Beberapa minggu berlalu sejak hari pertama Adrian menginjakkan kaki di International Middle School. Masa-masa canggung sebagai murid baru perlahan menghilang. Ia mulai mengenal lingkungan sekolah, para guru, dan tentu saja teman-teman sekelasnya. Namun dari semua orang yang ia temui, Alex O'Brien adalah satu-satunya yang berhasil menjadi sahabat dekatnya dalam waktu singkat.
Pagi itu, Adrian berjalan memasuki gerbang sekolah bersama Alex. Keduanya terlibat perdebatan tidak penting tentang siapa yang lebih cepat menyelesaikan soal matematika minggu lalu. Menurut Adrian, dirinya menang mutlak. Menurut Alex, gurunya hanya terlalu menyukai tulisan Adrian yang rapi.
"Itu namanya iri." kata Adrian.
"Itu namanya realistis."
"Kau tidak bisa menerima kekalahan."
"Kau juga."
Perdebatan mereka berakhir saat seorang guru melintas dan menyuruh mereka segera masuk kelas. Keduanya langsung tertawa dan mempercepat langkah menuju gedung utama.
Di balik wajah santainya, sebenarnya ada satu hal yang belakangan ini sering memenuhi pikiran Adrian. Bukan tentang sekolah. Bukan tentang nilai pelajaran. Melainkan tentang seseorang yang sudah lama tidak ia lihat.
Madrick Vallencio.
Ayahnya.
Sudah enam tahun berlalu sejak malam itu.
Malam ketika Mad tiba-tiba muncul kembali di mansion setelah menghilang begitu lama. Adrian masih mengingat semuanya dengan sangat jelas. Pelukan hangat itu. Suara berat yang memanggil namanya. Dan janji sederhana yang diucapkan sebelum mereka berpisah lagi.
"Aku akan pulang."
Namun ternyata, malam itu justru menjadi pertemuan terakhir mereka.
Beberapa hari setelahnya, Mad kembali menghilang.
Tidak ada surat.
Tidak ada telepon.
Tidak ada kabar.
Bahkan keberadaannya seolah ditelan bumi.
Saat Adrian masih kecil, ia sering bertanya kapan ayahnya akan kembali. Namun seiring bertambahnya usia, pertanyaan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan.
Apakah Mad masih hidup?
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar terjawab.
Olivya selalu berusaha terlihat tenang setiap kali nama Mad disebut. Allcy juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua seakan menyimpan sesuatu yang tidak pernah ingin mereka ceritakan kepada Adrian.
Dan Adrian cukup pintar untuk menyadari hal itu.
"Kau melamun lagi."
Suara Alex membuyarkan pikirannya.
"Hm?"
"Kau melamun."
"Aku hanya berpikir."
"Bahaya."
Adrian memutar bola matanya.
"Kenapa bahaya?"
"Karena biasanya orang yang terlalu banyak berpikir akan membuat masalah."
"Kau baru mengenalku beberapa minggu."
"Dan aku sudah mengenalmu cukup baik."
Adrian hanya terkekeh pelan.
Mereka memasuki kelas tepat ketika guru sejarah datang membawa setumpuk buku. Pelajaran dimulai seperti biasa. Namun perhatian Adrian tidak sepenuhnya berada di dalam kelas. Sesekali pikirannya kembali melayang pada sosok yang sudah lama menghilang dari kehidupannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Mystère / ThrillerTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
