Bab 14

5 1 0
                                        


Bab 14 Mengenal Putera Mahkota Ken.

 "Aku akan mengarahkan kemampuanku untuk menstabilkan suhu aku dan Tuan Puteri Kle. Aku bertekat kuat, agar suhu dingin Tuan Puteri Kle tidak membunuh organ dalamnya."

Aku merinding, panik. "Hey, memang seburuk itu?"

Ken malah bingung, "kukira kalian sudah tau soal ini."

Aku menggaruk kepalaku yang sejujurnya tidak gatal. Kaku sekali situasi ini, mana Op dan ayah hanya diam. Tidak berkutik sedikitpun. Andai saja tidak ada Ken di sini,a ku sudah mengomeli mereka berdua habis-habisan.

"Sebentar."

Mataku beralih pada pergerakan Ken. Lelaki itu kelabakan sendiri. Ya Tuhan, aku baru sadar Kle tidak sadarkan diri sejak tadi. Aku malah fokus mencari tau—bertanya terus menerus ke Ken. Seakan aku tidak mempedulikan Kle. Aku ini terlena oleh rasa kepo yang datang tiada memiliki aba-aba untuk berhenti.

"Tubuhnya hampir membeku, karena tubuhnya pula. Maksudku karena kekuatan dinginya, dia terlalu memaksakan diri tadi. Dia memaksakan diri untuk membekukan api yang telah membakar isi kepalaku. Efek sampingnya, begini. Ya ammpun, ini semua salahku. Maafkan aku, Tuan Puteri Kle."

Aku terpana, naga pongah—Ngaya itu. Ternyata aslinya hanyalah lelaki yang rapuh. Lucu sekali kalau dilihat-lihat. Ternayat wujud Nyaga hanyalah tameng atau topengnya belaka. Aslinya dia begitu rapuh.

Aku tidak mengerti apa yang dilakukan. Yang pasti, dia sudah berjanji akan mengabdi pada Tuan Puteri Kle. Selain itu, jika Kle mati, dia juga akan mati. Aku yakin, dia tidak berani melakukan apapun yang melukai Kle. Karena mereka saling melengkapi. Satu mati,s atunya pun akan mati.

Cahaya oren kemerahan terlihat kembali. Bedanya, yang mengeluarkan sistem itu seorang lelaki tampan. Bukan naga buas pongah nan tamak—Nyaga.

Kudengar suara retakan es. Aroma dingin dari tubuh Kle keluar. Aku dapat menghirup udara dingin itu, karena saking dekatnya posisi aku berdiri dengan Kle.

"Harus berhasil," jadi-jadian Nyaga itu tampak gemetaran. Ken berusaha keras, aku mengapresiasi usahanya itu. Walaupun kini Kle belum juga membuka matanya.

Slut!

Mataku reflek terpejam. Yaampun, demi gemuruh bintang, kilatan tadi begitu menyiksa mataku.

Tepat saat aku membuka mataku, kulihat Ken sedang terengah-engah. Keringatnya bercucuran hebat. Dia berusaha semaksimal mungkin, aku tau itu. Tapi, sepertinya dia gagal. Kle tidak kkunjung membuka matanya.

"Maafkan aku, aku belum bisa—"

Aku mengeleng cepat, "tidak apa, kamu baru saja bertarung dengannya, kalian sama-sama masih lemas."

Perkataanku sepertinya tidak dihiraukan. Ken menggeleng kuat. Mendekati tubuh Kle, setelah tadinya dia terlepar akibat tubuh Kle yang menolak kekuatannya.

Manis sekali, Ken mengelus tangan Kle sembari mengalirkan suhu panasnya. Matanya terpejam, berkonsentrasi penuh. Merapalkan doa dan permintaan maaf.

Miris.

Aku tau, dia tidak pernah mau dilahirkan seperti ini. Dilahirkan sebagai pewaris kekuatan sacral nan mengerikan. Dikenal merugikan, tidak dapat dikendalikan pula. Namun hatinya membuat ku terpana. Ken begitu berbeda dengan tidakannya ketika menjadi Nyaga. Lelaki tampan itu lebih dewasa dan tau diri ketika menjadi manusia normal.

Senyum Ken terpampang. Aku mengalihkan perhatian padanya. "Ada apa? Apakah kamu berhasil?"

Ken tidak langsung menjawabnya, dia masih fokus menyalurkan suhu panas pada Kle. Hingga Ken mengangkat kepalanya. "Ada respon baik di tubuhnya. Kupastikan, Tuan Puteri Kle masih hidup."

Benar! Tangan Kle bergerak. Aku berteriak senang.

Ken, lagi-lagi  merapalkan permintaan maafnya. Padahal aku yakin, Kle belum seutuhnya sadar. Kle masih pusing setengah mati, aku tau dari ekspresi wajahnya yang tanpak kepayahan untuk melihat. Setelah beberapa detik berlalu, beberapa ratus Ken merapalkan permintaan maaf, barulah Kle berbicara.

"Dar?" tanyanya dengan suara serak, aku mengalihkan sleuruh perhatianku pada Kle. "Kita selamat? Mana Nyaga?"

Aku hendak menjawab, sialnya lelaki tampan tak enakan itu memotong pembicaraanku. Tidak hanya memotong, dia juga menghalangi pandanganku pada Kle. Dia begitu menyebalkan, tidak jauh sama dnegan Op. Op juga penncitraan, di saat begini dia hanya diam memperhatikan aku bertengkar.

"Akulah Nyaga."

Mata Kle membulat sempurna. "Tidak kusangka, awalnya ini hanyalah cerita hayalan warga yang melaporkan tentangmu kepadaku."

Tuan Puteri Kle, izin melaporkan sesuatu. Selain melihat penampakan bentuk tubuh Nyaga yang mengerikan. Tubuhnya besar, seperti ular. Setiap yang dia lewati ada saja efek buruknya. Suhunya panas sekali. Aku tidak sanggup saat melihatnya tak sengaja ketika sedang dillahan. Setelah itu, lahanku terbakar hebat. Mejadi lahan ke 48 yang terbakar hebat di Wilayah Gdu. Aku pula melihat perawakan lelaki muda nan tampan. Dia sperti orang gila, menarik rambutnya paksa. Dia sepertinya memilki penyakit kepala. Namun anehnya, setelah melihat hal teresebut, kejadian buruk yang aku utarakan terjadi.

"Tidak Tuan Puteri, ini bukan khayalan." Senyum Ken begitu anggun, tak jauh beda dengan Kle.

Kle memaksakan dirinya untuk duduk, terlihat sulit sekali. "Jangan dipaksakan Tuan Puteri. Tulang-tulangmu baru-baru ini membeku. Biarkan mereka mencair dahulu."

Kle mengangguk patuh, dia kembali keposisi terlentang.

"Aku tau kamu bukan orang biasa. Siapakah dirimu yang sebenarnya?"

Ken mengangguk, "aku sudah menceritakannya pada dua sahabat serta satu lelaki tua itu. Baiklah aku akan mengulanginya kembali, untukmu Tuan Puteri Kle. Perekenalkan aku Ken, dari kerajaan Mal. Aku penerus satu-satunya dari kerajaan Mal. Penerus terdahulu mati perlahan karena menjadi Nyaga. Entah karena membunuh penerima gen-gen sepertimu. Atau karena mati terbunuh. Mereka tidak memiliki pengetahuan untuk mencari cara hidup. Sedangkan serratus tahun lalu, penerus kerajaan berhasil lolos dari kutukan gen yang katanya 'istimewa'. Aku tidak tidak tau kenapa dia berhasil. Yang pasti, aku yakin aku memiliki harapan, sepertimu Tuan Puteri Kle. Aku kemari untuk mencarimu, namun aku terlanjur mati akal. Suhu panas membakar jalan pikiranku. Perlahan wujudku menjadi Nyaga tidak terkendali. Aku pasrah, demi apapun aku menyerahkan diri apa jadinya nanti. Walaupun sebenarnya aku tak ingin ibuku menangis terus. Karena melihat jasad anaknya yang kedua kalinya. Aku ucapkan terimakasih sebesar-besarnya padamu, Tuan Puteri Kle. Tanpa membunuhku, kau malah membantu memulihkanku. Terimakasih-terimakasih, ter—"

"Stop Ken, jangan berterimakasih selalu. Ya, sama-sama. Kita hidup juga saling melengkapi. Kau juga membatuku tadi. Jika tida, aku akan mati membeku, ngerti? Oke, terimakasih Ken. AKu menangkap sesuatu, jadi sebenarnya gen-gen Nyaga berasa dari kerajaan Mal? Bearati kamu bukan orang biasa?"

Pertanyaan Kle membuatku tersadar. Oiya, dia berulang kali mengatakan, jika dirinya penerus dari kerajaan, artinya dia---

"Kamu seorang Putera?"

Ya tuhan, aku tadi tidak sopan padanya. Ternyata dia merupakan orang yang setara dengan Kle. Kebiasaan memanggil Kle ala kadarnya membuatku mati akal, kurang sopan pada orang yang bergelar tinggi.

Ken mengangguk, "aku Putera Ken, harapan terakhir kerajaan Mal."

Aku, Op dan ayah terkejut, takjub. Artinya?

Kle-lah yang menyimpulan. "Hararpan terakhir? Kakakmu sudah meninggal? Artinya kamu Putera Mahkota?"

Demi gemuruh bintang, saat ini bulu kudukku meninggi, aku merinding sekali. Kenapa pewaris gen istimewa nan special itu ada di tangan orang-orang yang hebat begini? Apa daya aku yang hanyalah kasta rendahan.

***
18/12/22

Lesap [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang