07.00 PM., Los Angeles, California.
Suara ketukan lima jari di atas meja kayu menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan sebuah kafe kecil di ujung jalan. Tempat itu hampir kosong. Hanya ada dua pria berjas panjang yang duduk saling berhadapan di sudut ruangan paling gelap. Topi koboi yang mereka kenakan menutupi sebagian besar wajah mereka, menyisakan rahang dan bibir yang sesekali bergerak. Tidak ada yang tahu siapa mereka. Bahkan pelayan kafe pun memilih untuk tidak terlalu memperhatikan keberadaan keduanya.
Salah satu pria memainkan jemarinya di atas meja dengan ritme teratur. Ketukannya terdengar seperti hitungan mundur yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Sementara pria di depannya duduk diam dengan kedua tangan terlipat, mengawasi setiap gerakan kecil yang terjadi di sekeliling mereka.
"Kamu pikir, dia akan datang?" tanya pria yang mengetukkan jarinya tanpa memalingkan tatapan.
"Sayangnya, pasti." jawab pria di depannya.
Keheningan kembali turun. Lampu kuning redup menggantung di langit-langit kafe, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti arah angin dari ventilasi tua. Beberapa pelanggan yang tersisa memilih segera pergi karena merasa tidak nyaman dengan suasana yang tiba-tiba terasa berat.
Jari telunjuk pria pertama masih bergerak perlahan di atas meja.
Tok.
Tok.
Tok.
Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Permainan mereka akan segera dimulai.
"Pastikan, anak itu benar-benar datang. Karena kedatangannya saja, bisa membuat kita kaya."
Pria satunya mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan.
"Kenapa mereka sangat menginginkan anak itu? Padahal bukan dia target utama."
Tatapan pria kedua bergeser menuju jam dinding yang tergantung di sisi ruangan. Jarum detik terus bergerak tanpa peduli pada percakapan mereka.
"Berita hari ini menayangkan penembakan di sekolah."
Ia kembali menatap lawan bicaranya.
"Polisi mendapatkan terlalu banyak informasi hanya dari satu anak."
"Kamu pikir dia ancaman?"
"Bukan aku."
"Lalu?"
"Mereka."
Keheningan kembali hadir.
Pria pertama mengangkat gelas kecil berisi alkohol dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Tak ku sangka mereka takut pada seorang anak kecil."
Kali ini pria satunya tertawa pelan.
Tawa yang tidak terdengar menyenangkan.
"Jangan sampai mereka mendengar ucapanmu."
Kenapa?
Karena untuk organisasi sebesar itu, rasa takut bukanlah kelemahan.
Melainkan alasan untuk membunuh lebih cepat.
Pria itu bangkit dari duduknya. Ia merapikan ujung jas hitamnya yang sedikit kusut sebelum berjalan menuju pintu keluar.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti sejenak.
"Dan, jangan pernah meremehkan semut merah kecil."
Ia menoleh sedikit.
"Sekali dia menggigit, ruamnya akan menyebar begitu cepat."
Pintu kafe terbuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE CASES OF ADRIAN
Misterio / SuspensoTidak setiap petunjuk mengarah pada kebenaran. Terkadang, justru kebenaran mengarah pada bahaya. *** Saat orang lain sibuk menikmati masa sekolah mereka, Adrian Vallencio justru sibuk memecahkan misteri. Semuanya berawal dari sebuah petunjuk kecil...
