.
Kalau rasa malu bisa ditukar dengan uang, maka Ajun pasti sudah jadi miliarder. Malu karena jatuh terpeleset di depan banyak orang tidak ada apa-apanya dibandingkan malu karena mendapat penolakan cinta berkali-kali dari orang yang sama.
Contohnya seperti apa yang terjadi pada Ajun hari ini.
"Jun, dicariin."
"Kalo bukan Yesi gua gak peduli."
"Najis lu segitu udah dilepeh berkali-kali masih aja ngarep," kata Bian yang memasang ekspresi menghujat.
Ajun yang kini berjongkok di dekat tangga sambil menyeruput kopi kalengan hanya mengumpat kecil sambil memperhatikan siswa kelas sebelah yang sedang berolahraga di lapangan.
"Lu dicariin si Ryan, bego."
"Ryan siapa--anjeng, Mr Ryan maksud lu?" seru Danny yang langsung terbahak.
"Entar dulu." Ajun loncat dari posisi jongkoknya dengan tidak peduli. "Gimana, udah keren belum gua?"
"Mau ngapain lu?"
"Mau nembak Yesi," kata Ajun dengan penuh percaya diri. "Yakin nih gua kali ini bakal diterima."
Bian dan yang lainnya langsung melempar pandangan antara kasihan dan ingin menghina.
"Entar nih ya kalo udah diterima, lu pada gua traktir makan-makan di Kintan sepuasnya!" seru Ajun yang langsung mendapat sorakan heboh teman-temannya.
"Good luck dah," seru Mark memandang prihatin cowok itu.
Ajun mengangguk dan segera pergi dari sana. Diiringi suara heboh dari teman-temannya yang membuat beberapa siswa langsung menoleh ke keributan itu.
Berbekal tekad yang tak seberapa, Ajun memberanikan diri untuk berjalan menuju lapangan dimana ada kelas 11 MIPA 3 yang baru saja selesai berolahraga karena sudah jam istirahat.
"Dengan izin Tuhan dan restu Mami Papi," ucapnya.
Pandangannya langsung tertuju pada gadis itu yang sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Ajun bisa melihat salah satunya tengah memberitahu Yesi mengenai kehadirannya. Karena setelahnya Yesi yang semula membelakanginya langsung memutar tubuh dan terlihat begitu terkejut.
Beberapa anak jadi menoleh ingin tahu. Apalagi sekarang hanya Ajun yang berpakaian berbeda dari mereka yang membuatnya semakin terlihat mencolok.
"Weiss entar dulu ini gua kayaknya udah hapal nih lu mau ngapain," celetuk salah seorang siswa yang memegang bola basket sambil terkekeh.
"Eh, liat dah si Ajun mau nembak Yesi lagi. Taruhan kali ini gak bakal diterima lagi hahahaha," sahut yang lainnya.
Ajun sama sekali tak mempedulikan orang lain selain Yesi yang kini tengah menatapnya dengan eskpresi tak terbaca. Pemuda dengan rambut acak-acakan itu menghembuskan napas sesaat, sebelum kemudian menghampiri Yesi dan tersenyum.
"Hai."
"Gue gak mau."
"G-gua bahkan belum ngomong, Ci?"
Yesi memutar bola mata. "Gue udah tau lo bakal ngapain. Dan jawaban gue tetep sama. Gue. Gak. Mau."
Sebagian dari mereka kini bersorak kecewa seperti suporter ketika melihat pemain sepak bola gagal mencetak gol. Sebagian lagi mencoba menahan tawa.
"Yah, masa lu mau nolak gua lagi sih? Ini udah yang ketiga kalinya loh. Gua sampe bingung abis ini mau nangis pake gaya apalagi," kata Ajun dengan eskpresi terluka yang dibuat-buat.
"Gue gak peduli."
Melihat Yesi yang sudah ingin pergi, Ajun buru-buru meraih tangannya. "Ci, jadi pacar gua ya? Please, kali ini terima gua. Abis itu lu mau ngapain juga terserah. Lu mau selingkuh juga silahkan tapi tolong terima gua dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Vijendra
FanfictionPerihal dinamika kehidupan sehari-hari keluarga Vijendra yang tak lepas dari perilaku kelima penghuninya dengan karakteristik yang berbeda-beda. Dari si sulung yang pecicilan dan tak bisa diam, sampai si bungsu yang introvert dan amat sangat pendiam...
