berada di kamar Andri.
Setelah meletakkan barang-barang, Devan pamit ke belakang rumah Meka yang ternyata terdapat sebuah danau buatan. Sangat indah dengan pohon rambutan di tepinya.
Devan duduk di salah satu tempat duduk yang terbuat dari kayu di sana, menikmati asrinya wilayah ini. Sangat membuat Devan nyaman dan relaks.
Seseorang wanita paruh bayu mendekat ke arahnya dan duduk di sebelah Devan. Devan menoleh dan tersenyum, ia ingat wanita ini adalah Ibu dari Meka dan Andri.
"Kamu temannya Gabriel?" tanyanya yang diangguki oleh Devan.
"Kenapa gak istirahat? Pasti capek, mending istirahat dulu," ujar wanita itu yang dibalas gelengan oleh Devan.
"Gapapa kok Tante, saya belum lelah," ujar Devan secara halus.
Wanita itu mengangguk. "Gimana Sumatera Barat?" tanyanya lagi.
Devan tersenyum. "Indah Tante, sepanjang mata memandang laut biru luas, semua rasa lelah menghilang seketika."
Wanita itu terkekeh dan mengangguk.
"Hmm sebenarnya Mama saya asli sini Tante, tapi saya gak pernah ke Sumbar. Kedua orang tua Mama udah meninggal, jadi Mama gak pernah pulang kampung," ujar Devan yang membuat wanita itu mengangguk.
"Udah biasa itu, perantau Minang emang gitu. Kalau orang tua mereka udah gak ada, mereka bakal susah banget pulang kampung, malahan gak pernah balik ke kampung lagi. Katanya enakan tinggal di kota," ujar wanita itu yang diangguki paham oleh Devan.
Ibunya memang pernah mengatakan itu. Tidak ada sanak saudaranya lagi di Sumatera Barat, jadi ketika pulang seakan tidak ada tujuan. Mama-nya memilih untuk menetap selamanya di ibu kota.
Sejenak Devan terdiam, ia menghela napasnya lelah, ia memikirkan hal lain sekarang.
Wanita itu menepuk bahu Devan. "Mau cerita? Siapa tau bisa ngurangi beban kamu. Dari kejauhan Tante liat kamu kayak kehilangan sesuatu gitu."
Devan tersenyum. "Saya ... sejujurnya Tante, selain buat acaranya Gabriel, saya ke sini juga mau nyari seseorang."
Devan menatap ke arah danau di depannya.
"Saya kehilangan dia waktu saya kelas tiga SMA Tante, kami berpisah secara tidak baik dan saya masih sangat mencintainya. Saya dapat informasi kalau dia ada di sini, tapi saya gak tau di mana tepatnya," ujar Devan yang membuat wanita itu mengangguk paham.
"Siapa namanya? Siapa tahu Tante kenal, Tante bisa bantu."
Devan tersenyum. "Arily. Arily Andana."
Mendengar itu, Wanita tersebut tersenyum dan menepuk bahu Devan.
"Tante gak yakin kenal nama yang kamu bilang tadi atau gak, tapi Tante yakin akan satu hal. Takdir Tuhan itu nyata, dan Tante percaya ini adalah kesempatan kamu untuk ketemu sama dia lagi setelah bertahun-tahun kalian berpisah."
Devan menunduk, ia juga sama yakinnya dengan takdir Tuhan. Tapi, apakah ia benar-benar akan menemukan Arily di negeri yang luas ini?
"Tapi gimana kalau—"
"Jangan bahas kegagalan dulu, fokus sama tujuan kamu, Tante yakin sekali usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kesempatan tidak datang dua kali, kalaupun kamu tidak menemukannya di sini, paling gak kamu udah berusaha mencarinya."
"Selama ini yang saya takutkan bukan dia ada atau gaknya Tante, ketakutan terbesar saya adalah ketika saya menemukannya, dia sudah menjadi milik orang lain, saya gak bisa bayangin itu terjadi sama saya, saya ... saya ..."
Devan menghela napasnya. "Saya cinta sama dia Tante, saya gak akan pernah ngelepas dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh! BAD!
Fiksi Remaja"Nih anak bikin masalah mulu, lama-lama gue rantai juga lo." "Rantainya di ranjang tapi." "Astagfirullah itu mulutnya ukhti!" "Sama kakak doang kok mulutnya begini." Bagaimana tidak naik darah jika mempunyai kekasih seajaib Arily? Tapi lebih ajai...
