Lunarios || pregnant

12.9K 159 3
                                    

Diwajibkan vote untuk bisa membaca cerita ini, karena minthor bisa sewaktu-waktu mengunci part atau menghapusnya!!

************************************

Rumah sakit..

Untuk kedua kalinya, Luna mendatangi rumah sakit untuk konsultasi masalah kejiwaan. Di temani London, Luna berjalan pelan menuju ruang tunggu.

"Antrian ke berapa?" Tanya London

Luna mengarahkan ponsel yang menyajikan nomor antrian. London hanya ber-oh ria, keduanya duduk menunggu giliran.

London sibuk bermain ponsel dan Luna yang sibuk dengan segala pikiran. Hanya satu yang masih mengganggu pikirannya yaitu ucapan dokter Calista yang mengatakan apakah pelaku menggunakan pengaman?

Pertanyaan itu sangat mengganggu pikiran Luna dalam beberapa hari. Ketakutannya bertambah bagaimana jika Luna hamil? Sedang dia tidak tahu siapa ayah dari bayinya.

Perang antara hati dan otak membuat Luna melamun, London mengibaskan tangan mengembalikan kesadaran.

"Jangan melamun."

Hanya senyum tipis yang mewakili,

"Aku ke toilet dulu."

"Perlu aku antar?"

Luna menggeleng, memukul pelan bahu berotot itu.

Di dalam toilet, Luna membasuh tangan menatap dirinya melalui pantulan cermin.

Sudah beberapa hari ini, kebiasaanya berteriak saat mengingat kejadian naas itu sedikit mereda. Luna bisa mengontrol diri dengan mengepalkan tangan dan menggenggam apa pun yang ada di sekitar.

Huft...

Luna kembali membasahi tangan juga wajah.

Brak...

Pintu terbuka kasar dari luar, seorang wanita berseragam khas perawat rumah sakit tiba-tiba masuk berlari kecil menuju wastafel.

Huek...

Alis Luna berkerut mendengar suara muntahan, meski wanita itu tidak memuntahkan apa pun namun suaranya mampu membuatnya bergidik.

"Astaga," lirih wanita itu sambil mengelap bibir.

Luna masih enggan menyapa atau bertanya, dia masih sibuk menatap diri di depan cermin.

"Bisa tolong ambilkan tisu lagi?"

Luna menoleh menyerahkan tisu.

"Terima kasih."

Selesai mengelap bibir dan wajah, wanita itu mendekati Luna ditatapnya lekat-lekat wajah itu.

Tidak ada obrolan diantara mereka, keduanya sibuk masing-masing. Namun satu hal yang membuat Luna menoleh, wanita itu tampak memegang perut dengan wajah sendu.

"Anda baik-baik saja?"

Wanita itu menggeleng, "Entahlah, saya..."

Wanita itu menoleh, wajahnya membentuk sebuah permohonan.

"Saya ingin bertanya pada anda, seandainya ada seorang wanita hamil tapi ayah dari bayinya bukanlah seseorang yang sekarang bersamanya, bagaimana menurut mu?"

Kedua alis Luna terangkat mencoba mencerna setiap kata.

Ayah dari bayinya bukanlah seseorang yang saat ini bersamanya? Ucap Luna dalam hati.

"Maksud mu hasil perselingkuhan?" Luna langsung to the point dan wanita itu terdiam menunduk.

Luna menyadari kesalahan hingga langsung meminta maaf. "Sorry."

Lunarios (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang