Keesokan harinya, Adrian berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Langkahnya terlihat santai, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak. Kepindahan mendadak ke Los Angeles terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang tak berhenti mengulang lagu yang sama.
Dari kejauhan, Alex melambaikan tangannya sambil membawa dua kaleng minuman dingin. "Hei, Sherlock!" teriaknya. Adrian hanya mengangkat satu tangannya sebagai balasan. Alex langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi sahabatnya itu. Biasanya Adrian selalu terlihat tenang, bahkan ketika sedang memikirkan kasus pembunuhan sekalipun. Namun hari ini wajahnya tampak jauh lebih kusut.
"Kau terlihat seperti baru kehilangan seluruh uang tabunganmu." ujar Alex sambil menyerahkan satu kaleng minuman. Adrian menerimanya tanpa banyak bicara. Mereka berjalan menuju taman kecil yang berada tidak jauh dari sekolah. Tempat itu sudah menjadi lokasi favorit mereka sejak tahun pertama masuk International Middle School.
"Aku akan pindah." ucap Adrian tiba-tiba.
Langkah Alex langsung terhenti.
"Hah?"
"Aku akan pindah ke Los Angeles."
Kaleng minuman yang baru saja dibuka hampir terlepas dari tangan Alex.
"Tunggu, apa?"
"Aku pindah."
"Kau baru saja mengatakan itu."
Adrian mengangguk.
Alex menatapnya selama beberapa detik seolah menunggu kalimat lanjutan yang menjelaskan bahwa semuanya hanyalah lelucon. Namun Adrian tidak tertawa. Tidak ada senyum jahil. Tidak ada tanda-tanda bercanda.
"Kapan?"
"Dua hari lagi."
"Dua hari?!"
Beberapa burung yang sedang bertengger di pohon sampai terbang karena suara Alex yang terlalu keras.
"Pelan sedikit." gerutu Adrian.
"Bagaimana aku bisa pelan? Kau baru saja mengatakan akan pindah ke negara lain dalam dua hari!"
Mereka kembali berjalan hingga tiba di bangku taman. Adrian duduk terlebih dahulu, diikuti Alex yang masih terlihat tidak percaya.
"Kenapa?" tanya Alex.
Adrian terdiam beberapa saat.
Kemudian untuk pertama kalinya, ia menceritakan semuanya.
Tentang Madrick.
Tentang kasus yang akhirnya ditutup.
Tentang keputusan pengadilan.
Tentang pengasingan dari Italia.
Dan tentang Los Angeles.
Alex mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama cerita itu berlanjut, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Namun untuk kali ini, ia memilih diam sampai Adrian selesai berbicara.
"Jadi..." ujar Alex setelah beberapa saat. "Ayahmu ternyata tidak menghilang begitu saja."
"Tidak."
"Dan dia tidak masuk penjara."
"Tidak."
"Dan sekarang seluruh keluargamu harus pindah."
Adrian mengangguk pelan.
Alex mengembuskan napas panjang.
"Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih."
"Aku juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Misteri / ThrillerTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
