Julian sedang melakukan pemeriksaan. Tentu saja ditemani oleh Jayden di sampingnya. Dengan wajah tegang sebab dia yang dikira telah melakukan hal ini pada si wanita.
"Bukan dia, Dok."
Si dokter langsung berhenti menatap sinis Jayden. Padahal, dia berniat untuk melaporkan hal ini. Karena dia sudah terlampau sering menerima kasus seperti ini.
Julian sudah selesai diperiksa. Saat ini dia sedang menunggu Jayden menebus obat. Sembari mengangkat telepon seseorang dengan wajah merah padam.
"APA PEDULIMU!? BAJINGAN! BERANINYA HANYA DENGAN PEREMPUAN! KAU BERUNTUNG JULIAN MELARANG MELAPORKAN! KALU TIDAK, SEKARANG KAU PASTI SUDAH DAPAT SURAT PENANGKAPAN!"
Jayden langsung mematikan ponselnya. Lalu berlari kecil mendekati Julian yang sudah menatap penasaran dirinya. Dengan keadaan masih memakai jas kebesaran yang sudah dikancingkan.
"Kita cari makan sebentar."
Julian mengangguk singkat. Sedangkan Jayden mulai membelah jalan. Dengan rahang mengeras. Sebab ingat saat Meghan yang tidak tahu diri tiba-tiba saja menelepon dirinya dan bertanya di mana keberadaan Julian.
Tidak lama kemudian mereka tiba di restoran. Di tengah-tengah acara makan, Jayden kerap kali mendapat telepon dari katornya. Karena seharusnya, dia langsung kerja. Bukan justru mengajukan cuti tiba-tiba.
"Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih karena sudah mengantarku berobat tadi."
Jayden menggeleng pelan. Lalu lanjut menyantap makanannya lagi. Kali ini sembari melirik Julian yang sudah menatap dirinya dengan wajah merasa bersalah kali ini.
"Aku ada apartemen kosong di dekat jalan Veteran. Kalau mau, langsung pindah ke sana saja. Aku bantu mengemas sekarang. Karena aku tidak yakin kamu bisa pergi sendirian."
Julian diam saja. Dia masih lanjut makan. Karena masih bingung sekarang. Sebab dia memang belum berniat pergi dari Meghan.
Setelah makan, mereka langsung kembali ke apartemen kembali. Jayden yang gencar menghasut untuk pergi, perlahan membuat Julian goyah saat ini. Berniat menuruti ucapan Jayden yang cukup masuk akal sekali.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini!? Sampai mati? Aku yakin, ini pasti bukan kali pertama kamu mendapat perlakuan seperti ini!"
Julian masih diam saja. Batinnya bimbang. Mengingat selama ini dia memang selalu mengandalkan Meghan. Jika pergi tiba-tiba, Julian takut akan diserang. Takut foto atau videonya disebar.
Jelas Julian tidak akan memiliki siapapun yang akan membantu. Mengingat Meghan juga memiliki kuasa di negara itu. Jika speak up sendiri, Julian takut akan semakin direndahkan dan dicap semakin buruk.
Mengingat sistem hukum di negara ini selalu runcing di bawah dan tumpul di atas. Meghan jelas akan dengan sangat mudah membalikkan keadaan. Dari pelaku menjadi korban.
Ditambah, image pria itu selalu baik di depan orang-orang. Di depan dirinya juga, saat tidak ada masalah. Namun dia akan berubah menjadi setan saat rasa cemburu datang.
"Jayden. Terima kasih atas bantuannya. Tapi sepertinya, aku akan memberi kesempatan Meghan lagi. Aku yakin dia bisa berubah suatu saat nanti. Karena aku tahu dia pria baik terlepas dari apa yang telah dilakukan padaku saat ini.
Julian langsung keluar dari mobil. Karena sejak tadi mobil Jayden sudah berhenti. Di depan apartemen Meghan si pria jahat ini.
Karena Jayden berniat mengantar Julian berkemas dan pindah ada awalnya. Namun si wanita justru menolak dan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Membuat dia agak kecewa tentu saja.
Ceklek...
Jayden ikut keluar dari mobil. Ingin membujuk Julian lagi. Namun, tiba-tiba saja ada Meghan yang sudah berlari dari arah lain.
Tbc...
![MANIPULATIVE [END]](https://img.wattpad.com/cover/330145518-64-k941598.jpg)