Adrian duduk diam di balik kemudi mobilnya. Mesin kendaraan masih menyala, tetapi ia belum juga berani keluar. Cahaya lampu sekolah yang redup terlihat dari kejauhan, membuat suasana malam terasa semakin sunyi dan tidak bersahabat. Jarinya mengetuk setir tanpa sadar. Semakin dekat waktu yang ditentukan, semakin besar pula keraguan yang muncul di dalam dirinya.
Ponsel yang berada di kursi sebelah menyala sesaat. Live location yang ia kirim beberapa menit lalu sudah diterima. Adrian mengembuskan napas panjang sebelum mengambil kunci mobil dan keluar dari kendaraannya. Udara malam terasa dingin menerpa wajahnya. Area sekolah terlihat kosong. Tidak ada penjaga. Tidak ada siswa. Hanya bangunan-bangunan yang berdiri diam di bawah cahaya bulan.
Langkah Adrian perlahan membawa dirinya menuju gudang belakang sekolah. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket. Matanya terus bergerak mengamati sekitar, berusaha memastikan tidak ada seseorang yang mengawasinya dari balik kegelapan. Namun semakin dekat ia menuju gudang, semakin kuat perasaan tidak nyaman yang menggerogoti pikirannya.
"Aku benci bagian ini..." gumamnya pelan.
Ia akhirnya sampai tepat di depan pintu gudang. Cat besi yang mengelupas dan engsel berkarat membuat bangunan itu tampak jauh lebih menyeramkan daripada siang hari. Adrian menelan ludah. Perlahan tangannya terulur menuju gagang pintu.
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan malam.
Tubuh Adrian refleks merunduk.
Kedua tangannya langsung menutupi kepala.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan kembali terdengar berturut-turut.
Jantung Adrian berdetak begitu keras hingga seolah ingin meloncat keluar dari dadanya. Insting bertahan hidupnya mengambil alih sepenuhnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan berjongkok di samping tembok gudang.
"Sial..." desisnya pelan.
Dor!
Satu peluru menghantam dinding tidak jauh dari posisinya. Pecahan semen berhamburan mengenai bahu dan rambutnya.
Adrian memejamkan mata beberapa detik.
Untuk pertama kalinya sejak mulai bermain detektif, ia benar-benar merasa nyawanya berada di ujung tanduk.
Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Cepat.
Bergegas.
Disusul suara teriakan yang sangat ia kenal.
"ADRIAN!"
Mata Adrian langsung terbuka.
Ia mengenali suara itu.
Madrick.
Dor!
Tembakan kembali terdengar.
Kali ini disusul suara balasan tembakan dari arah lain.
Adrian mengangkat kepalanya sedikit dan melihat beberapa sosok berlarian dari area parkir menuju gudang.
Salah satu di antaranya adalah Madrick.
Pria itu bergerak cepat sambil berlindung di balik pilar beton. Wajahnya dipenuhi amarah yang jarang sekali terlihat.
"ADRIAN! TETAP DI BAWAH!"
Bentakan itu membuat Adrian spontan kembali merunduk.
Di belakang Madrick, muncul Alex yang napasnya sudah tidak beraturan akibat berlari terlalu cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Misterio / SuspensoTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
