Lunarios ||panik attack

10.5K 200 2
                                    

Diwajibkan vote untuk bisa membaca cerita ini, karena minthor bisa sewaktu-waktu memprivate cerita.

************************************

Luna menghela nafas sebelum menemui Mrs. Maria. Dengan langkah tegap ia masuk ke ruang utama. mereka duduk bersebrangan.

"Hai Luna, bagaimana kabar mu?"

"Baik."

"Senang bisa melihat mu kembali meski di luar kelas."

Luna hanya tersenyum, "Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk datang."

"Ya, tidak masalah." Mrs. Maria mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah buku yang beberapa waktu lalu diambil Luna dari ruangan Mrs. Maria.

"Pertama saya ingin membahas tentang ketidak hadiran kamu selama beberapa minggu ini lalu yang kedua tentang buku yang kamu berikan pada saya."

Mrs. Maria meletakan buku-bukunya. "Kita bahas yang pertama. Apa alasan kamu sehingga absen tanpa keterangan apa pun? Bukan kah kamu sudah tahu konsekuensi mahasiswa penerima beasiswa tidak bisa seenaknya absen jika tidak dalam kepentingan mendesak?"

Luna mengangguk, "Saya sakit."

"Sakit? Adakah surat keterangannya?"

Luna menggeleng, "Saya belum berobat."

"Luna, apa pun alasannya seharusnya kamu beritahu pihak kampus. Karena absensi itu menentukan nilai apalagi kamu masuk dengan jalur beasiswa."

"Saya mengerti Mrs dan saya akan menerima apa pun konsekuensinya."

"Termasuk beasiswanya di cabut?"

Luna mendelik, meski tanpa beasiswa pun Luna mampu melanjutkan pendidikannya. Hanya saja, dia memiliki cita-cita bisa bersekolah mengandalkan otak bukan materi.

"Saya bercanda, pihak kampus tidak mungkin mencabut begitu saja." Mrs. Maria mengeluarkan amplop dari dalam tasnya lalu menyerahkan pada Luna.

"Kamu bisa baca setelah saya pergi, oke lanjut tujuan yang kedua. Saya ingin bertanya saat saya perintahkan kamu ke ruangan apa kamu benar-benar masuk keruangan saya?"

Luna mengangguk, seingatnya dia memang masuk ke ruangan Mrs. Maria.

"Buku ini milik Mr. Jhon, dia kehilangan buku ini tepat di saat kamu memberikannya pada saya."

Tingkat emosional Luna tiba-tiba naik, bola matanya sedikit melotot dengan alis berkerut.
"Maksud anda?"

"Jangan salah sangka dulu, kita sedang tidak menghakimi kamu. Saya hanya bertanya apa setelah kamu keluar, tidak ada orang yang berlalu lalang?"

Luna kembali menggeleng,

"Karena dalam rekaman cctv juga tidak terdeteksi pelakunya, but no problem. Tidak ada barang yang hilang hanya buku ini berpindah dari tempatnya."

Sekali lagi, Luna mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa minggu lalu namun bukan ingatan pada ruangan Mrs Maria yang hinggap di kepala melainkan kejadian pemerkosaan.

Kepala Luna merasakan sakit, dia sampai harus memegangnya demi mengontrol diri untuk tidak berteriak.

"Luna, kamu tidak apa?"

Luna masih diam, dia mengatur nafasnya berulangkali.

"Kalau masih sakit, saya bersedia mengantar mu berobat."

Luna menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkannya pelan-pelan.

"I'm okay Mrs."

"Yakin? Tapi saya tidak melihat kamu baik-baik saja."

Lunarios (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang