10. Petrikor

12 5 0
                                    

Acleo kembali ke rumah setelah lelah seharian menimba ilmu di sekolah.

"Tok tok tok. Assalamu'alaikum." Acleo mengetuk pintu rumahnya.

Acleo merasa bingung karena tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Acleo meletakkan telinganya di pintu untuk memastikan apakah ada orang di rumah atau tidak. Terdengar suara tangisan Keyla & Kaila dari dalam rumah.

"Keyla, Kaila. Bukain pintunya dek ini Abang. Kalian kenapa nangis?," seru Acleo sembari melihat kedua adiknya yang sedang menangis di dalam, melalui kaca yang tertutup tirai di dalamnya.

"Ga bisa Abang. Pintunya di kunci." Keyla dan Kaila tampak berusaha membukakan pintu untuk Acleo.

"Bunda kemana dek?,minta tolong Bunda kalau kalian ga bisa bukain nya." Acleo meminta Keyla&Kaila untuk segera memanggil Bunda untuk membukakan pintu.

"Bunda.... ---" Kaila menangis sesenggukan.

"Bunda kemana dek?," Acleo kembali bertanya kepada kedua adiknya dengan perasaan cemas.

"B-bundaa p-ppergii gatauu kemana. Kaila, sama Keyla di sini di kunci." Ucap Keyla sesegukan.

"Bundanya pergi ke mana dek?, tadi Bunda pergi bilang apa sama kalian?," Acleo semakin panik ketika mengetahui kedua adiknya, hanya berdua di rumah.

"Bunda ga bilang apa-apa ke Keyla sama Kaila. Bunda tiba-tiba kunci pintunya dari luar. Keyla sama Kaila takut Abang." mereka meringis ketakutan di dalam.

Acleo menuju halaman belakang rumahnya. Yang terdapat sebuah pintu kedua. Namun, pintu tersebut juga terkunci. Acleo segera berlari kembali ke depan. Ia tidak mempunyai cara lain selain mendobrak pintu . Tidak tau kapan dan jam berapa Bunda akan pulang.

"Keyla, Kaila, minggir dulu ya dek, jangan di dekat pintu. Duduk di kursi aja dek. Duduk anteng ya. Abang mau coba buat nge dobrak pintu ini." seru Acleo menyuruh kedua adiknya untuk tidak dekat dengan pintu.

"Iya Abang." Keyla & Kaila segera bergegas menjauh dari pintu, dan duduk di kursi seperti yang Acleo perintahkan.

"Bismillah." Acleo mengucapkan basmalah dalam hati sembari mencoba mendobrak pintu dengan sekuat tenaganya. Namun, sudah beberapa kali percobaan pintu dengan berbahan kayu jati tersebut tidak kunjung terbuka.

Dengan nafas yang yang tersengal-sengal ia mencoba untuk mendobrak nya.

Acleo sudah sangat lelah. Pintu ini tidak kunjung dapat terbuka. Namun Acleo tidak menyerah begitu saja. Ia terus mencoba dan menarik nafas panjang dan mendobrak nya sekuat tenaganya. Akhirnya, pintu tersebut berhasil terbuka.

Keyla & Kaila langsung berlari memeluk Acleo, menangis ketakutan di pelukannya. Acleo mencoba untuk menenangkan kedua adiknya yang menangis ketakutan.

Setelah memenangkan Keyla dan Kaila cukup lama, Acleo mengajak kedua adiknya untuk menunaikan shalat Maghrib bersama-sama, karena adzan sudah berkumandang menandakan waktu shalat tiba.

Setelah selesai menunaikan shalat bersama kedua adiknya dengan khusyuk. Acleo merasa cemas karena Bunda belum kunjung pulang ke rumah. Acleo ingin mencari Bunda namun, tampak turun hujan di luar. Ia tidak mau kedua adiknya kehujanan dan sakit.

Acleo memutuskan untuk menunggu Bunda sebentar lagi, mungkin saja Bunda masih dalam perjalanan pulang ke rumah.

Hari semakin malam. Namun, Bunda belum kunjung pulang ke rumah, dan hujan semakin turun dengan sangat deras. Acleo semakin khawatir dengan Bunda, dan ia juga tidak tega untuk meninggalkan Keyla dan Kaila hanya berdua di rumah di hujan yang deras ini.

ACLEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang