Bab 18 Aneh dan Terjadi Lagi
"Cie, sekarang si keriting sudah jadi anak dari prajurit tingkat 4. Itu peningkatan yang mengejutkan, jidak ada satu malam, tiba-tiba keluarga kalian naik posisinya. Aku sungguh iri." Ucap prajurit-prajurit rese yang selama ini mengodaku. Makan tu, akibat mengejekku, kalian jadi iri kan. Aku bertindak pongah layaknya biasa aku lakukan pada prajurit rese itu.
"Ya tentu, nekat mengambil langkah adalah jalan menuju ke suksesan," gayaku sombong sekali. Jika saja ini bukan para prajurit. Bisa-bisa aku digeplak atau parahnya dihina.
"Oh gitu, sukses sampai lupa sama kita?" tanyanya memelass. Aku hampir saja kelepasan ketawa kencang-tak menjaga parasku, jika saja aku tak sadar sekarang istana memasuki jam-jam ramai.
"Kalian ini, pas aku diinjak-injak kalian mengejekku. Sekarang minta di ingat. Siapa yang munafik di sini? Butuh kaca?"
Demi gemuruh bintang, aku begitu blak-blakan. Filter di bibirku sepertinya lemah, tak mampu menahan setiap ungkapan yang terucap.
Prajurit rese itu begitu terkejut, kondisi wajahnya sampai melongo begitu. Selain wajah melongonya, aku juga melihat slibat ekspresi takut dari wajah mereka.
"Aku tidak bermaksud begitu Dar, kenapa kamu begitu serius?"
***
Akhirnya sekian lembar kertas ceritaku berlalu, aku memiliki kamar. Menyedihkan sekali bukan? Umurku yang sudah memasuki masa remaja, masih sekamar dengan orang tua dan kakakku. Bukan karena aku manja dan takut, tapi karena aku tidak memiliki kamar lain. Rumahku yang dahulu hanya memiliki satu kamar, sempit pula.
Aku menikmati setiap sudut kamarku. Damai sekali hidupku hari ini. Aku dapat memandangi pemmandangan Wilayah Agung dengan luasa.Tanpa taku diusir kakaku yang tidak suka silau, katanya membuka jendela yang lebar-lebar membuat matanya sakit. Padhal dia terlalu berlebihan. Dengan membuka jendela sirkulasi udara akan mengalir dengan baik, kesehatan terjamin.
Tok tok
Aku menghena napas gusar, ya tuhan aku baru saja tendak tertidur. Pasti ibu sedang memastikan aku sudah makan apa belum. Sekarang sudah menunjukkan waktu makan siang. Pasti ibu akan izin memastikan aku sudah makan apa belum. Sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun.
Terpaksa, aku melangkah malas. Menuju kepintu kamar. Hanya beberapa langkah. Walaupun aku memiliki kamar, bukan berarti aku punya kamar seluas Tuan Puteri Kerajaan Vol. Itu sangat tidak mungkin terjadi.
"Ya Bu, ini Dar mau makan kok. Sebentar-"
Kalimatku berhenti ketika melihat Op muncul di hadapanku.
"Eh-eh, kaget! Ya Tuhan, Op, kenapa tidak bilang-bilang?" panikku meningkat pesat.
"Maaf tidak mengatakan kedatanganku, Dar. Kita bingung sekali hendak apa. Aku juga bingung.. Tuan Putera Mahkota Ken tiba-tiba mengamuk. Ktanya kulitnya terbakar. Aku semakin takut kalau suhu panas di tubuhnya membakar otaknya. Aku tidak ingin dia menjadi Nyaga kembali, dan menganggu aktivitas istana." Op panik sekali. Tubuhnya sampai gemetaran menatapku.
Aku menggeleng cepat, "Op, tenanglah, tenanglah dulu. Aku tau, dia pasti membutuhkan hal berkebalikan dengan Kle. Mari kita ke Tuan Putera Mahkota Ken berada."
Op menggeleng cepat, "aku tidak akan berani mengajakkmu. Panglima melarang siapa aja masuk ke ruangannya. Bahkan aku, anaknya panglima saja tidak bisa menembusnya walau aku sudah memaksanya berulang kali. Mereka khawatir ketika kita masuk, Tuan Putera Makhkota tiba-tiba berubah wujud. Padahal pemahaman mereka yang belum sampai.. Aku tidak punya cara untuk menjelaskan."
Aku tersenyum miring, "kalau kamu tak tau, kupastikan aku tau. Antarkan aku ke ruangan itu, cepat Op!"
Op menggeleng takut.
"Baiklah, aku 'kan berangkat sendiri-"
Op panik, menggeleng cepat, "tidak, mari aku temani."
***
Drama ini mulai kembali. Aku membantai semua perkataan orang-orang ini. Bahkan aku lupa aku siapa. Kastak umasih di bawah para panglima, jauh sekali. Tapi aku berani ngotot melawan ucapannya. Lagian, ucapan mereka tidak berdasar sekali. Asal omongnya terlihat sekali, terlihat saat menjelaskan, berbelit-belit. Muter-muter selalu. Padahal intinya sama aja.
"Kalian ini, gelarnya sudah tinggi ya aku tau jauh sekali dengan kastaku. Walaupun baru semalam Raja mengangkat derajat keluargaku. Tapi tetap saja keluargaku masih di bawah kalian 'kan? Iya aku tau. Tapi bukan berati kebenaran tidak akan mucul dari bibirku ini. Kebenaran bisa dari mana saja kan? tidak hanya dari kasta atau gelar tinggi 'kan? dasar pencinta dunia dan jabatan. Jijik sekai mendengarnya!"
Wajahku memerah, aku marah. Sedangkan Op berusaha menenangkanku sedari tadi. Tapi aku sellau membanti tangannya, mengenaskan sekali. Aku tau alasan Op tetap diam.. Dia anak dari panglima, dia tidak punya kekuatan untuk melawan. Itu lemah sekali, padahal Op sudah berusaha di pihakku. Walaupun itu cara yang loyo sekali. Menenangkanku tidak akan menimbulkan apappun. Malah aku rishi dengan tangannya itu, geli banget rasanya.
"Bukan begitu Dar, kami melarang karena untuk keselamatanmu."
"Ya, saat ini untuk keselamatanku. Kalau tiba-tiba Tuan Putera Makhkota berubah bagaimana? Berubah jadi Nyaga terus mengamuk menghancurkan dinding ini menyerang satu istana. Apa itu juga akan menjagaku dari serangan Tuan Putera Makhkota Ken? Berpikir dikit bisa gak sih. Pendek banget perkiraanya." Aku kesal sekali. Sudah berbuit mulutku untuk menyingkirkan mereka semua. Tubuh kekar mereka itu tak diseimbangi pemikiran yang logis, jadi lambat sekali memberi mereka pemahaman lebih. Mungkin bisa saja, tapi karena perubahan Nyaga dianggap mustahil bagi mereka.
"Maaf Dar, tapi tidak dizinkan. Kami tidak bisa lepas tangung jawab kami menjaga pintu ini."
"Lepas tangung jawab katamu? Wah-wah kalian orang penting ya? Maaf aku lupa. Kalau melepas tangung jawab, bertindak diluar peraturan kerajaan, tapi menyelamatkan,a pa bisa dikasih hukuman?"
Panglima-paglima menjawab, "seharusnya tidak-"
"Nah!" aku langsung memotong pembicaraan mereka. "Kalian tau itu, kenapa pura-pura bodoh? Dasar panglima pencitraaan. Kalau tidak, ngapain aku dan keluargaku dilaikan tingkatannya menjadi golongan 4. Ada hadiah di balik usaha yang kita raih, dari argument yang ada.
"Baiklah kalau ini yang kamu mau."
Aku mengangkat kepalaku pongah, begitu percaya diri akan diizinkan. "jadi aku diizinkan masuk ni ke ruangan Tuan Putera Makhkota?" tanyaku antusias..
Mereka menggeleng..
Aku membanting kakiku asal. "Heh! Terus gunanya kalian menjaga istana ini apa?" tanyaku kembali mengajak keributtan.
Di tengah keributan tersebut, dayang-dayang menerobos posisi berdiri panglima. Mereka menmanggil namaku dengan panik. "Dar!"
aku kebingungan
Aku yang masih di makan emosi seketika naik darah, "apa!?"
"Ampun, maafkan aku." Dayang itu ketakutan. Ya tuhan aku terlalu banyak bertingkah.
Walaupun merasa bersalah, aku kembali lagi membentak. Menunggu terlalu lama membuat waktuku terbuang sia-sia. Kalian semua ahrus membayar waktuku yang telah dibuang tidak wajar ini. "Apa, cepat katakana,a ku akna memeafkanmu nanti setelah kamu mengatakan dengan sejelas-jelasnya."
"Tuan Puteri Kle, aku tidk bisa mengatakan dia baik-baik saja. Dayang Seior Tsi memintamu untuk ke kamar Tuan Puteri Kle. Katanya kamu tau cara untuk meredakannya. Apalagi kamulah yang ikut melawan Nyaga bersama Tuan Puteri Kle."
Aku panik, darahku langsung laik mendidih. Kupastikan, Kle tidak baik-baik saja sekarang. Mereka berdua saling berkaitan. Satunya jatuh, satunya pun merasa begitu. Mereka bagai dua buah pasangan yang memiliki ikatan batin.
Aku menatap panglima pongah. "LIhat, pihak Tuan Puteri Kle tidak seribet pihak Putera Makhkota Ken. Jiga tiba-tiba Tuan Putera Makhkota Ken berubah menjadi naga, parah-paranya menjadi Nyaga, aku taki ingin bertangung jawab!"
***
18/12/22
KAMU SEDANG MEMBACA
Lesap [Selesai]
FantasiaLantas, apa gunanya Puteri? Jika pada akhirnya, hanya anak laki-laki Raja yang akan menjadi Putera Mahkota--mewarisi tahta. Ikutlah dalam cerita pengabdian-ku pada Kerajaan Vol. Aku akan membongkar, pengorbanan Puteri Kerajaan Vol yang mahal sekali...
![Lesap [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/326182466-64-k182487.jpg)