Acleo sedang menulis di buku ungu miliknya. Menuliskan tentang diary harinya di buku. Terkadang juga ia membuat cerita tentang dirinya sendiri di dalam buku. Menceritakan tentang kisah kehidupannya.
Acleo yang sedang asik menulis terkejut,ketika tiba-tiba buku miliknya terampas paksa dari tangannya. Acleo terdiam melihat buku yang sedari tadi ia pegang untuk menulis menghilang begitu saja seperti magic.
Acleo menatap heran ke arah orang yang mengambil buku ungu miliknya dengan paksa yang tidak lain adalah Gavin, teman sekelas Acleo, yang tidak bosan-bosannya selalu membully kekurangan Acleo.
"Berikan," Acleo meminta buku nya untuk dapat di berikan kembali.
"Ga, ga segampang itu lo minta buku lo buat balik," Gavin menatap sinis ke arah Acleo.
"Buku itu penting," Acleo terus saja memohon berharap bukunya bisa di kembalikan.
Gavin yang tampak tidak peduli dengan permohonan Acleo , berjalan membawa buku ungu milik Acleo ke luar kelas.
Acleo tampak takut melihat Gavin yang membawa buku miliknya ke arah keluar kelas, buku itu sangatlah penting bagi Acleo, buku itu seperti teman baginya, ia selalu saja membawa buku kesayangan nya itu kemanapun ia pergi.
Acleo mengejar Gavin yang membawa kabur buku ungu miliknya. Tampak api membara di depan Gavin yang berdiri di depan api, ingin melemparkan buku Acleo ke dalam api itu.
"JANGAN!" teriak Acleo sambil berlari mencoba untuk menyelamatkan bukunya yang hendak ingin di lemparkan ke api oleh Gavin.
Tangan Acleo terus saja mencoba untuk merampas bukunya kembali dari Gavin
"Buku lo yang gue bakar, atau tubuh lo yang gue bakar?," ancam Gavin tegas menatap Acleo dengan tatapan yang tajam.
Acleo yang masih mencoba untuk menghentikan Gavin itu hanya bisa terdiam lemas ketika melihat Gavin sudah melemparkan buku miliknya ke dalam api.
Acleo bergegas untuk mengambil air dengan ember di samping nya untuk memadamkan api, berharap jika bukunya masih bisa terselamatkan.
Usaha kecil yang Acleo lakukan ternyata hanya sia-sia buku miliknya sudah habis terbakar, hanya tersisakan abu bekas bakaran buku ungunya.
Hanya menyisakan abu bekas bakaran saja, Acleo terduduk di depan abu bakaran buku miliknya. Ia hanya terdiam menatap abu bakaran itu. Tampak sekali raut wajah sedih di wajah Acleo seperti sedang menahan air matanya yang ingin jatuh, ia tidak ingin terlihat lemah di depan banyak orang.
Satu persatu siswa-siswi yang merasa heran datang merubungi Acleo yang tampak sangat lemas.
"Orang culun itu," teriak Gavin memberi tau kepada rombongan siswa-siswi itu sembari menunjuk ke arah Acleo.
"Oh iya ini si culun itu," teriak salah satu siswi putri yang berada di kerumunan yang merubungi Acleo.
Seorang siswa laki-laki datang dari salah satu rombongan itu, berjalan ke arah Acleo dan mengulurkan tangannya untuk Acleo sambil tersenyum. Acleo yang melihat siswa laki-laki yang ingin membantunya dengan mengulurkan tangannya sambil tersenyum langsung memberikan tangannya kepada siswa itu untuk di bantu berdiri kembali. Tetapi bukannya membantu Acleo untuk berdiri kembali ia malah mendorong Acleo dengan kuat hingga tersungkur kaku di tanah.
"Ngapain lo masih sekolah, jualan donat aja sana lo!, ngapain sekolah,buang-buang uang aja buat biaya sekolah lo," ledek siswa yang mendorong Acleo.
*****
Acleo belum bisa melupakan kejadian kemarin tetapi ia mencoba untuk tetap tenang agar bisa fokus dengan pelajaran sekolah hari ini.
Jam istirahat sedang berlangsung, Gavin berjalan menuju meja Acleo yang sedang mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru tadi.
"Mending lo pindah sekolah," usir Gavin
Acleo yang mencoba untuk tidak memperdulikan Gavin itu hanya lanjut asik menulis tanpa memperdulikan nya sedikit pun.
"Semua orang benci lo culun," ketus Gavin
Acleo hanya terdiam melihat wajah Gavin dan setalah itu lanjut asik menulis.
"Leo, kalau lo besok masih datang ke sekolah, liat besok," ancam Gavin tegas tetapi Acleo tetap saja tidak memperdulikan nya.
Malam harinya Acleo mulai terpikirkan kata-kata Gavin saat itu, ia seperti langsung hilang semangat untuk bersekolah nya, tetapi jika ia berhenti untuk sekolah bagaimana dengan masa depannya, bagaimana dengan impian-impian nya, dan bagaimana dengan membahagiakan keluarganya. Acleo mencoba untuk tidak memikirkan nya lagi dan pergi tidur untuk bersiap menghadapi apa yang terjadi di sekolah besok Acleo hanya bisa berpasrah kepada Allah.
Acleo datang ke sekolah dengan rasa sedikit cemas akan apa yang akan ia alami hari ini sejak kejadian kemarin. Acleo berjalan memasuki kelas menggendong tas.
Gavin yang melihat Acleo datang langsung menghampiri meja Acleo dengan wajah kesal.
Gavin langsung mendorong kepala Acleo berulang kali ke meja dengan keras, dan mendorongnya kuat hingga tersungkur di lantai , siswa-siswi yang melihatnya hanya diam saja, karena mereka juga ingin agar Acleo keluar dari sekolah nya.
"Gimana?," tanya Gavin kepada Acleo yang sedang menahan sakit dengan luka di bibir dan dahinya.
"Gue masih mau sekolah," jawab Acleo meringis kesakitan.
"Gue harus bahagiain keluarga gue," Acleo memberitahu niatnya tetap bersekolah kepada Gavin.
"Dasar keras kepala," cibir Gavin tegas.
Seluruh siswa-siswi yang berada di dalam kelas tampak kompak menyiramkan air kepada Acleo air itu sangat dingin karena bersikan es batu di dalamnya sehingga membuat air nya terasa sangat dingin.
"Belum mandi kan lo?, ni di mandiin" Gavin asik menyirami Acleo dengan air dingin itu hingga membuat Acleo merasa sangat kedinginan baju dan tas sekolah nya kini basah di basahi dengan air yang teman-teman Acleo sirami kepadanya. Acleo menahan dinginnya air yang terus menerus di siramkan padanya.
"Belum mandi ni, masih bau kue donat," ledek Aruna siswi perempuan kelas Acleo.
Acleo hanya bisa terdiam kaku merasa kedinginan, pasrah akan perilaku teman-teman nya itu. Ia sudah sangat lemas dengan tubuh nya yang sangat merasa kedinginan dan darah yang terus mengalir dari dahi dan bibirnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
ACLEO
Fiksi RemajaYa, dia adalah Acleo anak laki-laki yang duduk di bangku SMA kelas 11 itu, anak laki-laki yang di paksa untuk selalu kuat, menjadi pelindung untuk keluarga,dan di dewasakan oleh realita kehidupan. Anak laki-laki yang memiliki mimpi yang tinggi, namu...