Bab 01

25 3 0
                                        

Bab 1 Aku ingin menghilang

Dar, begitulah orang-orang memanggilku. Gadis berambut keriting paling candu membaca buku. Aku terobsesi dengan sistem menghilang. Orang-orang tentu meremehkanku, menertawakanku seakan sistem itu hanya haluaku belaka. Aku hanyalah anak dari dayang dan prajurit.

Jangan berekspektasi tinggi. Aku bukan anak dari dayang senior, aku hanyalah anak dari dayang bawahan dayang senior atau sering disebut dayang pembantu. Aku juga bukan pula anak dari panglima perang, ataupun prajurit paling handal. Aku hanyalah anak dari prajurit pembantu. Tapi, aku begitu bangga memiliki kedua orangtuaku yang tangguh.

Aku tinggal di kawasan Rangkap, Wilayah Agung. Tempat para dayang dan prajurit tinggal. Jumlah Dayang dan parjurit terhitung banyak. Maka pihak kerajaan memutuskan wilayah ini untuk tempat tinggal kami beserta keluarga. Kami juga di fasilitasi pendidikan, kami bisa memasuki wilayah istana atau sering disebut kawasan Agung ketika waktu sekolah tiba. Ini kesempatan besar bagiku untuk mencari tau sistem menghilang yang mengilai pikiranku.

Ketemu!

Tak usah basa-basi ku-segera membaca. Buku ini mengatakan, jika aku harus meletakkan tanganku di bahu lalu mengucapkan "menghilang!"

Duhh, aku tidak tau aku menghilang atau tidak. lebih baik aku uji coba di depan cermin. Biar kelihatan, aku hilang apa tidak. Kaki ku beralih, mendekati cermin besar di dalam perpustakaan dengan langkah yang besar. Aku tidak sabar.

Kumulai lagi, tanganku kuletakkan di bahu kananku, "menghilang!"

Masih ada, gadis berambut keriting itu di depan cermin. Itu aku, kenapa aku tidak bisa menghilang?

Hingga kusadari, ini baru halaman 12 dari sekian halaman lain. Aku harus belajar pelan-pelan.

"Kamu sedang apa?" Kle, eh—maksudku Puteri Kle menghentikanku. Duh, kesal sekali padahal aku sedang mencari cara mengunakan sistem menghilang. Aku bahkan belum sempat memamerkan kelihaianku selain ingin menghilang, memanjat pagar.

Pantas saja, Tuan Puteri Kle meanggilku. Aku seperti orang gila, menatap kaca sembari memutar-mutarkan rambut—slayyy! Rambut keritingku semakin menawan, kulitku eksotis menghipnotis diriku sendiri.

"Maafkan aku Puteri Kle, aku sedang gila."

Tawa Kle lembut sekali masuk perlahan dalam indra pendengaranku.

"Sudah kukatakan berapa kali Dar, tidak usah memanggilku Puteri, kita seorang teman." Kle mengeleng lembut, catatan yang sedang ia kerjalan telah selesai. Kle menutupnya dengan rapi. Rambutnya panjang dan lurus kerap kali membuatku iri. Aku ingin sekali memiliki rambut sepanjang itu.

Aku tidak menjawab, jelas-jelas kastaku dengan Kle sangat jauh berbeda. Dia seorang Puteri, anak seorang Raja dan Ratu dan adik dari Pangeran makhkota, sedangkan aku, hanyalah anak dari dayang dan prajurit. Ya, pada akhirnya karena paksaannya, aku jadi terbisa memanggilnya hanya 'Kle'. Sampai-sampai aku sering lupa memanggilnya 'Tuan Puteri' saat berhadapan dengan orang-orang formal.

Kle menjatuhkan buku tebal yang dia pegang. Satu, hanya satu buku tebal tapi dia begitu payah.

Aku mengerutu, Kle kenapa sih?

"Aduh!"

Buku Kle terjatuh, tangannya bergetar. Aku menyipitkan mataku, dasar ceroboh!

Kalau sudah begini, aku sudah tidak peduli dia Puteri atau bukan. Cerobohnya membawa barang terkadang membuatku kesal.

"Maafkan aku, Dar."

Kle menurunkan posisi berdiriinya. Berusaha meraih lagi satu buku tebal yang terjatuh tadi. Aku segera membantunya. Kle begitu payah, buku itu mudah dibawa. Tapi Kle tidak bisa mengangkatnya sendiri.

Lesap [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang