Diwajibkan vote untuk bisa membaca cerita ini, karena minthor bisa sewaktu-waktu mengunci part atau menghapusnya!!
************************************
"Gerard," ucap Lucia antusias.
Maklum saja sudah lama mereka tidak bertemu sehingga saat Dante mengatakan teman-temannya akan datang, Lucia menyiapkan banyak makanan.
Gerard mendekat, senyum merekah itu ditunjukan untuk Lucia. Perempuan yang sudah Gerard anggap seperti ibunya sendiri. Mereka berpelukan saling melepas rindu satu sama lain.
Lucia melepas pelukan meraih wajah Gerard dengan mengelusnya lembut.
"Kau lebih tampan dari biasanya nak eh tapi tunggu kau jadi lebih kurus sekarang,"
"Aku memang terlahir tampan bibi,"
"Kau memang selalu percaya diri, astaga aku terlalu senang sehingga melupakan disini banyak orang. Ya sudah kalian nikmati obrolan bibi akan siapkan makanan."
Lucia masuk kedalam untuk menyiapkan makanan pembuka, tersisa anak-anak muda juga bocah kecil empat tahun.
Gerard menatap satu persatu dua wanita yang duduk bersebelahan juga anak kecil ditengahnya, tatapannya berhenti pada Luna.
"Lunara?"
Luna tersenyum masam, "Hai."
Gerard kebingungan meminta penjelasan Dante dengan lirikan. bagaimana Dante bisa mengenal Luna dan membawanya bergabung untuk perayaan kesembuhan ibunya?
"Oh iya aku lupa mengenalkan mereka, wanita yang duduk di sebelah kiri adalah Mey dan di sebelahnya Luna. Seperti yang kau sebutkan tadi."
Lalu tatapan Gerard kembali pada bocah kecil yang ada ditengah.
"Dan yang ini...."
Ucapan Dante berhenti melihat perubahan wajah Gerard. Dia terdiam tanpa berkedip sehingga Mey langsung menyahut
"Dia keponakan ku."
"Keponakan?" Ulang Dante.
Mey mengangguk,
"Wajahnya sangat tampan." Puji Gerard
Gerard berbisik kearah Dante, "Bagaimana kau mengenal Luna?"
Dante tidak menggubris, "Eumm Mey bisa tolong bantu ibu ku?"
Mey sedikit merasa bingung namun Dante langsung menarik tangannya menjauh.
"Lun, aku titip Arell."
Luna tidak merespon, hanya lirikan tajam yang mewakili. Dalam hatinya ingin mengumpat.
Gerard yang tadinya masih berdiri kini duduk bersebrangan dengan Luna.
"Dunia sangat sempit," ucap Gerard membuka obrolan.
"Ya, kita bertemu lagi di luar kantor."
Arell yang tadinya masih fokus dengan mainan kini menoleh. Matanya tidak berkedip melihat Gerard.
"Hai, bagaimana? sudah bosan dengan mainannya?"
"Uncle?"
"Namaku Gerard." Gerard mengulurkan tangannya.
Arell masih diam memperhatikan wajah Gerard. Tatapannya kosong memikirkan sesuatu.
"Apa Arell bisa merasakan pria di depannya adalah ayah kandungnya?" Batin Luna
Luna mengelus pelan punggung Arell,
Arell tersadar, "Wajah mu sama persis seperti uncle yang ada di mimpi ku."

KAMU SEDANG MEMBACA
Lunarios (END)
Fantasy🔞 WARNING!! 🔞 area 21+ banyak adegan dewasa, kata-kata kasar bernada umpatan dan adegan BDSM! tolong kebijakan dalam membaca jika belum berusia 21, harap skip atau dosa di tanggung penumpang! 🤪 Lunara adalah seorang anak yang tidak jelas asal us...