Semalaman tidak ada seorang pun yang benar-benar tidur dengan tenang.
Jam tangan tua milik Madrick masih tergeletak di atas meja ruang keluarga. Tidak ada yang berani memindahkannya. Olivya beberapa kali turun dari kamar hanya untuk memastikan benda itu masih ada di tempatnya. Sementara Allcy terus memikirkan pesan misterius yang diterimanya semalam. Semakin ia mencoba menyusun semua petunjuk yang ada, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Pagi harinya, mansion kembali dipenuhi kesibukan seperti biasa. Adrian berangkat ke sekolah dengan semangat yang jauh berbeda dibandingkan kemarin. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memiliki alasan untuk percaya bahwa ayahnya mungkin masih hidup. Meskipun Olivya tidak pernah mengatakannya secara langsung, keberadaan jam tangan itu sudah cukup membuat harapannya tumbuh kembali.
Kringgggg!
Suara bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Allcy, Kate, Elizabeth, dan Jenny berjalan bersama menyusuri koridor sekolah. Kehadiran Elizabeth masih menjadi perhatian banyak siswa. Beberapa orang berbisik saat mereka lewat, sementara yang lain terang-terangan memperhatikan ke arah mereka.
"Tidak biasanya kita dilihatin seperti ini," bisik Kate kepada Jenny.
"Semenjak kita berteman dengan Elizabeth, banyak yang memperhatikan kita," balas Jenny sambil mengangkat bahu.
Elizabeth yang mendengar perkataan itu langsung menoleh. "Eumm... apakah aku melakukan kesalahan karena berteman dengan kalian?"
"Tidak!" seru Kate cepat. "Jangan berpikiran seperti itu."
Mereka kembali melanjutkan langkah menuju kelas. Namun berbeda dengan biasanya, Allcy tampak jauh lebih diam. Pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam. Jam tangan Daddy. Pesan misterius. Dan kemungkinan bahwa seseorang sedang mengawasi keluarganya.
Sesampainya di kelas, Allcy menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan malas. Ia bahkan tidak sempat mengeluarkan buku pelajaran ketika Elizabeth mendekatinya.
"Allcy, nanti aku bisa bicara berdua denganmu?" tanya Elizabeth dengan suara pelan.
Allcy mengangkat kepala.
"Tentang apa?"
Elizabeth melirik ke kanan dan kiri sebelum kembali menatapnya.
"Tentang Daddy-ku."
Allcy langsung menegang.
"Dan... tentang Papa-mu."
Jantung Allcy berdegup lebih cepat.
Sejak semalam dirinya memang ingin menghubungi Elizabeth. Keluarga Midleton adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki saat ini. Karena berdasarkan cerita yang pernah ia dengar, Madrick beberapa kali bekerja bersama Frans Midleton sebelum menghilang enam tahun lalu.
"Ada apa?" tanya Allcy.
Elizabeth tampak ragu.
"Daddy menyuruhku menyampaikan sesuatu. Tapi lebih baik kita bicara setelah pulang sekolah."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Misteri / ThrillerTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
