Chapter 21 : Shooting

1.1K 51 2
                                        

Adrian dan Alex masih belum juga mengambil makanan yang telah disediakan di kantin. Mereka masih asik bertukar cerita.

Adrian, ia mulai menceritakan yang belum pernah ia ceritakan pada siapapun. Kini, Alex lah yang akan menjadi satu-satunya orang yang tau akan cerita ini.

Setahun yang lalu...

Malam itu mansion Vallencio terasa begitu sunyi. Adrian yang baru berusia lima belas tahun duduk sendirian di kamarnya. Hujan turun cukup deras di luar jendela, sementara sebuah amplop cokelat tua tergeletak di atas meja belajarnya. Amplop itu pernah ditinggalkan Madrick bertahun-tahun lalu dan baru hari itu Adrian memberanikan diri membukanya. Selama ini ia selalu mengabaikannya karena merasa tidak membutuhkan penjelasan apa pun dari pria yang telah meninggalkan keluarganya.

Dengan perasaan campur aduk, Adrian membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang telah menguning di bagian sudutnya. Tulisan tangan Madrick memenuhi halaman pertama.

"Jika suatu hari kau membaca surat ini, mungkin kau sudah cukup besar untuk memahami alasan kepergianku."

Adrian membaca setiap kalimat dengan perlahan. Semakin jauh ia membaca, semakin berat pula perasaannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengetahui siapa sebenarnya Madrick Vallencio sebelum menjadi ayahnya.

Seorang mafia.

Bukan mafia biasa.

Melainkan seseorang yang pernah memerintah, menghukum, dan menghabisi banyak nyawa tanpa belas kasihan.

Tak ada rincian nama korban. Tak ada kisah panjang mengenai masa lalu itu. Namun beberapa kalimat yang ditulis Madrick sudah cukup membuat Adrian memahami semuanya. Pria itu mengakui bahwa dirinya telah melakukan banyak hal yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum maupun moral. Ia mengaku bahwa kepergiannya bukan karena tidak mencintai keluarganya, melainkan karena ia takut masa lalunya akan menyeret Olivya, Allcy, dan Adrian ke dalam bahaya yang sama.

Malam itu Adrian tidak menangis.

Ia hanya duduk diam sambil memandangi surat tersebut selama berjam-jam.

Untuk pertama kalinya, kebenciannya berubah bentuk.

Dulu ia membenci Madrick karena merasa ditinggalkan.

Kini ia membenci Madrick karena mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Dan sejak malam itu, setiap kali mendengar nama Madrick Vallencio, Adrian selalu teringat pada satu kalimat yang tertulis di surat tersebut.

"Aku tidak meminta untuk dimaafkan."

***

American Main High School, Los Angeles.

Suasana kantin sekolah sedang ramai oleh para siswa yang menikmati jam makan siang. Hari pertama Adrian di sekolah baru rupanya cukup menarik perhatian banyak orang. Selain karena dirinya murid baru, rumor tentang keberaniannya menghadapi salah satu siswa populer di sekolah juga mulai menyebar ke berbagai sudut kampus.

"Adrian, aku khawatir kalau terlalu banyak orang tahu tentang latar belakangmu." bisik Alex saat mereka membawa nampan makan siang menuju salah satu meja kosong.

"Mommy pasti sudah mengurus semuanya. Tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya."

"Kuharap begitu."

Mereka memilih meja paling ujung dekat jendela besar kantin lantai dua. Posisi itu membuat mereka bisa melihat hampir seluruh area lapangan sekolah di bawah sana. Suasana cukup tenang. Beberapa siswa sedang bermain baseball, sementara sekelompok cheerleader berlatih di pinggir lapangan.

THE CASES OF ADRIANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang