Lunarios || kemiripan

4.5K 118 7
                                    

Diwajibkan vote untuk bisa membaca cerita ini, karena minthor bisa sewaktu-waktu mengunci part atau menghapusnya!!

************************************

Gerard membuka pintu mempersilahkan Luna masuk kedalam ruangannya. Sekian detik Luna hanya berdiri memperhatikan ruangan luas tersebut. Kedua matanya tidak berkedip seolah terhipnotis oleh penataan ruang.

"Ms. Lunara,"

"Ah ya,"

"Silahkan duduk."

Hanya senyum tipis yang mewakili, Luna pun duduk di sofa bersebrangan dengan Gerard.

"Oh iya dimana letak kotak medisnya, biar saya ambilkan."

"Pegawai saya akan membawanya kemari."

Gerard berjalan ke meja kerja untuk menghubungi pegawainya.

"Ya, bawakan kotak p3k ke ruangan saya sekarang."

"Ms. Lunara anda mau minum apa?"

"Oh tidak perlu."

Gerard lalu kembali ke sofa duduk bersebrangan lagi.

Kedua mata Luna menilik sebuah bingkai foto yang terpasang pada meja kerja.

Sebuah foto keluarga Rodriguez dengan senyum bahagia. Disamping kanan dan kiri kemungkinan itu orang tua Gerard dan yang ada di tengah adalah Gerard kecil.

Sekilas foto anak kecil itu mirip dengan Arell, putra semata wayang Luna. Meski Luna tidak merawat Arell tetapi beberapa kali Mey mengirim foto pertumbuhan Arell, tapi tidak pernah Luna lihat hanya tersimpan rapi dalam album.

"Tuan Rodriguez, apa itu anda?" Ucap Luna menunjuk kearah bingkai.

"Ya benar,"

Luna mengangguk-angguk, jadi Luna tidak salah alamat dalam menaruh dendam. Tidak perlu Luna melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah Gerard adalah ayah biologis Arell atau bukan. Sudah sangat jelas Gerard dan Arell memiliki wajah yang sama.
Gerard lah penyebab kehancuran masa depannya.

Tanpa Gerard sadari kedua tangan Luna mengepal, dia tidak sabar ingin meletupkan bom.

"Ms. Lunara, sejak tadi anda melamun, apa ada yang mengganggu pikiran?"

Luna menggeleng dengan senyum tipisnya, "Kira-kira kapan pegawai anda datang? Apa sebaiknya saya yang ambilkan saja?"

Tok..tok..tok...

Luna dan Gerard menoleh kearah pintu, pegawai wanita yang tadi di hubungi Gerard datang membawa kotak medis.

"Tuan Gerard, ini kotak yang anda minta."

Gerard akan berdiri tapi Luna lebih dulu menerima kotak tersebut.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Posisi duduk Luna berganti menjadi bersebelahan dengan Gerard. Dia membuka kotak medis mengeluarkan alkohol beserta kapas untuk membersihkan area wajah sebelum dioles salep.

Perlahan tangan lentik Luna mengoles alkohol kebeberapa area wajah yang mengalami luka lebam. Dia sangat telaten dalam mengobati.

"Ini pasti sakit sekali."

"Sedikit."

Gerard nyengir ketika Luna menekan luka tersebut.
"Auh..."

"Hmm hanya bertahan sebentar, setelah dioles salep akan lebih baik." Ucap Luna penuh kelembutan.

Gerard hanya menurut karena dia juga membutuhkan obat pereda nyeri.

Selesai mengoles alkohol ke wajah, Luna mengambil salep tetapi kedua matanya melihat bekas luka lain yang ada ditangan.

Lunarios (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang