Chapter 15 : Needle In a Sock

4.1K 137 7
                                        

4 Tahun Kemudian

"Alex, aku butuh bantuanmu."

Seorang remaja laki-laki berambut hitam berjalan cepat menyusuri koridor sekolah sambil menarik lengan sahabatnya. Adrian Vallencio yang kini berusia enam belas tahun terlihat jauh lebih tinggi dibanding empat tahun lalu. Tatapan matanya tajam dan fokus, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.

"Kamu mau membawaku ke mana lagi kali ini?" keluh Alex sambil berusaha melepaskan tangannya. "Aku bahkan belum selesai makan siang."

"Aku sedang mencari sesuatu."

"Apa?"

"Sebuah bukti."

Alex langsung menghentikan langkahnya.

"Bukti apa?"

Adrian menoleh sekilas.

"Kasus pembunuhan."

Alex memejamkan matanya beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang.

"Tentu saja pembunuhan. Kenapa bukan tugas matematika atau lomba sains seperti remaja normal lainnya?"

Adrian kembali berjalan.

"Karena tugas matematika tidak membunuh orang."

Alex menggerutu pelan sebelum akhirnya ikut menyusul.

Mereka memasuki sebuah ruang kelas kosong yang belum digunakan. Adrian segera meletakkan beberapa lembar foto dan catatan di atas meja. Alex memperhatikannya dengan bingung.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau terobsesi membantu polisi."

"Aku tidak membantu polisi."

"Lalu?"

"Aku membantu diriku sendiri menemukan jawaban."

Alex menduduk di atas meja sambil melipat kedua tangan.

"Kedengarannya sama saja."

Adrian mengabaikannya.

Sejak kecil ia memang seperti itu. Jika sebuah misteri muncul di hadapannya, pikirannya tidak akan tenang sebelum menemukan jawabannya.

"Kau harusnya memikirkan hal lain." ujar Alex tiba-tiba.

"Misalnya?"

Alex terdiam sesaat.

"Daddy-mu."

Ekspresi Adrian langsung berubah.

Suasana yang tadinya santai mendadak terasa dingin.

"Jangan."

Alex mengernyit. "Aku cuma—"

"Aku bilang jangan." potong Adrian dengan cepat.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Adrian berjalan mendekati jendela kelas dan menatap lapangan sekolah di luar sana.

"Dia berjanji akan kembali." ucapnya pelan.

Alex tidak menyela.

"Dia bilang semuanya akan selesai. Dia bilang keluarganya tidak perlu menunggu terlalu lama." Adrian tertawa kecil, tetapi tidak ada humor dalam tawanya. "Dan sekarang sudah sepuluh tahun."

Alex menundukkan pandangannya.

Ia tahu betul bahwa topik ini selalu menjadi luka bagi sahabatnya.

"Aku bahkan tidak tahu di mana dia sekarang." lanjut Adrian. "Aku tidak tahu apakah dia masih hidup. Tidak tahu apakah dia masih berada di negara yang sama. Tidak tahu apa pun."

THE CASES OF ADRIANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang