Oh! BAD! -36

6.7K 482 2
                                        

Kekehan miris diiringi dengan ketukan di meja cukup membuat suasana di antara keduanya canggung, seseorang di depannya hanya diam menatap pemuda itu mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.

"Aku senang kamu gak ngehindar." Devan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Perempuan itu, Arily, hanya diam menanggapi. Ia juga memikirkan, kenapa ia mau saja di bawa ke cafe tempat mereka berada sekarang oleh Devan.

Devan menggenggam jemari Arily membuat pandangan keduanya bertemu.

"Kamu tahu kan kita perlu bicara?"

Arily mengangguk. "Silahkan, aku udah belajar dari masa lalu dan aku gak akan menghindar. Kalau emang ada yang perlu dibicarakan, selesaikan hari ini semuanya."

Devan mengernyit. "Tapi ini gak akan pernah selesai."

"Kak—"

"Maaf."

Arily tiba-tiba saja menghentikan ucapannya ketika mendengar ucapan maaf dari Devan barusan. Gadis itu menghela napasnya lalu mengangguk. "Aku juga minta maaf."

"Maaf aku terlalu egois Kak, beberapa tahun di sini aku paham sekarang, aku benar-benar orang yang buruk di masa lalu, aku benar-benar minta maaf," lanjut Arily.

Devan menggeleng. "Kamu gak salah, harusnya aku yang bisa nahan emosi agar gak kelepasan."

"Itu sama aja Kakak memendam perasaan kesal sama aku, aku bersyukur peristiwa itu nyadarin aku kalau aku benar-benar egois, aku—"

"Ini bukan saatnya untuk nyalahin diri sendiri, Ri." Devan kembali menggenggam jemari Arily dan menatap mata gadis itu bersungguh-sungguh. "Ayo mulai semuanya lagi."

Mendengar itu Arily terkekeh. "Secepat itu?"

"Rasa itu gak pernah hilang, Ri. Semuanya masih sama."

Arily melepaskan jemarinya dari genggaman Devan. "Kak, aku pikir lebih baik kita jadi teman."

"Setelah semuanya?" Devan menatap Arily tidak percaya. "Ri, kita udah nata masa depan bersama."

"Tapi aku udah lupain tentang masa depan itu, Kak."

Devan menggeleng. "Gak, aku sama sekali gak percaya sama ucapan kamu. Empat tahun Ri, empat tahun! Rasa itu gak akan mudah dihapus untuk waktu empat tahun."

Arily menghela napasnya, ia tahu memang empat tahun bukan waktu yang sebentar, tapi ....

"Kak—"

"Kenapa?" lirih Devan.

Arily menunduk, ia terlalu ragu untuk menjawab sekarang.

"Tatap mata aku Ri, jawab! Kenapa? Apa yang berbeda sekarang?" Mata pemuda itu berkaca-kaca sekarang, tidak bisakah Arily melihat ketulusan di kedua maniknya ini?

Arily menatap ragu ke arah Devan.

"Gak ada yang berubah Kak, aku terlalu takut untuk mulai lagi, aku takut egois, aku gak mau nyakitin pasangan aku, aku gak mau kejadian dulu kembali terulang," lirihnya.

Devan menghela napasnya. "Kamu masih cinta sama aku?"

"Kak—"

"Kamu masih cinta sama aku, Arily?" ulang Devan sekali lagi.

"Kak aku mohon—"

"Kalau gitu biar aku yang mulai, aku akan ngambil hak aku lagi, kamu gak perlu ngelakuin apapun, cukup biarin kakak yang berjuang, itu aja udah cukup," ujar Devan bersungguh-sungguh.

★★★

Gabriel dan kawan-kawan sekarang tengah sibuk mengkhawatirkan Devan. Setelah Bayu berlari menghampiri mereka dengan tergesa-gesa melaporkan bahwa Devan bertemu dengan Arily dan sekarang keduanya pergi entah kemana, semuanya benar-benar ribut mencemaskan Devan.

Oh! BAD!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang