08. Jelita

108 20 0
                                    

"Kriiiingg....kriiiingg..."

Tak terasa waktunya pulang setelah mengabdi selama 8 jam disekolah untuk menuntut ilmu. Satu persatu murid murid berhamburan keluar kelas dengan berbeda beda suasana hati. Ada murid yang terlihat sangat lelah dan memutuskan langsung pulang kerumah untuk merebahkan badannya, dan ada yang senang karena bisa jalan jalan setelah sekolah.

Sama halnya dengan Jelita yang memutuskan tidak pulang terlebih dahulu dan memilih jalan jalan bersama satu satunya sahabatnya, Mita.

Jelita Revalina Maheswari. Perempuan yang baru memasuki 18 tahun beberapa bulan yang lalu ini sangat menyukai jalan jalan. Dia bisa menghabiskan seharian waktunya untuk mencicipi semua titik di kota Bandung. Jelita sangat suka fotografi namun cita cita nya ingin menjadi presenter.

Jelita hanya perempuan biasa yang tertutup dan tidak gila ketenaran. Maka dari itu dia jarang dikenali di sekolahnya selain murid murid ekskul PMR. Namun begitu dia tetap menyukai kehidupannya yang seperti ini karena tidak membuatnya lelah. Cukup satu sahabat yang dia miliki namun sangat pengertian dan persahabatan mereka telah berjalan 9 tahun sejak kelas tiga SD dimana Jelita baru saja menetap di Bandung.

Seperti sekarang, Jika bukan dengan Mita dengan siapa lagi Jelita dapat mengajak orang untuk menemaninya jalan jalan sepulang sekolah untuk melepas penatnya. Arsen saja tidak memiliki waktu untuk perempuan ini.

"Keknya harusnya Lo pacaran sama gua deh Jel daripada sama Arsen."

Dua gadis berseragam sekolah yang sudah Kumal itu tertawa bersama sama sambil berjalan dipinggiran kota dengan angin yang berhembus lebih kencang membuat suasana lebih dingin.

"Lebih banyak ngabisin waktu sama Lo ya daripada pacar gua sendiri haha" Jelita tersenyum kecil. Dirogoh nya tasnya mengambil sebuah kamera polaroid dan mulai mengambil beberapa jepretan.

Jelita sangat suka mengambil foto Mita, karena sahabatnya itu sangatlah cantik sampai dia terkadang heran bagaimana bisa cewek secantik dia tidak memiliki kekasih?.

Mita mengait tangannya ke pergelangan Jelita agar tidak ketinggalan jalannya, "Bahkan bulan ini aja lo lebih sering jalan sama si Javas daripada Arsen."

Jelita kembali tersenyum sambil mengerutkan hidungnya. Benar juga, bulan ini sengaja dan tanpa sengaja Jelita menghabiskan waktunya lebih banyak bersama teman barunya itu daripada kekasihnya sendiri.

"Gua lama gak moto moto" Jelita mengalihkan pembicaraan diantara mereka.

Kedua perempuan cantik itu terlalu menikmati jalannya sampai tidak terasa hari mulai gelap dan langit telah berubah menjadi senja. Namun bukannya pulang mereka memutuskan untuk nongkrong ke angkringan untuk bertukar cerita.

"Uda puas motonya" Tanya Mita. Jelita mengangguk sambil memperlihatkan hasil jepretannya kepada Mita.

"Banyak banget muka gua."

"Foto Lo sama Arsen paling banyak di galeri gua" jawab Jelita lagi.

Mita tertawa menyeggol bahu Jelita. Terlihat malu tapi ada kalanya Mita sendiri yang memaksa Jelita untuk memoto dirinya lebih banyak.

Ditengah istirahat mereka, Terbesit pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Jelita," Btw gimana rasanya temenan sama Javas?," Mita selalu menunggu nunggu untuk melontarkan pertanyaan itu kepada sahabat disebelahnya ini.

Jelita memutarkan matanya sambil berpikir. Dia sudah menghabiskan waktunya hampir sebulan berteman dengan anak IPS tersebut, "Dia gak secuek itu."

Mita sedikit terkejut tapi tetap melanjutkan makannya sambil menunggu Jelita melanjutkan ceritanya.

Eighteen (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang