Adrian melempar tas sekolahnya ke atas meja belajar begitu memasuki mansion. Tubuhnya jatuh ke sofa ruang keluarga dengan kasar. Ia mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata beberapa saat. Hari ini melelahkan. Kasus yang sedang ia selidiki belum menemukan titik terang, sementara tugas sekolah terus berdatangan tanpa ampun. Namun setelah beberapa menit berlalu, Adrian mulai menyadari sesuatu yang janggal. Mansion ini terlalu sepi.
"Mommy?" panggilnya sambil bangkit dari sofa. Tak ada jawaban.
"Allcy?" serunya lagi sedikit lebih keras. Tetap tidak ada sahutan. Kening Adrian berkerut. Biasanya mansion sebesar ini tidak pernah benar-benar sunyi.
Selalu ada suara langkah para maid, suara televisi, atau setidaknya suara Allcy yang sedang berbicara di telepon. Tapi sekarang, suasananya terasa kosong seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya.
Perasaan tidak nyaman mulai menjalar di dadanya. Adrian mengambil tasnya lalu berjalan menuju lantai dua. Langkahnya semakin cepat ketika firasat buruk mulai muncul tanpa alasan yang jelas. Sesampainya di koridor atas, ia langsung menuju kamar Olivya dan mengetuk pintu beberapa kali.
"Mommy? Apa Mommy ada di dalam?" tanyanya. Namun yang menyambutnya hanyalah kesunyian.
Adrian membuka pintu kamar itu perlahan. Ruangan luas tersebut tampak kosong. Tempat tidur rapi, tirai tertutup setengah, dan tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja berada di sana. Adrian melangkah masuk beberapa langkah sambil menyapu ruangan dengan tatapan tajam.
"Mommy?" panggilnya sekali lagi. Tepat saat itulah seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Ian, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya suara yang sangat ia kenal.
Adrian langsung berbalik dan mendapati Allcy berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Kak! Kau membuatku hampir terkena serangan jantung." gerutunya kesal. Allcy justru tertawa kecil.
"Lagian, ngapain mengendap-endap di kamar Mommy? Jangan-jangan mau mencuri sesuatu?" godanya.
"Aku terlihat seperti pencuri?" balas Adrian sambil memutar bola matanya.
Ia kemudian menutup pintu kamar Olivya dan menatap kakaknya. "Kak, kenapa mansion ini sepi sekali? Tidak biasanya seperti ini."
Allcy mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu. Aku baru saja pulang dari café." Adrian menyipitkan matanya.
"Café? Jangan bilang habis kencan."
Allcy langsung mendengus. "Aku cuma minum kopi."
Sebelum Adrian sempat membalas, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Mereka berdua menoleh bersamaan dan mendapati Berta berjalan mendekat. Kepala maid itu terlihat sedikit gugup.
"Syukurlah kalian sudah pulang." ujarnya. Adrian langsung melangkah maju.
"Ada apa? Kenapa mansion seperti rumah kosong?" tanyanya tanpa basa-basi.
Berta terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang. "Aku harus menyampaikan sesuatu." katanya.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat Adrian semakin tidak nyaman. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Katakan saja." Berta menatap Adrian dan Allcy bergantian sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat keduanya membeku.
"Kita akan pindah."
"Pindah?" ulang Allcy tidak percaya. Adrian bahkan mengira dirinya salah dengar. Berta mengangguk pelan.
"Kita akan pindah ke Los Angeles." Kali ini Adrian benar-benar terdiam. Selama beberapa detik, otaknya seperti menolak memproses informasi tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Gizem / GerilimTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
