Sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah besar minimalis. Dengan langkah kaki yang kecil, seorang perempuan yang ternyata Jelita keluar dari mobil itu dan langsung berlari ke rumah tersebut.
"Mitaa!."
Teriakan pertama tidak terjawab.
"Mitaaa Anugerah!."
Krekk.
Pintu didepan Jelita akhirnya terbuka dan orang yang perempuan itu cari menampakkan dirinya walaupun dengan wajah yang datar.
Berbanding terbalik, Jelita langsung mengukir senyum lebar dihadapan Mita karena dia tahu bahwa dia sedang melakukan kesalahan.
"Mita Lo masih marah sama gua?."
"Ya menurut Lo aja."
Jelita menundukkan kepalanya dengan menyesal. Dia tahu kesalahannya di sekolah tadi yang meninggalkan sahabatnya sendiri tanpa memberi tahu alasannya.
"Maafin gua, temen Lo ini emang bego banget."
"maafin gua hikss." Jelas Jelita dengan air mata yang menetes sambil memukul mukul kepalanya sendiri.
Mita yang terlahir sebagai manusia yang tidak bisa marah dengan lama pun langsung menarik tangan Jelita dan membawanya ke pelukannya.
"Sssttt udah jangan nangis, gua tadi agak shock aja sama pilihan Lo tadi."
Pilihan yang Mita maksud ialah ketika Jelita lebih memilih untuk menghampiri Javas dibandingkan kekasihnya sendiri. Itu bukanlah seperti Jelita yang dia kenal.
"Ayo masuk ke kamar gua." Ajak Mita membawa sahabat nya itu masuk kedalam kamarnya.
Didalam kamar berwarna peach yang sangat menandakan seorang Mita, Jelita berbaring dengan masih memakai dress batiknya itu.
Mita duduk disamping Jelita lalu bertanya, "Jadi ada apa?."
"Gua hari ini keliatan beda banget ya?."
"Iya."
Jelita yang mendengar jawaban dari Mita langsung menenggelamkan wajahnya ke bantal karena malu.
"Jadi gak foto sama Arsen?."
Jelita mengangguk dengan wajah yang masih menempel di bantal milik Mita tersebut.
"Gua bingung."
Mita mengerutkan dahinya tidak mengerti, "Bingung kenapa?."
"Apa gua harus ngehindarin dia aja?."
"Javas?."
"Iya."
Mita terkekeh. Jelita yang melihat reaksi sahabatnya itu langsung memperbaiki posisi yang awalnya berbaring kini duduk dengan rapi, "kenapa ketawa coba?."
"Bukannya memang harus begitu?."
Mita mendekatkan dirinya kepada Jelita, "Lo ga seharusnya bingung dengan jawabannya karena bagaimanapun Javas bukan yang seharusnya Lo pilih."
"Lo mau ngehindarin Arsen? Gimana ceritanya kan dia pacar lo Jel."
Jelita dibuat tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Mita. Benar juga untuk apa dia bertanya dengan jawaban yang bahkan ditanyakan kepada dunia pun jawabannya pasti sama.
"Javas mulai mengelabui pikiran lo ya Jel?."
Jelita langsung menyilang kan kedua tangannya, "Engga! Biasa aja kok."
"Kalau gitu jauhin dia."
Jelita terdiam.
Apa dia bisa melakukannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Eighteen (On Going)
FanfictionPerjalanan cinta Jelita yang memasukkannya kedalam situasi dimana harus memilih antara mencintai atau dicintai, "Javas gue tekankan sekali lagi kalau gue milik Arsen! Tahu Batasan Lo, Lo gak harus sejauh ini!." "Lo cinta sama dia? Jawab gue Jel, ja...
