Chapter 2 : Letter for Adrian

5.4K 214 0
                                        

Tangan Adrian gemetar saat memegang amplop cokelat itu. Matanya terus tertuju pada tulisan di bagian depan amplop, memastikan dirinya tidak salah membaca. Nama itu memang namanya. Tulisan tangan itu juga sangat familiar. Meskipun tidak pernah bertemu langsung dengan ayahnya, Adrian cukup sering melihat tulisan tangan Madrick di beberapa catatan lama yang disimpan Olivya. Bentuk hurufnya sama. Tegas, rapi, dan sedikit miring ke kanan.

Perlahan Adrian membuka bagian ujung amplop. Jantungnya berdetak sangat cepat hingga terasa sakit. Selama ini ia selalu bertanya-tanya tentang ayahnya. Tentang alasan pria itu pergi dan tidak pernah kembali. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan itu.

Namun sebelum ia sempat mengeluarkan isi surat tersebut, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.

"Adrian?"

Tubuh Adrian langsung menegang. Ia membalikkan badan dengan cepat dan mendapati Olivya berdiri di ambang pintu. Wanita itu tampak terkejut melihat dirinya berada di ruang kerja Madrick. Akan tetapi ekspresinya berubah dalam hitungan detik saat menyadari amplop yang sedang dipegang Adrian.

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Tatapan Olivya tidak lepas dari amplop tersebut. Wajahnya perlahan memucat seolah benda itu adalah sesuatu yang tidak pernah ia harapkan untuk ditemukan.

"Darimana kamu mendapatkannya?" tanyanya pelan.

Adrian menunjuk laci meja kerja di belakangnya. "Tadi ada di sana."

Olivya berjalan mendekat dengan langkah lambat. Jemarinya tampak sedikit gemetar. Selama beberapa detik ia hanya memandangi amplop itu tanpa berkata apa-apa. Seakan kenangan lama yang selama ini berusaha ia kubur mendadak kembali muncul begitu saja.

"Mommy tahu surat ini?" tanya Adrian hati-hati.

Olivya mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di kursi kerja Madrick. Untuk sesaat, tatapannya kosong. Ruangan itu membawa terlalu banyak kenangan yang belum siap ia hadapi.

"Daddy menulis surat itu sebelum pergi."

Mata Adrian langsung membesar. "Jadi Daddy memang ninggalin surat buat Ian?"

"Iya."

"Boleh Ian baca sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Olivya kembali terdiam. Ia memandangi amplop tersebut cukup lama. Ada keraguan yang jelas terlihat di wajahnya. Adrian menunggu dengan penuh harap, namun harapan itu perlahan runtuh ketika Olivya menggeleng pelan.

"Belum."

Seketika wajah Adrian berubah kecewa. Jemarinya mengencang di sekitar amplop tersebut. Lagi-lagi jawaban yang sama. Lagi-lagi dirinya diminta menunggu tanpa penjelasan yang jelas.

"Kenapa selalu belum?" tanyanya lirih. "Semua orang bilang belum waktunya. Belum waktunya tahu Daddy di mana. Belum waktunya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang bahkan surat buat Ian juga belum boleh dibaca."

Nada suaranya mulai bergetar. Meskipun masih kecil, Adrian mulai merasa lelah terus-menerus dijauhkan dari jawaban yang ingin ia ketahui.

Olivya menundukkan kepala. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anaknya terluka dan dirinya tidak mampu memberikan jawaban apa pun. Namun ada beberapa hal yang memang belum boleh diketahui Adrian. Setidaknya belum sekarang.

"Mommy cuma nggak mau Ian terluka."

"Aku udah terluka dari dulu."

Kalimat itu langsung membuat Olivya terdiam. Adrian memeluk amplop tersebut erat-erat sambil menahan tangis. Selama enam tahun terakhir ia tumbuh tanpa sosok ayah. Ia harus mendengar ejekan setiap hari dan melihat ibunya diam setiap kali nama Madrick disebut.

THE CASES OF ADRIANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang