.
Rasanya akan benar-benar rugi jika menghabiskan waktu liburan hanya dengan berdiam diri saja di rumah. Itu sebabnya Ajun memutuskan untuk mengisi sisa libur sekolahnya dengan berkendara bersama teman-temannya.
Sebenarnya rencana ini sudah lama sekali Ajun pertimbangkan--bahkan jauh sebelum libur sekolah. Namun, mengingat bahwa akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa yang terjadi membuat Ajun baru bisa merealisasikan sekarang.
Maka dari itu, terhitung sejak pukul lima pagi seluruh penghuni rumah sudah disibukkan dengan berbagai macam persiapan selayaknya keluarga yang akan melakukan sebuah perjalanan liburan. Padahal yang akan pergi hanya satu orang saja, namun semuanya seakan ingin ikut andil dalam mempersiapkan segala sesuatunya bahkan tak terkecuali Kuma dan Tannie.
Tak terasa sudah hampir pukul enam ketika teman-teman Ajun akhirnya tiba dan membuat halaman rumah Vijendra menjadi ramai dalam sekejap. Jake tak bisa berhenti merengek untuk ikut serta dalam perjalanan itu, namun lagi-lagi Jenny melarangnya dengan dalih: "Jangan, kamu anaknya gampang hilang!"
Ruang keluarga kini diisi oleh obrolan tak penting dengan iringan suara sendok yang beradu dengan piring. Sebelumnya memang Jenny sengaja menyuruh ke-delapan teman Ajun itu untuk ikut sarapan bersama.
Di antara itu, Tama yang masih mengenakan setelan santainya muncul dan ikut bergabung. "Kalian ini rencananya mau kemana aja sih?"
"Ke Bandung, om. Yang deket-deket aja lah," sahut Bian santai. "Rencananya sih mau ngecamp sehari dua hari di Ranca Upas."
"Wah, seru tuh kayaknya. Kebetulan om juga punya kenalan di daerah sana yang jualan jagung bakar, kalo gak salah tuh namanya kang Erwin. Ramah orangnya, entar bilang aja temennya anak si Vijendra nanti dapat jagung gratis."
Petuah yang barusan dilontarkan oleh Tama tentu saja langsung disambut sorakan semua orang.
"Tersohor banget papi lu, Jun. Gak sia-sia kita temenan, jadi aja kecipratan privilege-nya," sahut Mark geleng-geleng.
Jenny tertawa menanggapi hal itu seraya mendudukkan diri di sebelah Tama. "Tapi jangan keterusan loh ya kasihan entar si akangnya bangkrut."
"Setuju, apalagi si Ajun tuh emang suka gak tau diri anaknya, Tan," sahut Karin dengan apel di tangannya yang muncul dari arah dapur bersama Keila.
"Eh, tapi ini kalian sudah minta izin kan sama orang tua mau ngecamp beberapa hari?" tanya Tama memastikan. "Awas ya, kalau sampai ada yang gak izin, takutnya nanti mereka khawatir."
"Udah, om!"
"Semua aman, kan? Gak ada kendala?"
"Aman, om!"
"Uang jajan aman?"
"Gak aman, om!"
Hening selama beberapa saat sebelum semuanya tertawa bersama-sama. Hingga suasana gaduh itu diinterupsi oleh suara barang jatuh dari dapur yang membuat keadaan langsung senyap.
"Seru banget ya Nana itu yang lagi bersenang-senang di dalam!" sahut sebuah suara yang cukup keras dan sarat akan sindiran.
"Kakak ada apa, heyyy???" Jenny langsung bangkit dari duduknya, "Sebentar ya, Tante ke dapur dulu."
Yesi yang sedang bermain-main dengan Tannie pun menoleh bingung, "Nana siapa?"
"Boneka kelincinya," jawab Ajun.
"Lagi caper aja dia gara-gara gak dibolehin maminya ikut," kata Tama seraya tertawa. "Anyway, kalian kapan berangkatnya? Udah agak siang loh ini, nanti jalanan makin macet."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Vijendra
FanfictionPerihal dinamika kehidupan sehari-hari keluarga Vijendra yang tak lepas dari perilaku kelima penghuninya dengan karakteristik yang berbeda-beda. Dari si sulung yang pecicilan dan tak bisa diam, sampai si bungsu yang introvert dan amat sangat pendiam...
