Diwajibkan vote untuk bisa membaca cerita ini, karena minthor bisa sewaktu-waktu mengunci part atau menghapusnya!!
************************************
Sampainya di lantai dua, Luna dibawa masuk ke sebuah ruangan pribadi, tempat dimana Arell tidur disana. Luna menatap bocah kecil yang memberingsut memeluk bantal guling.
"Mari kita bicara masalah yang kemarin tertunda." Ucap Gerard
Langkah kaki tegapnya menuju sebuah nakas mengambil kertas lalu memberikannya kepada Luna.
Luna enggan menerima apa pun yang diberikan Gerard, matanya hanya melirik sekilas lalu kembali membuang wajah.
Gerard yang geram langsung memberikan ke tangannya.
"Surat ini berisi kesepakatan hak asuh atas putra ku."
Luna mencibir menyunggingkan bibir. "Putra mu? Apa aku tidak salah mendengarnya?"
Gerard menggeleng, "Hasil DNA sudah cukup membuktikan. Silahkan tanda tangan dan pergi lah jauh-jauh dari kami."
Tanpa membaca isi dari kertas itu, Luna langsung menyobek hingga menjadi beberapa bagian lalu menaburkan didepan Gerard.
"Sejak aku hamil hingga detik dimana kau belum mengetahui semuanya, apa kau berfikir sedikit untuk tanggung jawab?"
"Tanggung jawab? Bagaimana aku bisa tanggung jawab jika kau sendiri tidak memberitahu ku!"
"Lalu jika aku mengatakan kehamilan ini apa kau akan menerimanya? Atau kau akan menyuruhku menggugurkan janinnya?"
Gerard terdiam, dia mengusap wajahnya lalu mendekat. Menempelkan kedua tangan pada pundak Luna.
"Jangan buang-buang waktu, saya tidak suka berdebat."
Luna mengalihkan kasar tangan Gerard, "Jangan sentuh seinci pun tubuh ku atau ku ledakan bom ini!"
Luna menunjuk remote control tersebut, sebenarnya itu hanya gertakan semata. Remote control itu hanya mainan milik Arell. Luna sengaja membawanya untuk menakut-nakuti Gerard.
"Jangan main-main Luna, kita semua bisa mati konyol."
"Itu lebih baik!"
Gerard kehilangan kesabaran, dia berkacak pinggang mengusap wajah beberapa kali. "Kau wanita pembangkang!"
Gerard hampir melayangkan tamparan jika tidak mengingat bekas luka yang masih memburu di beberapa pipi.
"Dendam mu sudah terbalas. Saya kehilangan semuanya, proyek, kepercayaan dari semua orang dan
..." Ucapan itu terjeda sekian detik hingga Gerard kembali bersuara,"Kau bisa melanjutkan mu hidup dengan tenang. Saya juga akan melanjutkan hidup, memulai semua dari awal bersama Arell."
Plak...
Luna menampar Gerard hingga pria itu memegang bekas tamparan.
"Sampai kapan pun saya tidak akan mengizinkan kau membawa Arell sekali pun kau ayah kandungnya!"
Gerard tersenyum miring, "Bukan kah itu adil?"
"Adil kata mu? Keadilan bagi ku adalah melihat mu membusuk dengan semua rasa sesal mu!"
Gerard memajukan satu langkah, mengikis jarak agar bisa meraih pipi merah itu. Namun dalam sekejap Gerard mencengkram kedua tangan mengambil paksa remote controlnya.
Gerard menghancurkan remote control itu dengan cara menginjak, dia juga membanting tubuh Luna ke sofa. Kedua tangannya di cekal kebelakang, satu tangan mencengkram rambut hingga kepala Luna menengadah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lunarios (END)
Fantasy🔞 WARNING!! 🔞 area 21+ banyak adegan dewasa, kata-kata kasar bernada umpatan dan adegan BDSM! tolong kebijakan dalam membaca jika belum berusia 21, harap skip atau dosa di tanggung penumpang! 🤪 Lunara adalah seorang anak yang tidak jelas asal us...