Bab 4 Panggilan Pengabdian
Aku sungguh tak mengerti. Pagi-pagi sekali, ketika orang tuaku baru tiba di rumah. Aku dapat panggilan dari teman ibuku, ya para dayang-dayang itu. Perasaanku? Tentu begitu mengelora, aku merasa aliran darahku naik. Ada apa ini? Kenapa orang-orang begitu terburu-buru?
Kuberlari, ketika ibu memanggil namaku.
"Ibu, ada apa ini?" tanyaku tak mempedulikan dayang-dayang yang hendak menjemputku.
Ibu tersenyum, "jangan panik, teman-teman ibu hanya memintamu untuk menemu Tuan Puteri Kle. Sepertinya ada hal penting yang ingin Tuan Puteri Kle lakukan bersamamu, Dar. Kamu begitu keren, ibu bangga padamu."
Sial, air mataku hampir jatuh. Perkataan ibu melemahkan imanku.
Ibu mendekat, berbisik. "lain kali jangan menyeludup lagi, berbaya."
Mataku membulat, apa karena itu aku dipanggil? Dan, eh kenapa dayang-dayang itu begitu memaksaaku, tanganku ditarik. Dasar dayang-dayang, bukan berarti aku akan menjadi kalian di masa depan, kalian seenaknya memperlakukanku seperti ini. Langkahku memberontak walau tetap mengikuti dayang-dayang itu ke depan istana.
Lah, Op?
Aku terkejut ada Op disana dengan Dayang Senior Fu, dayang dari anak panglima. Dayang Senior Fu tampak setia sekali di sisi Op. Posisinya begitu mengagumkan. Ku berhayal, jika suatu saat nanti takdir yang kubenci itu terjadi---maksudnya menjadi dayang di istana ini. Aku ingin menjadi dayang senior, seperti Dayang Senior Fu.
"Hai, pagi Dar!"
Raambut kritingku berkibas, ketika aku dengan reflek mengangkat kepala dengan cepat. Yaampun Op, kau begitu dekat sekali dengan pandanganku. Hingga aku sadar, garis menawan itu ada di wajah Op.
Ku terkesiap, "pagi Op. Apa kamu tau alasan kita dikumpulkan di sini?"
Op mengangkat bahu, "bahkan yang memanggil belum datang."
Aku mengangguk, "benar, kebiasaan!" aku mengerutu, kesal sekali.
"Dia sering telat. Aku bahkan lupa dia seorang Puteri, tidak bisa kugapai."
Ya tuhan! Jantungku hendak jatuh sekarang juga. Apa Op tak menyukaiku—maksudnya menyukai Kle? Kenapa rasa sesak ini menderaku. Aku tak sanggup mendengar pernyataan Op. Ini berat bagiku. Hingga beberapa detik, Op sadar komuk wajahku mengambarkan ekspresi aneh.
"Kamu tak apa? Keringatmu di dahi banyak sekali." Tanya Op khawatir padaku. Malu, aku segera mengelap dahiku dengan cepat. Ini panas sekali, aku tidak sanggup jika disuruh menunggu di luar begini sampai Kle datang. Kle menyiksa aku. Tolong kenapa suhu di sini memanas? Perasaan baru kemarin, tidak sepanas ini.
Op memainkan jarinnya, matannya nan tajam memeperhatikan sekitar. "Aku tau ini, pasti kamu merasa kepanasan?" tanyanya sembari mengelap dahinya perlahan, itu angun sekali. "Aku tidak mengerti, suhunya begitu ekstrim sekali.
Aku mengangguk, tak sengaja, terlihat semburan merah dari kejauhan. Tak percaya, aku berusaha mengunakan mataku sebaik-baiknya. Namun itu lumayan jauh dari pandanganku.
Aku dan Op sibuk mencari tau, sampai akhirnya suara pengawawl memecahkan rasa penasaran kami.
"Yang Terhormat Tuan Puteri Kle telah tiba!"
Seketika semua mengambil posisinya, membungkuk, menekuk lutut hingga Kle mememinta mereka kembali ke posisi semula. "Maafkan aku telat datang lagi. Aku harus menyelesaikan ritual pagiku. Nah, Op dan Dar, maafkan aku telah memaksa kalian untuk datang kemari. Kuharap, kalian akan menyetujui keinginanku pada Raja."
Aku menyergit, apa-apaan ini? Kenapa tanpa aba-aba? Kle kurang ajar, Tuan Puteri macam apa ini. Aku henddak bertingkah, namun Op menahanku. Wajahnya tegas sekali, aku jadi takut.
"Ini tempat umum Dar, sadar. bagaimanapun caranya, posisi kita dengan Kle berbeda. Kita berada di bawah Kle. Wlaupun kamu teman ataupun sahabatnya sekalipun, diluar posisi kita bertiga, kamu harus bersikap patuh layaknya kamu berbicara dan bertindak dengan Tuan Puteri."
Aku sersentak, ini menyedihkan sekali. Diantara kami bertingga, aku lah yang memiliki kasta terendah.
***
"Dengan segala hormat, Yang Mulia Raja," Kle membungkuk lalu menekuk lututnya, kemudian berdiri kembali. Raja mengangguk senyumnya sumringah. Kebahagiaan itu terasa sekali ketika kulihat garis senyumnya yang menawan, itu seyuman bahagia.
"Puteriku, panggilah aku Ayah, ini terlalu kaku." Raja dengan penuh kerendah hati itu meminta pada gadisnya tuk menuruti permintaan manis. Aku gemas sekali mendengarnya.
"Baik Ayah," jawab Kle.
Raja mengangguk senang, "Bagaimana kabarmu Puteriku?"
Itu begitu manis sekali, Raja begitu gemas ketika bersama Kle. Pantas saja Kle menyayangi Raja. DI saja diperlakukan bagai berlian.
"Apakah masih menyiksamu?"
Aku dan Op tersentak, pertanyaan apa itu. Kita saling tatap, bingung.
Kle tak mengangguk atau mengeleng, ia memilih menunduk. Rambutnya nan menawan itu terayun angun. "Aku akan mengakhir itu, Ayah. Ini pula alasanku kemari, mengajukan permintaan, mungkin ini yang terakhir kalinya sebelum aku lenyap di dunia ini."
"Kau sudah melakukan banyak tindakan, Puteriku."
Aku tau itu, Kle memang Tuan Puteri yang aktif melakukan berbagai tindakan. Ekonomi di kerajaan Vol berjalan dengan baik karena riset dari Tuan Puteri sendiri. Bahkan Kle dapat menemukan tikus-tikus kerajaan sang korupsi. Memperlakukannya, balace dengan hokum. Tindakannya cepat, kamu membunuh. Aku tak berpikir apapun apalagi yang ingin Kle lakukan. Setahu aku, selama ini hidup di kerajaan Vol begitu damai.
"Dia sudah melewati Wilayah Agung, ayah. Aku tau, dia pasti ke Wilayah Gdu, wilayah terdingin yang ada di kerajaan Vol."
Raja tampak berpikir keras. Kepalannya bahkan menumpu pada tangannya, matanya menahan tangis.
"Puteriku, tiadakah cara lain menaklukkan dia dengan cara lain?" tannyanya sendu, "ayah tidak ingin, Puteri ayah satu-satunya lenyap."
Posisiku dengan Op menegang, kami tak pengerti ini percakapan apa. Satu yang kami tau, ini percakapan yang serius.
Kle berdehem, "ayah masih punya Kakak, Putera mahkota. Kakak yang akan menggantikan Ayah, meneruskan silsilah kerajaan ini, bukan aku. Jadi Ayah tidak perlu khawatir berlebihan."
Aku menganga, Kle berbeda sekali.
Raja menautkan alisnya, "Baiklah Puteri, sebagai seorang raja, melindungi rakyatnya ... aku menyetujuimu. Bawalah dayang dan prajurit yang kamu perlukan. Bawalah semua yang kamu perlukan. Sebagai seorang Ayah, aku akan berusaha menjagamu sebisaku. Tagung jawabku menjaga anggota keluargaku."
***
Keluar dari singgahsana Raja, aku menceloteh panjang lebar kepada Kle di kamarnya. AKu marah, karena Kle tak memberi tauku soal apapun. Hanya mengajak aku dan Op sebagai tumbal dalam percakapannya, agar Raja menerima permohonannya? Dih, itu begitu menyebalkan!
"Kenapa kamu tak bilang padaku sejelas-jelasnya, aku pasti akan setuju kan? lagi pula kamu seorang puteri siapa yang akan menolakmu? Jelaskan sekarang, padaku dan Op, apa rencanamu. Kenapa begitu dadakan tak seperti dulu-dulu?"
Kle menggeleng, "aku yakin, kali ini kamu tak akan setuju."
Aku geram, "kenapa kamu begitu yakin aku tak akan setuju?" tanyaku dengan emosi meluap-luap.
Sedangkan Op, hanya duduk dibangku. Santai memandangi keributanku dengan Kle.
"Sepertinya ketika aku sebutkan namanya, kamu akan mencari tau dan akan menolakku."
Aku menarik kerah baju Kle kasar, ini pelanggaran sekali untuk kasta rendah sepertiku. Anak dari seorang dayang rendahan berani-beraninya menarik kerah Yang Mulia Tuan Puteri Kle? Itu bejat sekali. Aku tau resikonya.
"Nyaga, aku akan mengalahkannya."
Setelah mendengar penyataan itu, aku pergi. Tujuanku? Perpustakaan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Lesap [Selesai]
FantasiLantas, apa gunanya Puteri? Jika pada akhirnya, hanya anak laki-laki Raja yang akan menjadi Putera Mahkota--mewarisi tahta. Ikutlah dalam cerita pengabdian-ku pada Kerajaan Vol. Aku akan membongkar, pengorbanan Puteri Kerajaan Vol yang mahal sekali...
![Lesap [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/326182466-64-k182487.jpg)